Tersesat Masuk Surga

Khauf dan Roja’

Khouf (khawatir, takut, cemas), menurut Syeikh Nawawi Al Bantani ialah bilamana hati seorang yang beriman tiada merasa aman dan tenang meskipun dia memiliki seluruh kebaikan makhluk karena khawatir Allah tak menerima satu pun dari amalnya. Roja’ (harapan) ialah tidak putus-asanya orang yang beriman dari rahmat (belas kasih) Allah meskipun dia memiliki seluruh dosa makhluk: selalu menanti rahmat Allah dan berprasangka baik kepada-Nya. Para ulama, misalnya Imam Al Ghazali dan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani memberikan petunjuk, khouf itu harus ditekankan pada masa muda dan roja’ itu mesti dikuatkan di masa tua. Secara lebih spesifik, khouf itu dihayati ketika nafsu menginginkan keburukan, dan roja’ itu dikedepankan bila seseorang telanjur tergelincir di jurang kekhilafan. Dengan begitu, dosa dapat dicegah dan putus asa dapat ditepiskan.


Memang, Allah itu Maha Pengampun. Belas kasih dan ampunan-Nya meliputi segala semesta. Dosa sebesar dan sebanyak apa saja, tak lebih dari setetes air di tengah samudera bila dibandingkan dengan Maha Kasih-Nya. Cukup dengan memohon, Dia akan memberi, karena Dia memang Maha Pemberi. Persoalannya adalah banyaknya dosa itu umumnya merebakkan keputus-asaan. Syetan pun menungganginya. Selain itu, adakalanya seseorang keburu kehabisan usia (meninggal) sebelum sempat bertaubat. Sungguh tepat wasiat Al Mustofa SAW, bahwa tergesa-gesa itu seluruhnya dari syetan kecuali dalam perkara membayar hutang, menikahkan anak gadis yang sudah masanya menikah dan bertaubat.


Secara umum juga, besarnya roja’ seseorang itu korelatif dengan besarnya khouf. Orang yang di masa muda khouf-nya besar, tentulah besar roja’-nya di masa tua. Perkecualian tentu saja dalam hal ini ada. Jangankan mengenai hal ini, sedangkan 1000 orang beriman pun 1 diantaranya mati sebagai orang kafir na’udzubillah sebagaimana 1000 orang kafir 1 diantaranya mati sebagai orang beriman.


Ada pendapat, guna menambah khouf itu dapat dilakukan dengan menghayati ayat-ayat Al Qur’an. Ini sesuai dengan sabda Imam Al Ghazali bahwa pada hakekatnya setiap ayat Al Qur’an itu membuat hati yang bersih menjadi takut, ngeri, bergidik. Tak heran, jika Syeikh Abdurrahman As Sudais (baca: Sudes) dan imam-imam Haramain (Mekah-Madinah) sering terguguk manakala membaca Al Qur’an dalam sholat mereka. Sedangkan untuk menumbuhkan besarnya roja’ itu dapat di-ikhtiar-i dengan banyak membaca sholawat Nabi. Akhir-akhir ini, banyak penceramah agama baik di media elektronik maupun di tempat-tempat ibadah, lebih banyak menekankan segi roja’ dan acapkali kurang menekankan khouf. Ceramah seperti itu hanya membohongi, membodohi, melenakan sekaligus menghibur pemirsa/pendengar. Ibarat racun yang diberi rasa manis. Memang, ceramah dengan tekanan khouf itu ibarat jamu: pahit tapi berkhasiat. Meskipun berkhasiat, tidak banyak orang yang kuat menahan kepahitannya. Apalagi, ditengah merebaknya dosa pada zaman akhir seperti sekarang.


Mungkin, ada motivasi selain ukhrowi yang menjadi sebab ceramah agama bernuansa hiburan tersebut : agar tetap laris diundang, digemari banyak orang, takut dibenci dan dijauhi orang, dan sebagainya. Hal seperti itu jelas tidak tepat. Sudah seharusnya bahwa ketika seseorang membicarakan agama, tidak boleh ada motif duniawi, harus semata dipenuhi gairah ukhrowi. Jika dibandingkan ceramahnya salafus salihin, jelas bertolak-belakang. Orang-orang dahsyat tersebut bila bertausiah tak jarang membuat pendengarnya bercucuran air mata bahkan tak jarang sampai membuat mereka pingsan karena tekanan khouf yang diberikan.


Memang, ceramah agama itu adakalanya perlu dibumbui humor. Sekadar membuang rasa bosan dan mengusir serangan kantuk. Nabi SAW suka memberi humor kepada para sahabat r.a. Tapi, yang namanya bumbu, tentu harus proporsional. Kalau ceramahnya keterlaluan dalam berhumor, lalu apa bedanya dengan lawakan. Walloohu a’lam


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk " Khauf dan Roja’"

Back To Top