Tersesat Masuk Surga

Jenggot



Orang yang sejak kecil terus-menerus tekun beribadah dilandasi ilmu yang mumpuni, wajar bila di masa tua winasis, ngerti sak durunge winarah, sakti mandraguna, tahu tanpa melihat, mampu menebak isi hati orang lain. Contohnya mungkin nenekku, almarhumah Nyai Hajjah Sangidu Wonokromo, Pleret, Bantul. Beberapa kali aku “kena tembak” beliau. Salah satunya menyangkut soal jenggot. Memelihara jenggot itu termasuk (kebiasaan Nabi SAW), hukumnya sunat (boleh dikerjakan agar dapat pahala, tidak mengerjakan juga tidak dosa), sama dengan di hari Jum’at memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencabut bulu hidung yang mencuat keluar, mencukur kumis dan rambut kemaluan. Tahun 1998, aku banyak ketamuan teman-teman penggemar jenggot ini.


 

Jadilah waktu itu aku memelihara jenggot: ini sunnah, bung! Suatu waktu, aku dan beberapa saudara – om-tante, pakde-bude, mas-mbak keponakan -- berkumpul di rumah nenek. Kami berbincang-bincang di ruang tamu sementara nenek tiduran di kamarnya. Setelah kuperhatikan, diantara banyak laki-laki di tempat itu hanya aku sendiri yang memelihara jenggot . Wah, selain aku, semua sama menyepelekan sunnah ini, batinku. Kalau kami dari lingkungan santri saja menyepelekan sunnah jenggot, bagaimana pula dengan yang lainnya, gerutuku masih dalam hati. Ada bangga menyelinap di dada: aku lebih ‘alim dari mereka.

 

Saat itulah dari kamar tiba-tiba nenek memanggil namaku. Karena nenek memanggilku dengan panggilan kesayangan, aku buru-buru beranjak girang, seperti orang mau dapat rejeki nomplok. Mungkin, karena akulah satu-satunya anak-cucu nenek yang memperhatikan sunnahnya jenggot, pikirku. Ada lagak memenuhi rongga jiwa. Ketika kuhampiri nenek yang sedang tiduran, seperti biasa kami bersalaman dan tak lupa kucium tangan beliau. Tapi, saat hendak kulepaskan telapak tanganku, tiba-tiba telapak tangan nenek yang biasanya lembut, mencengkram dengan kuat. Begitu perkasa, baru itu kali kutahu. Aku kaget tak berkutik. Lebih kaget lagi, sepasang mata beliau yang biasanya bersinar penuh-kasih, kini mendelik-memerah-murka! Ini pasti gawat, batinku. Ada apa ini? Dengan nada marah, nenek memberondongkan kata-kata.

 

Yang paling gila, kata-kata nenek itu persis dengan yang ada dalam hatiku tadi. “Katamu, selain kamu, semua anak-cucuku menyepelekan sunnah jenggot, bla-bla-bla…” Waduh, sakit hatiku mendengarnya. “Tapi, memelihara jenggot itu sunnah,” aku mencoba bertahan. “Jenggot kayak kambing begini?” nenek menyahut makin marah menjambak jenggotku. “Dengar hai orang bodoh, Allah itu Maha Indah dan suka yang indah, bukan yang kayak kambing Jawa begini ini.

 

Kalau pun jenggotmu itu indah –berarti kamu menjalankan sunnah yang hukumnya sunat— pahalanya tidak akan bisa mengimbangi dosa kesombongan di hatimu!” -“Sombong bagaimana, Nek?”. “Hah?! Perasaanmu merasa lebih baik dari orang lain -dengan jenggot kambingmu ini- itulah kesombongan, takabur, berlagak! Cepat cukur jenggotmu! Kamu tidak pelihara jenggot itu tidak dosa. Pelihara jenggot itu sunat, tidak wajib. Tapi kamu wajib menghilangkan kesombongan di hatimu, kamu wajib melenyapkan perasaan merasa lebih baik dari orang lain. Baca lagi kitab-kitab mengenai Penyakit Hati!” Sekilas kuingat, barisan Habaib –keturunan Nabi SAW dan kyai-kyai zaman dulu itu baru mulai memelihara jenggot pada usia di atas 50 tahun. Terbayang, indahnya jenggot mereka, seindah sikap rendah-hati dan kesantunan serta kasih-sayang yang memancar dari seluruh gerak-gerik mereka. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Jenggot"

Back To Top