Iman kepada Hari Akhir

Yang dimaksud beriman kepada Hari Akhir yakni percaya pada adanya hidup setelah kematian, meliputi adanya kehidupan di alam barzah (alam kubur), hari kehancuran semesta (kiamat qubro, kiamat besar), hari kebangkitan dari alam kubur, hari pemeriksaan dan penghitungan amal (hisab), hari penimbangan dan pengadilan, tugas melewati titian yang membentang dari mahsyar (padang tempat pengadilan) di satu ujung dan di ujung lainnya membentang surga serta di bawahnya jurang neraka menganga, adanya surga dan neraka. Dalam urutan rukun iman, beriman kepada hari akhir ini berada pada urutan keenam.

 

Tahapan kehidupan kita pada mulanya ialah di zaman/alam azali, ketika kita masih berbentuk ruh tanpa badan. Di sanalah segala perjanjian kita dengan Tuhan ditulisankan: umur, rezeki, jodoh, hubungan kekerabatan dengan ruh-ruh lainnya (yang satu jadi anak, lainnya jadi orang tua, dan sebagainya). Ketetapan itulah yang disebut takdir. Satupersatu, sesuai dengan takdir, ruh-ruh kita secara bergiliran dimasukkan ke dalam janin sebelum memasuki tahapan kehidupan berikutnya, yaitu kehidupan di dunia. Tahapan kehidupan di dunia ini adalah fase paling pendek diantara tahapan kehidupan sebelumnya (alam azali) dan sesudahnya (alam barzah/kubur, hari kebangkitan, hari pengadilan, dan kehidupan abadi di surga/neraka). Meskipun berfase paling pendek, tahapan kehidupan di dunia ini menentukan bahagia atau duka-cita kita pada tahapan kehidupan berikutnya.

Iman kepada Takdir Allah

Imam At Tirmidzi meriwayatkan satu hadits yang sudah sangat populer, kurang-lebih artinya berbunyi,”Tidaklah seorang hamba beriman -secara sempurna- hingga dia beriman pada takdir, takdir baik atau takdir buruk, dan hingga dia meyakini bahwa apa saja yang menjadi kepastian (takdir) bagi dirinya tak akan bisa dihindarkan dari dirinya, serta apa saja yang bukan menjadi kepastian (takdir) bagi dirinya tak akan bisa mengenai dirinya. Dalam redaksi kalimat yang berbeda, Allah kurang lebih telah berfirman di dalam Al Qur’an yang artinya, “…Bahkan tiada selembar daun yang gugur kecuali telah tertuliskan dalam Buku Catatan (takdir)…”

 

Persoalan iman kepada takdir (kepastian, ketentuan, keputusan) Allah merupakan topik yang rumit dan berbahaya. Saking rumit dan berbahayanya, dengan penuh kasih Rasulullah sendiri sampai memperingatkan, bahwa banyak mengotak-atik perihal takdir itu termasuk penyakit nifak/munafik. Na’udzubillaah. Pembicaraan topic takdir ini pula yang menjadi sebab munculnya aliran yang sering disebut dengan Qodariyah, Mu’tazilah dan Ahlus Sunah Wal Jama’ah.

 

Iman kepada Kitab – kitab Allah

Dalam urut-urutan rukun Iman, mengimani atau mempercayai kitab-kitab Allah atau buku-buku suci yang diturunkan Allah kepada para nabi, menempati urutan ketiga. Setelah beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, seorang muslim wajib mengimani kitab-kitab Allah Secara imaniah, pada masa manusia masih berbentuk ruh semata (zaman azali), terjadilah perjanjian antara arwah (ruh-ruh) dengan Tuhan. Al Qur’an mengisahkan yang kurang lebihnya: “..Tuhan bertanya: Adakah Aku sesembahan kalian? Arwah menjawab: Kami bersaksi…” Selanjutnya, terjadilah kesepakatan antara arwah dengan Tuhan mengenai nasib mereka kelak ketika dihidupkan di dunia; pilihan jenis kelamin, jodoh, ikatan ruh satu dengan ruh lainnya (sebagai anak, pasangan hidup, orang tua, kakek, nenek ), jumlah rejeki, usia, jenis cobaan, dan sebagainya. Demikianlah takdir dituliskan. Tuhan hanya menuntut satu hal: apapun dan bagaimana pun kesepakatan itu, manusia harus menyembah kepada-Nya, karena itulah tujuan mereka diciptakan.

 

Iman kepada Malaikat – Malaikat Alloh

Para ulama sepakat, bahwa mengimani keberadaan malaikat hukumnya wajib. Dalam urutan rukun-rukun iman yang jumlahnya 6 (menurut madzhab sunni) atau 7 (menurut madzhab syi’i) dan cabang-cabang keimanan yang jumlahnya sekitar 78, beriman kepada malaikat ini menempati urutan kedua. Mengimani keberadaan malaikat merupakan bagian dari mengimani hal-hal gaib, hal-hal yang tak terdeteksi penglihatan mata. Sebagai salah satu jenis makhluk Allah, malaikat diciptakan untuk selalu taat kepada perintah serta tujuan penciptaan-Nya dan sama sekali tak pernah ber-maksiat kepada-Nya. Hal itu disebabkan malaikat tidak diberi nafsu, seperti nafsu seks, makan, minum, memiliki, dan sebagainya.

Iman kepada Alloh

Hanya orang-orang yang memperoleh hidayah (petunjuk) dan taufik (pertolongan) Allah saja yang dapat beriman kepada-Nya. Alam semesta dengan segenap keajaiban sekaligus keteraturannya, ayat-ayat Al Qur’an yang tak tertandingi dari segala segi, akal yang sangat canggih, semuanya tak berarti apa-apa bagi orang yang tak mendapat bagian dari hidayah dan petunjuk-Nya. Sungguh ajaib orang yang tak beriman, tapi lebih ajaib lagi orang bisa beriman, demikian salah satu ungkapan klasik.

 

Mengapa seseorang memperoleh taufik dan hidayah-Nya, sementara orang lain tidak? Allah berulangkali dalam firman-Nya telah berjanji: siapa saja yang bersungguh-sungguh memohon, pasti diberi. Kriteria bersungguh-sungguh disini sangat kompleks, namun secara praktis ditandai dengan keinginan baik (positif) bagi diri dan yang lainya: manusia, hewan, tetumbuhan, alam sekitar. Adapun keinginan positif ini bisa meliputi kasih-sayang, kerendah-hatian, kesantunan, kearifan, kejujuran, kecerdasan, keadilan, kedermawanan, dan mementingkan yang lainnya dibandingkan diri sendiri. Demikianlah muncul istilah sodaqoh (pembenaran), maksudnya: jalan kebenaran. Kisah pencarian Nabi Ibrahim yang terekam dalam Al Qur’an relevan kita baca kembali. Seseorang yang tidak bersungguh-sungguh, berkeinginan negatif bagi diri dan yang lainnya, merupakan kebalikan dari syarat memperoleh hidayah dan taufik-Nya.

Islam Itu Soal Kualitas, Bung!

“Hikmah (semua kualitas) itu milik orang beriman yang tercecer, dimana pun kalian temukan, pungutlah!” Demikianlah kurang lebih arti dari sabda Nabi Muhammad SAW yang sudah sangat populer. Maksudnya, yang sesuai dengan “iman” atau “islam” itu kriterianya

adalah kualitas, yang terbaik. Terbaik untuk semesta alam, karena memang Islam itu rahmat/kasih bagi semesta alam sesuai sabda Nabi SAW yang juga sudah sangat terkenal.

 

Kualitas atau yang terbaik di sini sesuai dengan tinjauan semua segi dan zaman, termasuk logika dan estetika. Berangkat dari simpul sederhana inilah seharusnya kita memahami sosok pribadi tokoh-tokoh Islam mulai dari pribadi paling tinggi kualitasnya yakni Nabi Muhammad SAW -sebagaimana difirmankan Allah SWT: dalam diri Beliau itulah suri tauladan terbaik dan ditegaskan para sahabat bahwa Beliau itu berakhlaq Al Qur’an- dan tokoh-tokoh legendaris lainnya, juga teks-teks dalam Islam: Al Qur’an, Hadits, dan ijma para salafus solihin. Jika tidak demikian, kemungkinan “salah paham” dalam mengapresiasi tokoh dan membaca arti teks tersebut menjadi sangat terbuka, sebagaimana akhirakhir ini sering kita melihat gejala-gejalanya.

 

Tersesat Masuk surga

Semboyan “Tersesat Masuk Surga” membuat banyak orang menduga-duga maksudnya: Mau bikin aliran sesat? Mau membela aliran sesat? Atau bagaimana? Jangan asal bikin semboyan, brow! Semboyan tersebut memang slengekan, lebih tepatnya guyon maton, tapi tidak asal-asalan, tidak asal ngawur dan ada dasarnya. Kelihatan gaul dan bikin penasaran. Apa dasarnya? Ada peristiwa, kurang-lebihnya begini: Suatu ketika, Nabi SAW bersabda kepada para sahabat, ”tidak ada orang yang pantas masuk surga karena amal baiknya”. Para Sahabat heran, dan bertanya: “Termasuk kami, para sahabatmu ini, Ya Rasul?” Nabi menjawab: “Termasuk kalian juga”. Sahabat makin heran dan ketakutan, lantas bertanya lagi: “Bagaimana dengan dirimu,Ya Nabi?”