Tersesat Masuk Surga

Iman kepada Malaikat – Malaikat Allah

Para ulama sepakat, bahwa mengimani keberadaan malaikat hukumnya wajib. Dalam urutan rukun-rukun iman yang jumlahnya 6 (menurut madzhab sunni) atau 7 (menurut madzhab syi’i) dan cabang-cabang keimanan yang jumlahnya sekitar 78, beriman kepada malaikat ini menempati urutan kedua. Mengimani keberadaan malaikat merupakan bagian dari mengimani hal-hal gaib, hal-hal yang tak terdeteksi penglihatan mata. Sebagai salah satu jenis makhluk Allah, malaikat diciptakan untuk selalu taat kepada perintah serta tujuan penciptaan-Nya dan sama sekali tak pernah ber-maksiat kepada-Nya. Hal itu disebabkan malaikat tidak diberi nafsu, seperti nafsu seks, makan, minum, memiliki, dan sebagainya.


Bila manusia diciptakan dari saripati tanah dan syetan diciptakan dari api, maka malaikat diciptakan Allah dari cahaya. Bila manusia dan syetan memiliki jenis kelamin, malaikat tidak berjenis kelamin. Setiap mobilitas apapun di alam semesta ini, mulai dari yang paling kecil seperti proses-proses yang terjadi di dalam setiap sel, atom, proton, neutron, electron atau yang lebih kecil dari semua tersebut, sampai dengan proses - proses yang dialami benda-benda besar seperti planet, bintang, galaksi, langit, bumi, ‘arsy selalu malaikat dilibatkan Allah sebagai petugasnya. Tiada satu malaikat pun yang diciptakan Allah kecuali memiliki tugasnya masing-masing. Bagi seorang muslim, mengimani malaikat Allah tidak diharuskan mengetahui detil-detil mengenai malaikat beserta tugasnya, karena hal demikian tidaklah manusia mampu.


Allah memang tidak pernah membebani setiap hambanya kecuali sebatas kemampuannya. Adapun secara global, setiap muslim minimal mengenal 9 tokoh malaikat beserta tugasnya, yakni:

  1. malaikat Jibril (sering disebut Gabriel) bertugas utama menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi,

  2. malaikat Mikail (Michel) bertugas utama membagikan rejeki kepada seluruh makhluk Allah, termasuk mengatur musim,

  3. malaikat ‘Izroil bertugas utama mencabut nyawa   setiap makhluk hidup,

  4. malaikat Roqib bertugas utama mencatat/merekam perbuatan baik setiap hamba,

  5. malaikat ‘Atid bertugas utama mencatat/merekam perbuatan buruk setiap hamba,

  6. malaikat Munkar dan Nakir bertugas utama mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada manusia di alam barzah/kubur,

  7. malaikat Ridwan bertugas utama menjaga surga

  8. malaikat Malik bertugas menjaga neraka, dan

  9. malaikat Isrofil bertugas utama meniup sangkakala dimulainya kiamat dan diawalinya Hari Kebangkitan


Dalam menjalankan tugas utamanya, ke-9 malaikat tersebut memiliki anggota yang jumlahnya hanya diketahui yang bersangkutan dan Allah semata. Misalnya, malaikat Malik memiliki anggota malaikat Zabaniyyah yang bertugas menyiksa penghuni neraka. Di samping melaksanakan tugas utama, mereka juga memiliki tugas-tugas lain seperti senantiasa memohonkan ampunan dan kebaikan-kebaikan bagi setiap hamba, membisikkan ilham-ilham kebenaran dan kebaikan di hati manusia (malaikat Mulhim) serta mengamini doa-doa yang dimohonkan seorang hamba kepada Allah.


Sebab tercipta dari cahaya, malaikat diberi kemampuan oleh Allah berubah bentuk melebihi cepatnya perubahan bentuk gas. Demikianlah misalnya Malaikat Jibril bilamana menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW paling sering bersosok pemuda tampan seperti Dahyah, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal paling tampan dan modis. Nabi sendiri, seperti diterangkan Al Qur’an dalam surat An Najm, baru dua kali melihat bentuk asli Malaikat Jibril yang super besar, yakni sesaat setelah wahyu pertama di Gua Hira dan ketika di Ufuk Tinggi sebelum Sidrotul Muntaha pada waktu peristiwa Isro’ dan Mi’roj. Begitu besarnya sang malaikat, sampai memenuhi cakrawala. Mata terbuka melihat, dipejamkan pun terlihat. Untuk sekadar gambaran, Malaikat Rahmah yang lebih kecil bentuknya dibandingkan 9 tokoh malaikat yang telah disebutkan di atas, termasuk malaikat Jibril, digambarkan oleh Nabi bila seluruh air laut ditumpahkan pada keningnya, tak setetes air pun yang tumpah. Bisa dikira-kira berapa besarnya malaikat Jibril. Syeikh Nawawi Al Bantani mengatakan, “malaikat yang berada di langit lebih banyak daripada yang berada di bumi”. Pernyataan beliau ini menunjukkan bahwa proses-proses yang terjadi di langit dengan tujuh dimensinya, jauh lebih kompleks dan rumit dibandingkan dengan prosesproses yang terjadi di bumi dengan tujuh dimensinya pula.


     Pada dasarnya, hanya para Nabi dan orang-orang pilihan Allah (wali) yang dapat berkomunikasi dengan malaikat. Secara sederhana, ciri pertama dan utama dari orang-orang pilihan Allah (wali) adalah orang-orang yang sering dihadiri Nabi Muhammad SAW (bertemu dengan beliau) dalam alam mimpi. Syetan sering menipu manusia dengan berpura-pura menjadi malaikat. Tidak heran jika banyak orang mengaku bertemu dengan malaikat. Yang benar, selain para nabi dan orang-orang pilihan Allah, mereka hanya bertemu dengan syetan yang mengaku-aku sebagai malaikat. Na’udzu billaah. Wa billaah at taufik wal hidaayah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Iman kepada Malaikat – Malaikat Allah"

Back To Top