Sholawat Nabi

“Sungguh Allah melimpahkan sholawat dan para malaikat memohonkan sholawat untuk Nabi SAW, maka wahai orang-orang yang beriman, bacakanlah (mohonkanlah) sholawat untuknya…” Potongan ayat ini hampir pasti dibacakan para khotib pada khutbah bagian kedua. Karena telah dilimpahi sholawat oleh Allah dan dibacakan sholawat para malaikat, logisnya Nabi SAW sudah turah/berkecukupan sholawat. Jadi, kitalah yang butuh membacakan sholawat kepada beliau. Mengapa? Setiap sekali kita membacakan sholawat untuk beliau, Allah melimpahkan sholawat buat kita minimal sepuluh kali.

 

Mengagungkan Nabi SAW

Pribadi Nabi Muhammad SAW yang teduh, anggun, kasih dan agung secara objektif diakui baik oleh orang non-Islam maupun orang Islam. Michael J Hart seorang ilmuwan non-Islam, menempatkan Muhammad SAW dalam urutan 100 tokoh paling berpengaruh di dunia dalam urutan pertama. Syeikh Nawawi Al Bantani menempatkan pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai cabang keimanan yang ke 9 diantara keseluruhan cabang-cabang keimanan yang menurut beliau ada 77. Mengagungkan, adalah tingkatan lebih tinggi sekaligus campuran dari menghormati, menyayangi dan mencintai. Ada pula unsur kerinduan dan keinginan untuk meniru perilaku yang diagungkan. Ibarat si A mengidolakan si B, tentulah si A berusaha mati-matian meniru apa saja yang dilakukan oleh si B. Termasuk pula unsur ketaatan sekalian ketakjuban. Jika mencermati sejarah kehidupan beliau secara objektif, adakah orang berakal yang berani untuk tidak mengagungkan? Bahkan musuh yang paling membenci sekalipun, sejujurnya tergetar oleh keagungan beliau SAW. Hanya orang-orang yang tidak cerdas dan tidak jujur sajalah yang tidak mau mengagungkan beliau SAW.

 

Cinta Nabi dan Rasulnya

Mencintai Allah dan Rasulullah Muhammad SAW, dalam kitab Futuhul Madaniyyah karya Syeikh Nawawi Al Bantani ditempatkan pada urutan ketujuh diantara cabang-cabang keimanan yang dalam kitab atau buku tersebut disebutkan tujuhpuluh tujuh cabang. Selanjutnya, Syeikh Nawawi mengutip hadits yang diriwiyatkan dua guru -Imam Buchori dan Muslim- bahwa Rasulullah telah bersabda yang kurang-lebih artinya; “Tiga perkara, siapa saja yang dirinya mengandung tiga perkara, dia akan menemukan manisnya iman”

(1) mencintai Allah dan Rasulullah melebihi kecintaannya kepada selain keduanya,

(2) mencintai seseorang semata-mata karena dan dalam koridor (perintah) Allah,

(3) benci kalau sampai kembali ke dalam kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana dia benci kalau sampai dicemplungkan ke dalam neraka.

 

Cinta dan Benci Karena Allah

Tali iman yang paling kokoh ialah bilamana engkau suka karena Allah dan benci karena Allah, begitulah kira-kira sabda Nabi yang telah diriwayatkan Imam Ahmad. Suka atau cinta dan benci karena Allah dalam urut-urutan cabang keimanan, oleh Syeikh Nawawi Al Bantani ditempatkan pada urutan ke delapan. Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengutip salah satu doa Nabi yang kurang-lebih artinya: “Ya Allah, anugrahilah diriku (rasa) cinta kepadaMu, kepada orang-orang yang mencintaiMu dan orang-orang yang mendekatkan diriku kepada mencintaiMu”. Cinta menurut para ahli tasawuf adalah puncak dari upaya pendekatan diri kepada-Nya.

KOMANDO SEJARAH – Puisi Fatwa K.H. Muhammad Fuad Riyadi

KOMANDO SEJARAH

– Kepada seluruh rakyat Indonesia –

Bismillah ‘ala millati Rasulillah Muhammad ibni Abdillah SAW, Laaaa Khaula wa Laaa Quwwata illaaa Billaaah

Amma ba’du:

 

Marilah kita jujur dan terbuka

Jangan khianat dan berdusta:

 

Alhamdulillah kita punya Pak Dirman

Alhamdulillah kita punya Pak  Yani

Alhamdulillah kita  punya Pak Prabowo

Ketiganya ksatria sejati, ketiganya tulus mengabdi

Untuk kejayaan Bumi Pertiwi

KYAI ALHAMDULILLAH

Salah satu cerita Mas Achid yang paling sering penulis ingat, meskipun cerita itu beliau ungkapkan hampir sepuluh tahun yang lalu, adalah mengenai Kyai Alhamdulillah. Entah siapa nama asli kyai tersebut, tapi orang mengenal dan memanggilnya dengan sebutan Kyai Alhamdulillah. Ini karena beliau itu paling sering mengucapkan “Alhamdulillah”. Apa-apa bilang “Alhamdulillah”. Sedikit-sedikit mengucap “Alhamdulillah”. Berita baik disahut “Alhamdulillah”. Berita kurang baik tetap diucapi “Alhamdulillah”. Begitulah, kata Mas Achid, hari-hari kyai yang tinggal di Jawa Tengah itu dipenuhi dengan ungkapan “Alhamdulillah”, hingga beliau memperoleh gelar “Kyai Alhamdulillah”.

JANGAN SALAH PAHAM, ISLAM=KUALITAS

Kualitas atau yang terbaik di sini sesuai dengan tinjauan semua segi dan zaman, termasuk logika dan estetika. Berangkat dari simpul sederhana inilah seharusnya kita memahami sosok pribadi tokoh-tokoh Islam mulai dari pribadi paling tinggi kualitasnya yakni Nabi Muhammad SAW –sebagaimana difirmankan Allah SWT: dalam diri Beliau itulah suri tauladan terbaik dan ditegaskan para sahabat bahwa Beliau itu berakhlaq Al Qur’an—dan tokoh-tokoh legendaris lainnya, juga teks-teks dalam Islam: Al Qur’an, hadits, dan ijma para salafus solihin. Jika tidak demikian, kemungkinan “salah paham” dalam mengapresiasi tokoh dan membaca arti teks tersebut menjadi sangat terbuka, sebagaimana akhir-akhir ini sering kita melihat gejala-gejalanya.