Tersesat Masuk Surga

Iman kepada Takdir Allah



Imam At Tirmidzi meriwayatkan satu hadits yang sudah sangat populer, kurang-lebih artinya berbunyi,”Tidaklah seorang hamba beriman -secara sempurna- hingga dia beriman pada takdir, takdir baik atau takdir buruk, dan hingga dia meyakini bahwa apa saja yang menjadi kepastian (takdir) bagi dirinya tak akan bisa dihindarkan dari dirinya, serta apa saja yang bukan menjadi kepastian (takdir) bagi dirinya tak akan bisa mengenai dirinya. Dalam redaksi kalimat yang berbeda, Allah kurang lebih telah berfirman di dalam Al Qur’an yang artinya, “…Bahkan tiada selembar daun yang gugur kecuali telah tertuliskan dalam Buku Catatan (takdir)…”


Persoalan iman kepada takdir (kepastian, ketentuan, keputusan) Allah merupakan topik yang rumit dan berbahaya. Saking rumit dan berbahayanya, dengan penuh kasih Rasulullah sendiri sampai memperingatkan, bahwa banyak mengotak-atik perihal takdir itu termasuk penyakit nifak/munafik. Na’udzubillaah. Pembicaraan topic takdir ini pula yang menjadi sebab munculnya aliran yang sering disebut dengan Qodariyah, Mu’tazilah dan Ahlus Sunah Wal Jama’ah.


Yang satu bilang, karena semua sudah ada takdirnya, hamba itu sekadar seperti wayang yang dimainkan sang dalang, tidak perlu ikhtiar (memilih tindakan), tidak perlu usaha, begitu kira-kira pendapat penganut Qodariyah. Yang lain bilang, takdir itu di tangan manusia, Allah memberi kebebasan penuh, begitu kurang-lebih orang Mu’tazilah berkata. Yang seharusnya, Ahlus Sunah Wal Jama’ah menjelaskan, takdir itu tidak diketahui seorang hamba kecuali setelah terjadi, setiap hamba wajib berikhtiar karena demikianlah perintah Allah. Inilah yang agaknya sesuai dengan firman Allah yang artinya kurang lebih, “…maka, bilamana engkau telah ber’azam (berikhtiar dengan sungguh-sungguh), bertawakkal-lah (berserah dirilah dalam urusan hasil) kepada Allah…”


         KH Muhammad Khatib, pengasuh Pondok Pesantren Fadlun Minalloh Bantul, pernah mengatakan, “ Allah menyuruh hamba agar berusaha mewujudkan keinginannya. Jika ada seratus orang sukses, limapuluh orang diantaranya menjadi sukses disertai rajin berusaha, limapuluh diantaranya sukses meskipun tanpa berusaha. Sebaliknya, jika ada 100 orang gagal, 50 diantaranya gagal setelah rajin berusaha, 50 orang lainnya gagal disertai malas berusaha. Sukses atau gagal itu tidak bergantung kepada usaha, tetapi bergantung kepada takdir. Hanya saja, orang yang telah rajin berusaha, gagal atau sukses hasilnya, dia telah melaksanakan perintah Allah sehingga boleh berharap akan pahalanya. Sedangkan orang yang malas atau tidak mau berusaha, sukses atau gagal hasilnya, dia tetaplah berdosa karena tidak mau melaksanakan perintah Allah.” Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Iman kepada Takdir Allah"

Back To Top