Tersesat Masuk Surga

Istiqomah


Ucapkan “Tiada Tuhan selain Allah”, kemudian istiqomah-lah. Begitulah kira-kira Nabi SAW telah bersabda. Istiqomah itu kuranglebih artinya “lurus, tetap, setia, konsisten”. Jadi, setelah kita beriman, hendaklah kita tetap setia dan konsisten dengan iman kita. Uniknya, dalam Al Qur’an berulang-ulang dijelaskan, bahwa ke-istiqomah-an kita itu hanya dapat diperoleh jika kita selalu memohon pertolongan dan petunjuk Allah disertai dengan terus-menerus mencari ilmu. Jadi, iman dalam Islam itu sifatnya terbuka, tidak fanatik membabi buta, tidak “pokok men kudu ngene”. Dengan kata lain, salah satu syarat istiqomah dalam iman itu harus objektif-ilmiah.


Berulang-ulang pula Al Qur’an menyuruh manusia untuk meneliti, memperbandingkan, mengkaji, mempelajari dengan sungguh-sungguh mengenai agama ini. Perkara iman, perkara akherat, adalah soal nasib di kehidupan abadi. Sudah sepantasnya masalah gawat begini dipikirkan, dipertimbangkan, diteliti, dikaji secara sungguh-sungguh. Jangan sampai salah jalan, karena akibatnya sangat fatal yaitu, “neraka”. Na’udzubillah.


Seorang pernah bertanya: “bagaimana agar bisa istqomah dan apa ada amalannya?”. Sebuah pertanyaan yang gampang, tapi menjawabnya sulit. Memang, bertanya itu kadang lebih gampang daripada menjawab, begitu KH Abdul Mukhith Jejeran, pernah guyon; “Kalau asal jawab sih, semua orang juga pintar”. Kesulitan menjawab itu disebabkan biasanya karena kita sendiri belum merasa bisa istiqomah dalam soal ibadah. Sehari semalam itu 24 jam, berapa jam atau malah berapa menit atau malah berapa detik kita ingat kepada-Nya? Padahal, seseorang itu bisa dikatakan istiqomah kalau sepanjang waktu selalu ingat kepada-Nya. Atau minimal, ketika kita sholat, sepanjang sholat kita konsentrasi plus memahami plus menghayati pada apa yang kita ucapkan. Boro-boro sepanjang sholat, baru takbirotul ihrom saja kadang-kadang pikiran kita langsung melayang ke mana-mana.


Jadi, yang kita maksud dengan menjawab pertanyaan berkait dengan soal agama seperti pertanyaan di atas itu, bukan sekadar bisa menjawab dengan kata-kata, bukan sekadar “jarkoni”, iso ngujar raiso nglakoni (bisa bicara tapi tak bisa mengamalkan), tapi sudahkah kita melaksanakan jawabannya. Begitulah yang tidak gampang. Jangan seperti kebanyakan orang: kalau ngomong soal agama ndakik-ndakik, muluk-muluk, tapi tak pernah berusaha mengamalkan. Ada guyon: omongannya persis sufi (wali), tapi kelakuannya mirip sapi. Wah, wah, na’udzubillah.


Memang, agama itu untuk diamalkan, bukan hanya dibicarakan, diomongkan, didiskusikan, ngoto-ngototan. Kalau hanya begitu itu (Cuma diomongkan tanpa diamalkan), semua orang juga bisa. Salah-salah malah bisa jadi kaum munafik. Na’udzubillah. Akhirnya, jawaban singkatnya begini; Ada sahabat Nabi SAW yang selalu berdoa : Alloohumma innii as alukal istiqoomah. Arti doa itu: Ya Allah sungguh aku mohon kepadaMu (agar selalu bisa) istiqomah. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Istiqomah"

Back To Top