Tersesat Masuk Surga

Berkah – Berkah Ramadhan

 Semua ibadah serasa lebih mudah dikerjakan di Bulan Ramadhan, karena setan dibelenggu dan anugrah Tuhan melimpah-ruah. Urusan ukhrowi bagi Pecinta Sejati terasa lebih manis, urusan duniawi bagi yang butuh serasa lebih lancar. Berkah ramadhan adalah berkah semesta, bukan milik orang beriman saja, karena Dia Maha Mengasihi seluruh hamba-Nya. Iman atawa kafir, adalah soal nasib setelah memasuki barzah dan segenap rangkaian berikutnya. Tanpa paksaan, tinggal pilih beserta konsekuensinya.

        Begitu mulia bulan puasa, sampai-sampai sekolah kita dulu diliburkan (terakhir zaman Presiden Gus Dur), agar para siswa bebas mengakses pengalaman rohani sepuas-puasnya, dan pada giliran berikutnya kelak mereka dapat mengejawantahkan dalam kehidupan berbangsa. Tapi, era telah berubah: pesantren kilat dibikin orang-orang yang tidak punya pengalaman menjadi santri, bikin peserta malah phobia dengan pesantren sebenarnya yang tidak pernah memacu santri beribadah diluar kemampuannya. Beberapa siswa penulis stress sepulang jadi santri kilat, itulah salah satu buktinya.

          Televisi menyiarkan secara langsung sholat tarawih dari Masjidil Haram Mekah, seperti hendak menyucikan ke-katrok-an paket-paket acara ramadhan televisi-televisi kita yang menurut Komisi Penyiaran dan Majelis Ulama Indonesia masih dipenuhi adegan kekerasan, cabul, norak, jorok, dan sebagainya. Inilah imbas selera rendah orang-orang yang terlibat dalam proses produksinya. Disertakannya teks terjemahan dalam Bahasa Inggris atas bacaan ayat-ayat Qur’an dari Sang Imam, memacu penonton lebih mahir berbahasa. Dulu, pada tahun 2000, RCTI menyiarkannya dengan teks tejemahan Bahasa Indonesia, masyarakat jadi lebih mudah menghayati ayat-ayat suci. Beberapa santri yang sempat nonton, tak satu santri pun yang tidak meneteskan airmata: diliputi keharuan bahkan mungkin ekstase yang mencerahkan jiwa. Memang, di tengah malam, di samudera keheningan, ayat-ayat Tuhan itu “syahida”, benar-benar terasa kebenaran dan keagungannya. Tentu, imam paling favorit sampai tahun ini masihlah Abdurrahman As Sudais. Cara beliau melagukan tiap ayat beserta intonasinya, amat merdu-indah sesuai makna yang dikandungnya. Semoga Tuhan memanjangkan umur dan barokah beliau, amin.

         Meneteskan air mata ketika menghayati ayat-ayat suci, itulah salah satu cara tadarus terbaik. Adakalanya di Bulan Penuh Berkah ini kita melihat aktifis masjid (aktifis dadakan) salah mengartikan tadarus. Bukan berusaha menghayati dan apalagi mengamalkan kandungan Kitab Suci, malah berlomba memekakkan telinga dengan speaker tanpa tenggang rasa. Ketika tahun lalu kami menyerukan hal ini lewat sebuah kolom pikiran pembaca, puluhan bahkan ratusan telpon dan sms ( baik dari muslim maupun non-muslim) mengadukan kemurkaan-kejengkelan mereka karena selama ini terteror oknum penguasa speaker masjid yang “ugal-ugalan”. Dari sini ketahuan: ulah seperti itu syiar ataukah pencemaran Islam. Meskipun begitu banyak tokoh otoritatif Islam telah menyerukan haramnya penggunaan speaker secara ngawur atas nama syiar, toh di sana-sini masih saja hal itu terjadi. Mungkin, ada baiknya diberi regulasi dari pihak-pihak yang berwenang.

Tetapi, seperti syair salah satu lagu grup musik Debu, memang: Cinta tampak mudah tapi…ah, berjalin-jalin. Peribadahan, penghambaan kepada Yang Maha Segalanya, pada mula dan pada akhirnya adalah urusan hati nurani. Firman-firman Tuhan, sabda-sabda Nabi SAW sampai dengan nasehat-nasehat Ahli Tasawuf mengenai bahaya penyakit hati yang jadi pangkal sebab berkaratnya hati nurani seperti riya’ (mengharap pujian orang alias caper dengan ibadah yang dikerjakan), sombong takabur (menutup mata dan telinga karena merasa lebih benar dan hebat dari yang lainnya), fanatik membabi buta, ujub atawa narsis, egois dan tak suka mengalah, adigang-adigung-adiguna, dan lain-lain yang sumbernya kecintaan pada hal-hal duniawi (materi dan eksistensi diri) sudah semestinya lebih digarisbawahi para dai. Dengan demikian, perintah Allah yang dikuatkan wasiat Nabi SAW agar kita menebarkan kasih-sayang bagi semesta, menyebarkan keselamatan bagi sesama dalam koridor kebenaran-kejujuran-keadilan-kesamaan derajat dan kedudukan sesama makhluk-Nya, lebih mungkin dihidup-hidupkan sekaligus dilestarikan. 

Secara praktis, Nabi Muhammad SAW membuatkan kaidah kuranglebih: Tidaklah seseorang itu beriman kalau orang lain tidak merasa aman dari (kejahatan) lisan dan perbuatannya. Jadi, jangan sampai orang lain masih merasa terancam, kalau kita ingin mendapatkan predikat beriman. Dengan kata lain, manakala orang lain menempatkan kita sebagai harapan, kita pun boleh berharap Tuhan menggolongkan kita sebagai hambaNya yang baik, soleh, taqwa. Dalam rangka itu barisan arif bijaksana berpesan: senantiasa dzikir kepada Allah, agar kita sadar dan tahu diri bahwa kita ini hanyalah hamba sebagaimana hamba-hamba-Nya yang lain, tak lebih tak kurang. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Berkah – Berkah Ramadhan"

Back To Top