Tersesat Masuk Surga

Iman kepada Kitab – kitab Allah


Dalam urut-urutan rukun Iman, mengimani atau mempercayai kitab-kitab Allah atau buku-buku suci yang diturunkan Allah kepada para nabi, menempati urutan ketiga. Setelah beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, seorang muslim wajib mengimani kitab-kitab Allah Secara imaniah, pada masa manusia masih berbentuk ruh semata (zaman azali), terjadilah perjanjian antara arwah (ruh-ruh) dengan Tuhan. Al Qur’an mengisahkan yang kurang lebihnya: “..Tuhan bertanya: Adakah Aku sesembahan kalian? Arwah menjawab: Kami bersaksi…” Selanjutnya, terjadilah kesepakatan antara arwah dengan Tuhan mengenai nasib mereka kelak ketika dihidupkan di dunia; pilihan jenis kelamin, jodoh, ikatan ruh satu dengan ruh lainnya (sebagai anak, pasangan hidup, orang tua, kakek, nenek ), jumlah rejeki, usia, jenis cobaan, dan sebagainya. Demikianlah takdir dituliskan. Tuhan hanya menuntut satu hal: apapun dan bagaimana pun kesepakatan itu, manusia harus menyembah kepada-Nya, karena itulah tujuan mereka diciptakan.


Ketika manusia secara berurutan memasuki periode hidup di dunia, kehidupan di dunia membuat mereka lalai pada perjanjian semula sebagai tujuan mereka diciptakan. Sifat Maha Kasih Allah menjadi sebab diutusnya para Nabi yang adakalanya dengan disertai dengan diturunkannya kitab suci untuk mengingatkan apa tujuan mereka diciptakan: menyembah kepada-Nya. Kitab-kitab Allah yang wajib dipercayai yakni Suhuf-suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan Musa, kitab Taurat atau Torat atau Perjanjian Lama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa, kitab Zabur yang diwahyukan Allah kepada Nabi Daud atau David, kitab Injil atau Bibel atau Perjanjian Baru yang diwahyukan Allah kepada Nabi ‘Isa, serta penutup dan pelengkap dan penyempurna semua kitab suci yakni Al Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Pamungkas Muhammad SAW.


Setiap kitab suci yang diturunkan selalu mengisyaratkan akan datangnya nabi dan kitab suci berikutnya yang akan dihadiahkan Tuhan kepada manusia dan akan datangnya hadiah terbesar dari Tuhan yakni Nabi Pamungkas (Muhammad atau Ahmad SAW) beserta kitab suci Pamungkas yang merangkum dan menyempurnakan kitab-kitab suci sebelumnya, yakni: Al Qur’an.


Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemeluk agama non-Islam, perlu disampaikan bahwa secara ilmiah, para ahli dari berbagai macam disiplin ilmu mengetahui, diantara kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah tersebut, hanya tinggal Al Qur’an saja yang masih benar-benar asli. Penerjemahan Al Qur’an pun senantiasa menyertakan teks aslinya dalam bahasa Arab. Sedangkan kitab-kitab suci lainnya telah mengalami proses campur tangan manusia, baik menyangkut isi maupun katakatanya. Hal ini sesuai dengan sindiran berkali-kali dari Allah dalam Al Qur’an, kurang-lebihnya artinya berbunyi: “… mereka mengubah ayatayat Tuhan dengan tangan mereka sendiri, kemudian mengatakan ini dari Tuhan kalian…”. Karena keasliannya, Al Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 (enam ribu enam ratus enampuluh enam) ayat dapat dengan mudah dihapalkan siapa saja. Bandingkan dengan buku yang hanya 100 halaman saja misalnya, sulit atau malah mustahil dapat dengan mudah dihapal.


Sejak pertama kali diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sampai sekarang, menghapal Al Qur’an menjadi salah satu kebiasaan orang-orang Islam dengan koridor hukum fardlu kifayah (kewajiban bersama). Hari ini, jutaan umat Islam adalah seorang hafidz (hapal Al Qur’an). Seiring waktu, diantara mereka mungkin ada yang meninggal dunia, tetapi hafidz-hafidz baru terus bermunculan. Demikianlah salah satu perwujudan janji Tuhan untuk terus menjaga keaslian dan kemurnian Al Qur’an: isi, kata-kata, bahkan sampai “titikkoma”-nya.


Sebab keasliannya pula, setiap ayat Al Qur’an senantiasa cocok dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Jauh sebelum Galileo Galilei dihukum mati pihak gereja karena statemennya “bumi itu bulat” tidak sesuai dengan Bibel, Al Qur’an telah mengisyaratkan “bulat”-nya tidak hanya bumi, tapi juga matahari, bulan, bintang. Jauh sebelum ilmu kedokteran menjelaskan proses pembuahan sperma atas ovum, lalu menjadi zigot, janin dan keluar dari rahim, Al Qur’an secara rinci telah menjelaskannya. Perlu diingat, Tuhan pun membuat pernyataan tantangan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, yang bunyi artinya kurang-lebih:


“Jika kalian dalam keraguan mengenai (Al Qur’an) yang Aku turunkan kepada hambaKu (Muhammad), datangkan (buatkanlah) satu surat saja yang seperti itu, ajaklah bekerja sama siapa saja selain Allah untuk membuatnya. Tetapi, jika kalian tak mampu membuatnya, dan memang kalian tak akan mampu, takutlah akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Itulah (neraka) yang disediakan bagi orang-orang kafir (tidak mempercayai Al Qur’an).”


Dikaitkan dengan mukjizat yang biasa menyertai para nabi, Al Qur’an adalah mukjizat terbesar dari kenabian Muhammad SAW. Nabi Musa a.s bermukjizatkan tongkat yang dengan ijin Tuhan bisa memakan ular-ular para penyihir, membelah laut merah, memunculkan mata-air di celah bebatuan, menghidupkan mayat yang telah dikuburkan, dan

telapak tangan beliau yang bercahaya tanpa noda. Nabi Isa yang dengan menyebut nama Tuhan bisa menghidupkan patung burung, orang yang telah mati, dan menyembuhkan kebutaan sejak lahir. Nabi Muhammad SAW juga dianugrahi berbagai mukjizat, namun beliau berkali-kali menyampaikan Al Qur’an-lah mukjizat terbesarnya. Mukjizat yang dapat dinikmati siapa saja sampai akhir masa.


    Sebagian ulama seperti Imam Syafi’i, Al Ghazali, sampai Syeikh Nawawi Al Bantani menafsirkan sabda nabi tersebut dengan kefasihan Al Qur’an. Kefasihan disini maksudnya adalah kebenaran, kecerdasan, kesahihan, ketakterbantahan dari Al Qur’an sepanjang masa. Maksudnya, siapa saja yang cerdas, cermat, jujur, dan objektif mempelajari Al Qur’an, sudah semestinya mengimani Al Qur’an. Walloohu a’lam


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Iman kepada Kitab – kitab Allah"

Back To Top