Tersesat Masuk Surga

Jum’at

Jum’at itu rajanya hari-hari, begitu sabda Nabi SAW. Keagungan Hari Jum’at bahkan melebihi Hari Raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Allah menganugrahkan Hari Jum’at untuk ummat Muhammad SAW. Orang Islam yang mati malam Jum’at atau hari Jum’at, bebas dari pertanyaan Alam Kubur, sejahtera sejak di sana, mati syahid. Sebelumnya, hari Sabtu adalah hadiah Allah untuk umat-umat terdahulu.

 

    Di Malam Jum’at dan Hari Jum’at, Allah melipatgandakan pahala ibadah minimal 10 kali lipat dibanding hari lain. Doa pun lebih didengar Allah. Taubat dan Istighfar lebih diterima. Tapi, kalau mengkhususkan puasa sunat di Hari Jum’at, makruh hukumnya, kecuali puasa wajib (nadzar, nyaur hutang, hajat). Kalau mau puasa, Kamis atau Sabtu juga harus puasa, atau Puasa Dawud. Demikian penjelasan para ulama. Di Mekah, orang - orang punya kebiasaan bersedekah pada malam Jum’at. Nasi dengan ayam utuh dan buah-buahan, roti, daging kambing, minuman sari buah, dan juga uang dibagi-bagikan. Kalau mau membuktikan, setelah Sholat Isya’, duduk saja di tepi jalan seputar Masjidil Haram barang seperempat jam: pasti dapat bagian.

 

Di pesantren, umumnya Malam Jum’at dijadwal baca Sholawat Nabi dan atau pembacaan Kitab Maulid Nabi SAW (Berjanjen, SimtudDuror, Dibak, dll), atau diisi tahlilan. Ngaji rutin libur. Sejak Malam Jum’at sampai Jum’at sebelum Ashar, biasanya para santri punya target minimal sudah baca Sholawat Nabi SAW seribu kali. Juga ada yang ditambah membaca Surat Al Ikhlas 200 kali.

 

Tentu puncak acaranya adalah Jum’at-an. Di zaman dahulu, orang-orang hebat pergi Jum’atan sejak pagi buta. Mereka berlomba paling awal datang. Kuku-kuku dipotong, bulu ketiak dan rambut hidung yang menjorok keluar dicabuti, kumis dicukur, jenggot dirapikan, rambut kemaluan dipotong, mandi keramas, gosok gigi, pakai baju yang paling bagus syukur-syukur putih, mengenakan serban, minyak wangi, demikian persiapan Jum’at-an yang disunatkan.

 

      Di masjid, menunggu acara dimulai, i’tikaf diisi dengan sholat sunat, baca sholawat-istighfar-tasbih-tahlil-Yasin-Al Ikhlas, dll, dengan suara lirih (agar tak mbrebeki orang lain karena hukumnya haram) dan membaca/memahami artinya, tafakur, introspeksi, renungan ukhrowi dsb. Hening. Tenang. In meditation. 

 

       Bila khotib telah naik mimbar, berarti acara inti telah dimulai. Harus lebih khusyuk, tak ubahnya sholat, agar sempurna pahalanya. Maka, khotib yang pandai itu khotbahnya to the point, pendek-ringkas-berisipadat-sederhana-jelas-ora nggedabyah, justru sholatnya yang panjang, begitu kurang lebih petunjuk Nabi SAW. Khusyuk itu dijaga sampai Sholat Jum’at berakhir. Wirid setelah Sholat Jum’at yang popular ialah istighfar 3 kali, Fatihah-Al Ikhlas-Falaq-An Nas masing-masing 7 kali (biasa dibilang wirid asuransi keselamatan, karena ada hadits yang mengabarkan, yang membacanya dijamin Allah selamat sampai Jum’at berikutnya), sholawat, dll. Ritus Jum’at, ritus penghapus dosa sepekan sebelumnya, ritus meraih sukses dunia-akherat dalam ridlo Tuhan Semesta Alam Raya. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Jum’at"

Back To Top