Tersesat Masuk Surga

Islam Itu Soal Kualitas, Bung!

“Hikmah (semua kualitas) itu milik orang beriman yang tercecer, dimana pun kalian temukan, pungutlah!” Demikianlah kurang lebih arti dari sabda Nabi Muhammad SAW yang sudah sangat populer. Maksudnya, yang sesuai dengan “iman” atau “islam” itu kriterianya adalah kualitas, yang terbaik. Terbaik untuk semesta alam, karena memang Islam itu rahmat/kasih bagi semesta alam sesuai sabda Nabi SAW yang juga sudah sangat terkenal.


Kualitas atau yang terbaik di sini sesuai dengan tinjauan semua segi dan zaman, termasuk logika dan estetika. Berangkat dari simpul sederhana inilah seharusnya kita memahami sosok pribadi tokoh-tokoh Islam mulai dari pribadi paling tinggi kualitasnya yakni Nabi Muhammad SAW -sebagaimana difirmankan Allah SWT: dalam diri Beliau itulah suri tauladan terbaik dan ditegaskan para sahabat bahwa Beliau itu berakhlaq Al Qur’an- dan tokoh-tokoh legendaris lainnya, juga teks-teks dalam Islam: Al Qur’an, Hadits, dan ijma para salafus solihin. Jika tidak demikian, kemungkinan “salah paham” dalam mengapresiasi tokoh dan membaca arti teks tersebut menjadi sangat terbuka, sebagaimana akhirakhir ini sering kita melihat gejala-gejalanya.


Sekadar kilas balik, seperti sudah dimaklumi bahwa pada mulanya Nabi Muhammad SAW memerintahkan penghapalan sekaligus penulisan tiap ayat Al Qur’an. Adapun mengenai hadits (sabda-sabda) Beliau, dibolehkan meriwayatkan (menghapalkan) tapi dilarang menuliskan. Hadits Nabi SAW baru mulai dituliskan pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz.


Hikmah dari hal itu kemurnian Al Qur’an dapat lebih terjamin, sedangkan tradisi pemahamannya secara lisan - turun-temurun - memperoleh tempatnya. Tidak heran jika para santri diharuskan menghapalkan mata-rantai ilmu (sanad) sang kyai (guru). Misalnya, si A adalah santri si B yang nyantri si C yang adalah santrinya si D, dan seterusnya sampai terakhir merujuk kepada nama salah satu sahabat Nabi SAW. Historisitas ilmu yang dipelajari dijaga seperti itu, sehingga orisinalitas pemahaman ilmu lebih bisa diandalkan. Bias pemahaman pun lebih mungkin dihindarkan.


Pada saat ini, di kalangan pesantren tradisional masih pula berlaku tradisi menjaga historisitas lisan sejenis itu. Salah satunya yakni, jika ada “kyai baru”, pertanyaan untuk keabsahan ke-kyaiannya menyangkut dua hal: sang “kyai baru” itu anak turun siapa dan atau santrinya siapa. Jika kedua hal itu, atau paling tidak satu hal diantara keduanya meyakinkan, barulah sang “kyai baru” mendapatkan tempat. Di samping itu, masih pula berlaku jargon: yang tahu kyai, hanyalah para kyai. Maksudnya, kekyaian itu tidak dilegitimasi massa, tetapi oleh kyai yang lebih sepuh (senior). Meskipun kelihatan rumit dan kurang demokratis, tapi dari segi keterjagaan pemahaman yang “benar” mengenai agama, lebih dapat diandalkan.


Berbeda dengan kalangan yang merasa dirinya modern; siapa saja boleh berbicara dan berpendapat mengenai agama, bahkan seorang anak kecil sekalipun (buktinya ada PILDACIL/ pemilihan dai kecil). Tak berlebihan, dari kalangan inilah sekarang mulai terasa “keanehankeanehan” dalam beragama. Semacam keliru memahami teks keagamaan. Ambil satu contoh: Nabi SAW pernah bersabda, “sampaikan (sabda) dariku walau satu ayat”. Hadits ini dengan sembrono diartikan bahwa tiap orang harus menyampaikan dakwah agama meskipun dia baru tahu agama “satu ayat”. Padahal, hadits ini disabdakan Nabi SAW kepada para Sahabat r.a yang sangat berhati-hati hingga mereka enggan berbicara mengenai ilmu agama kepada orang lain karena takut keliru, meskipun mereka sudah tahu agama “beribu-ribu ayat”.


Firman Allah yang artinya lebih-kurang: “ …janganlah kamu lupakan bagianmu yang di dunia…” diartikan pula secara ngawur untuk “habishabisan” memburu dunia, padahal ayat tersebut berkait dengan empat sahabat (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali r.a yang hendak pergi ke sebuah gua agar bisa semata-mata beribadah di saat usia mereka masih muda). Pendek kata, ayat ini ditujukan kepada mereka yang hati dan pikirannya benar-benar berisi akherat semata sampai lupa segala urusan dunia yang masih harus diselesaikan: ayat yang cocoknya bagi orang yang ekstase terus-menerus padahal belum saatnya demikian.


Yang paling katrok, hadits “panjangkanlah sujudmu” yang maksudnya ketika kita sholat sunat diperintahkan untuk “berlamalama” -sholatnya dibuat lama- agar bisa lebih menghayati, oleh sementara kalangan diterapkan jadi: ketika sujud ndlosor alias badannya dipanjangkan ke depan sehingga mirip orang yang tertelungkup atau malah sulit dibedakan antara sujud atau push up.


Lalu, hadits “Rapikanlah (rapatkanlah) barisan sholat kalian” diartikan secara kaku jadi berdiri mengangkang sambil menginjak telapak kaki orang yang sholat di kanan-kirinya. Juga soal jenggot yang disabdakan kesunatannya oleh Nabi SAW tanpa memperhatikan konteks dan hadits, “Sungguh Allah Maha Indah dan suka keindahan”. Padahal, insyaallah yang dimaksudkan Nabi SAW itu agar lelaki tampil gagah tampan (struktur wajah orang Arab itu menjadi estetis jika jenggot tebal yang mereka miliki dipanjangkan). Bandingkan struktur wajah orang Jawa pada umumnya, dengan jenggot satu-dua helai seandainya dipanjangkan. Mungkinkah Nabi SAW yang ketampanannya dua kali lipatnya Nabi Yusuf a.s menyuruh umat laki-lakinya berpenampilan katrok? Yang benar saja, Mas!


Salah paham paling mengerikan akibatnya adalah menyangkut sabda Nabi SAW kepada Sayyidina Ali k.w yang kurang-lebih artinya berbunyi: “…kalau bertemu orang, suruh dia baca syahadat, dan kalau orang itu menolak, bunuh saja....” Salah paham atas hadits inilah agaknya yang menjadi akar keyakinan teroris yang akhir-akhir ini tampil ke permukaan.


Hadits sahih yang hampir pasti dikutip semua kitab kuning ini konteksnya adalah perintah ketika Ali r.a diangkat sebagai seorang panglima perang yang peperangannya melebar kemana-mana. Satusatunya cara mengetahui lawan atau kawan pada waktu itu adalah bersedia-tidaknya seseorang membaca syahadat. Jika tak mau membaca syahadat berarti lawan, dan jika bertemu lawan di medan peperangan pilihannya hanya membunuh atau dibunuh.


Di luar medan peperangan, Allah berfirman yang kurang-lebih artinya: “…tidak ada paksaan dalam beragama…” dan “…untukmu agamamu, untukku agamaku (maksudnya, saling bertoleransi kepada penganut agama lain)”. Nabi SAW pun lebih-kurang telah bersabda: “…hiduplah sesuka kalian, kelak di akherat nanti semua akan di pertanggung jawabkan….” Nabi SAW pun ketika memotong kambing selalu mengirimkan (memberi) dagingnya kepada tetangganya yang Yahudi dan Nasrani. Nah!


Masih banyak kesalahpahaman tentang ajaran Islam yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Islam yang elegan, indah, mulia, dan sebagainya yang pada intinya adalah “kualitas”, kesannya menjadi “berantakan” karena disalah pahami. Wallohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Islam Itu Soal Kualitas, Bung!"

Back To Top