Tersesat Masuk Surga

Ikhlas


Ikhlas yang kurang-lebih artinya “murni, bersih tanpa campuran apapun” merupakan cabang iman ke kesebelas versi Syeikh Nawawi Al Bantani. Para ulama bersepakat, berdasar ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits, amal perbuatan manusia yang bernilai ibadah yang diterima di sisi Allah hanyalah yang “ikhlas”. Maksudnya, yang semata-mata hanya ditujukan untuk Allah. Para ulama juga sepakat, pada hakekatnya ikhlas atau tidak ikhlasnya suatu ibadah dari seorang hamba, hanya Allah saja yang Maha Tahu. Setan, malaikat, dan diri hamba, pada dasarnya hanya dapat mengikhtiarkan, memilih tindakan yang menuju keikhlasan. Adapaun hasilnya, Allah sajalah yang berhak menilai.


Ilmu ikhtiar menuju keikhlasan ini panjang dan rumit penjelasannya. Banyak kitab atau buku yang ditulis dari sejak zaman ulama salaf sampai sekarang yang mengulasnya. Tentu saja yang paling populer masihlah buku besar Imam Al Ghozali: Ihya Ulumuddin. Begitu rumitnya, sampai-sampai beberapa ulama berpesan, seseorang yang sering mengaku dan merasa dirinya dalam beribadah telah ikhlas, pada dasarnya hal tersebut menunjukkan bahwa ibadahnya belum ikhlas. Secara global, diantara “campuran” ibadah yang merusak keikhlasan diantaranya adalah riya’, ‘ujub, sum’ah, takabbur, dengki, dan “penyakit-penyakit hati” yang lainnya.


Riya’ maksudnya menujukan ibadah kepada Allah dan yang lainnya. Seseorang yang sholat misalnya, bisa disebut riya’ manakala dia menyembah Allah sekaligus mencari pujian dan pengakuan orang lain. Jika biasanya dia sholat dengan tergesa-gesa kemudian kelihatan dikhusyuk-khusyukkan karena dilihat orang lain, itulah riya’. Menurut Imam Al Ghazali, termasuk riya’ juga suatu ibadah yang ditujukan kepada Allah dan tujuan-tujuan duniawi. Seseorang yang sholat dhuha dengan tujuan agar mendapat pahala sekaligus lancar usahanya, pada hakekatnya sholat dhuhanya itu untuk Allah dan untuk “menyembah” hawa nafsunya.


Seseorang yang membaca wirid untuk mencari pahala di sisi Allah sekaligus untuk tercapainya keinginan duniawi (misalnya agar berhasil menduduki jabatan tertentu, menyembuhkan penyakit, melancarkan usaha, dll) juga termasuk riya’. Perkecualian selalu ada, yakni bila ada dasar haditsnya. Perkecualian itu pun harus disertai dengan pemahaman yang cukup.


Sebagai contoh, ketika seorang sahabat mengeluhkan perihal rejeki yang dirasakannya seret, Rasulullah menyuruh dia membaca Surat Waqi’ah di waktu pagi dan petang. Hadits ini kini disalahpahami banyak orang: kalau ingin rejeki lancar, baca Surat Waqi’ah di waktu pagi dan petang. Padahal, jika kita sedikit kritis saja akan paham mengenai maksud Rasul SAW tersebut. Yakni, dengan membaca Surat Waqi’ah (arti waqi’ah: Hari Kiamat), orang akan teringat mengenai hal yang jauh lebih besar ketimbang perkara remeh rejeki seret tersebut; hari-hari kiamat, hari-hari akherat yang gawat dan mengerikan. Masihkah pantas seseorang menyusahkan rejeki seret ketika dia teringat mengenai Hari Abadi yang jauh lebih wajib disusahkan? Padahal, sejatinya rejeki itu tidak pernah seret, hanya hawa nafsu yang dipenuhi keinginan sajalah yang menyimpulkan seretnya rejeki. Rejeki, yang artinya kurang-lebih apa saja yang secara objektif dibutuhkan seseorang, pada dasarnya senantiasa ditanggung Allah. Mengenai hal ini, mudah-mudahan pada tulisan lainnya dapat diuraikan secara lebih lengkap.


‘Ujub, atau mengagumi diri sendiri, takjub pada kehebatan diri sendiri, adalah perusak ikhlas manakala ibadah telah dilaksanakan. Orang yang rajin solat tahajud kemudian merasa dirinya hebat, itulah contoh ‘ujub. Begitu buruknya ‘ujub, sampai-sampai sering diperbandingkan dengan orang yang malas beribadah. Orang yang malas beribadah disertai perasaan merasa dirinya buruk, dan memang secara objektif dia buruk, masih lebih “mending” ketimbang orang yang rajin beribadah disertai perasaan dirinya adalah orang baik. Bagaimana mungkin? Keburukan orang yang malas beribadah itu sudah pasti, dan dia mengakui. Perasaan “menjadi orang baik” itu membatalkan hasil ibadah yang dilakukan dengan rajin, jadi orang seperti itu sama dalam buruknya dengan si pemalas ibadah. Lebih buruknya, si rajin itu tidak merasa dirinya “buruk”. Wallahu a’lam.


Disamping ujub, penyakit pasca ibadah adalah takabur atau sombong. Disamping merusak pahala ibadah, takabbur itu ancamannya sangat mengerikan. Begitu banyak ayat Al Qur’an dan sabda Rasul SAW yang menjelaskannya. Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada unsur takabbur meski hanya sebesar biji sawi saja. Bilamana seseorang disebut takabbur atau sombong? Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad, kitab yang teramat populer di pesantren, mengutip beberapa ayat Qur’an, hadits dan pandangan ulama menyimpulkan: seseorang disebut sombong bila dia merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Sum’ah atau ingin didengar, secara umum boleh diartikan mencari popularitas.


Sedangkan dengki diartikan menginginkan hilangnya kenikmatan, kebaikan, keberhasilan, kesuksesan, kebahagiaan yang ada pada orang lain. Mustahil manusia bisa beribadah dengan ikhlas bila mengandalkan dirinya sendiri.

 

Kuncinya adalah taufik dan hidayah Allah. Taufik artinya pertolongan, hidayah artinya petunjuk. Hanya dengan keduanya manusia dimungkinkan untuk ikhlas beribadah. Sudah ikhlas atau belum? Tunggu saja nanti diakherat. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Ikhlas"

Back To Top