Tersesat Masuk Surga

Cinta dan Benci karena Allah


Tali iman yang paling kokoh ialah bilamana engkau suka karena Allah dan benci karena Allah, begitulah kira-kira sabda Nabi yang telah diriwayatkan Imam Ahmad. Suka atau cinta dan benci karena Allah dalam urut-urutan cabang keimanan, oleh Syeikh Nawawi Al Bantani ditempatkan pada urutan ke delapan. Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengutip salah satu doa Nabi yang kurang-lebih artinya: “Ya Allah, anugrahilah diriku (rasa) cinta kepadaMu, kepada orang-orang yang mencintaiMu dan orang-orang yang mendekatkan diriku kepada mencintaiMu”. Cinta menurut para ahli tasawuf adalah puncak dari upaya pendekatan diri kepada-Nya.

 

     Dengan bekal pemahaman agama yang mumpuni, pengamalan yang maksimal dan kepasrahan yang tinggi, seorang sufi (ahli tasawuf) adakalanya mendapatkan anugrah Cinta Ilahiyyah. Segala apa saja yang berkenaan dengan Sang Kekasih, baginya senantiasa mengingatkan pada-Nya. Ibnu ‘Atok dalam kitab Al Hikam menuliskan bait puisi kurang lebih artinya: setiap melihat ciptaan (makhluk) senantiasa mengingatkan kepada Sang Pencipta. Dengan Cinta itulah seseorang mencintai apa saja yang dicintai-Nya. Dengan Cinta pula seseorang membenci apapun yang dibenci-Nya. Salah satu Hadits Qudsi kurang-lebih tarjemahnya berbunyi: “Jika hambaKu bertaqwa, tangannya adalah tanganKu, kakinya adalah kakiKu, telinganya adalah telingaKu, hatinya adalah hatiKu.” 

 

    Pemaknaan paling sederhana dari Hadits Qudsi tersebut kira-kira; seseorang yang bertakwa itu menggunakan tangannya, kakinya, telinganya dan hatinya selalu sesuai dengan perintah Allah. Sayyidina Ali ibn Abi Talib k.w pernah mengatakan bahwa seorang bayi yang belum sempat dewasa meninggal, tempatnya kelak di akherat pasti dan langsung surga. Sedangkan meninggalnya orang dewasa itu tidak ada jaminan bisa masuk surga Tapi, jika boleh memilih, beliau lebih suka meninggal setelah dewasa. Sebab, bayi yang meninggal itu tidak berkesempatan merasakan nikmatnya beribadah seorang pecinta, sedangkan bila sempat dewasa berarti punya kesempatan untuk menikmatinya. Walloohu a’lam

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Cinta dan Benci karena Allah"

Back To Top