Tersesat Masuk Surga

Iman kepada Allah


Hanya orang-orang yang memperoleh hidayah (petunjuk) dan taufik (pertolongan) Allah saja yang dapat beriman kepada-Nya. Alam semesta dengan segenap keajaiban sekaligus keteraturannya, ayat-ayat Al Qur’an yang tak tertandingi dari segala segi, akal yang sangat canggih, semuanya tak berarti apa-apa bagi orang yang tak mendapat bagian dari hidayah dan petunjuk-Nya. Sungguh ajaib orang yang tak beriman, tapi lebih ajaib lagi orang bisa beriman, demikian salah satu ungkapan klasik.


Mengapa seseorang memperoleh taufik dan hidayah-Nya, sementara orang lain tidak? Allah berulangkali dalam firman-Nya telah berjanji: siapa saja yang bersungguh-sungguh memohon, pasti diberi. Kriteria bersungguh-sungguh disini sangat kompleks, namun secara praktis ditandai dengan keinginan baik (positif) bagi diri dan yang lainya: manusia, hewan, tetumbuhan, alam sekitar. Adapun keinginan positif ini bisa meliputi kasih-sayang, kerendah-hatian, kesantunan, kearifan, kejujuran, kecerdasan, keadilan, kedermawanan, dan mementingkan yang lainnya dibandingkan diri sendiri. Demikianlah muncul istilah sodaqoh (pembenaran), maksudnya: jalan kebenaran. Kisah pencarian Nabi Ibrahim yang terekam dalam Al Qur’an relevan kita baca kembali. Seseorang yang tidak bersungguh-sungguh, berkeinginan negatif bagi diri dan yang lainnya, merupakan kebalikan dari syarat memperoleh hidayah dan taufik-Nya.


Kebencian, kesombongan, kekejaman, kejumudan, fanatisme, kebohongan, keserakahan, kebodohan, kedzaliman, kepelitan, dan egoisme hanyalah beberapa contoh ciri keinginan negatif. Sungguh praktis sabda Nabi Muhammad yang berikut ini yang kurang-lebihnya berbunyi: tidaklah seseorang disebut beriman kepada Allah manakala dia tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan. Allah, God, Tuhan, Gusti, Pangeran, Om dan entah apalagi istilahnya dalam berbagai bahasa, keMaha-an-Nya tidak mungkin dipahami sepenuh-penuhnya dan sebenar-benarnya oleh manusia yang serba terbatas. Al Qur’an memberikan batasan-batasan yang sekadar perlu, karena memang Allah tidak pernah menuntut seseorang kecuali sebatas kemampuannya saja. Dialah Allah pencipta (khaliq) segala sesuatu (makhluk), tiada berputra dan tidak diputrakan, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi rejeki, Maha Esa tiada sekutu, tiada apapun yang setara/ sama dengan-Nya. Apapun yang kita bayangkan mengenai diri-Nya, bukanlah diri-Nya, Maha Suci Dia, karena bayangan hanyalah makhluk yang diproduksi makhluk (akal), sedangkan Allah adalah Khaliq. Yang membuat meja tentu bukan meja, melainkan tukang kayu. Antara meja dan tukang kayu tentu tidak sama bentuk dan sifatnya, demikian guru agama kami waktu di SD menjelaskan. Allah dapat dikenali dengan nama-nama-Nya yang Indah (asmaul husna) yang jumlahnya 99 nama, sebagaimana diterangkan Al Qur’an dan sabda Nabi Muhammad SAW. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Iman kepada Allah"

Back To Top