Tersesat Masuk Surga

Mengagungkan Nabi SAW


Pribadi Nabi Muhammad SAW yang teduh, anggun, kasih dan agung secara objektif diakui baik oleh orang non-Islam maupun orang Islam. Michael J Hart seorang ilmuwan non-Islam, menempatkan Muhammad SAW dalam urutan 100 tokoh paling berpengaruh di dunia dalam urutan pertama. Syeikh Nawawi Al Bantani menempatkan pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai cabang keimanan yang ke 9 diantara keseluruhan cabang-cabang keimanan yang menurut beliau ada 77. Mengagungkan, adalah tingkatan lebih tinggi sekaligus campuran dari menghormati, menyayangi dan mencintai. Ada pula unsur kerinduan dan keinginan untuk meniru perilaku yang diagungkan. Ibarat si A mengidolakan si B, tentulah si A berusaha mati-matian meniru apa saja yang dilakukan oleh si B. Termasuk pula unsur ketaatan sekalian ketakjuban. Jika mencermati sejarah kehidupan beliau secara objektif, adakah orang berakal yang berani untuk tidak mengagungkan? Bahkan musuh yang paling membenci sekalipun, sejujurnya tergetar oleh keagungan beliau SAW. Hanya orang-orang yang tidak cerdas dan tidak jujur sajalah yang tidak mau mengagungkan beliau SAW.


 

Entah sudah berapa milyar halaman buku dituliskan oleh sejarahwan, filsuf, penyair, sastrawan, sosiolog, psikolog dan ilmuwan lainnya yang berisi sanjungan dan pujian mengenai keagungan pribadi beliau SAW. Pujian dan sanjungan tersebut semuanya diakui tidak mampu mengungkapkan keagungan beliau SAW yang ketinggiannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mengenai kehadiran (kelahiran) beliau SAW, Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dari Yaman (1259 H-1333 H) dalam kitab Simtud Duror kurang lebih menuliskan: “Aduhai, betapa agung karunia Allah// dilimpahkan atas manusia// Betapa luas nikmat Allah bertebaran hikmahnya// Di lautan dan daratan luas merata.” Semakin kita mengetahui dan memahami pribadi beliau SAW, semakin menjulang perasaan mengagungkan beliau SAW dihati kita. Sebagaimana Abdur Rozak meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah Al Anshori r.a, bahwa Jabir pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku sebagai tebusanmu, ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu yang mula-mula diciptakan Allah sebelum yang lain diciptakan.” Rasulullah SAW menjawab: “ Wahai Jabir, sungguh Allah sebelum menciptakan segala sesuatu, telah menciptakan Nur (ruh) Nabimu, Muhammad SAW, dari Nur-Nya.”

 

Hadits yang sejenis dengan hadits diatas, dengan sanad dan perawi yang berbeda dan dengan redaksi kata-kata yang tidak sama namun dengan isi dan makna yang sama, sangat banyak. Secara jasmani, nenek-moyang manusia adalah Nabi Adam a.s. Namun secara ruhani, nenek-moyang manusia adalah Nur Muhammad SAW. Bahwa “terasa berat bagi beliau SAW setiap penderitaan kalian, sangat menginginkan kalian mau beriman (agar selamat di akherat kelak),” menjadi masuk akal, karena pada hakekatnya secara ruhani kita ini adalah anak-cucu beliau SAW.

 

Demikian kurang-lebih Tuan Guru Ahmad Zaini Ghani Martapura almaghfurlah pernah menjelaskan. Para ulama, termasuk diantaranya Syeikh Nawawi Al Bantani, memberikan salah satu cara praktis dalam mengungkapkan rasa pengagungan kepada beliau SAW, yakni dengan memperbanyak membacakan sholawat kepada beliau SAW. Lebih jelasnya, termasuk mengagungkan beliau SAW adalah dengan memperbanyak membacakan sholawat kepada beliau SAW. “Sungguh Allah telah melimpahkan sholawat kepada Nabi SAW, malaikat pun memohonkannya. Maka, wahai orang-orang yang beriman, bacakanlah sholawat kepadanya SAW.”

 

        Demikian kurang-lebih arti ayat 29-30 dari Al Qur’an surat Al Ahzab, ayat yang hampir selalu dibaca para khotib jum’at. Secara matematis, Nabi SAW sudah sangat kecukupan dengan sholawat, meskipun andaikata tak seorang pun membacakan sholawat untuk beliau SAW. Namun, kita sebagai orang beriman-lah yang butuh dan perlu membacakan sholawat kepada beliau SAW karena Allah memerintahkan dan setiap sekali kita membacakan sholawat untuk beliau, Allah berkenan melimpahi kita sholawat sepuluh kali lipat. Tentang hal ini, mudah-mudahan dapat kita tuliskan secara lebih panjang dalam judul tulisan yang lainnya, amin. 

 

        Apakah sholawat? Secara simpel, sholawat adalah = kasih + sayang + pengagungan + kerinduan + keberkahan + kebaikkan-kebaikkan lainnya. Sholawat yang bagaimana yang kita baca? Sholawat kepada beliau SAW itu bermacam-macam susunan kata-katanya, pun dalam berbagai ragam bahasa. Minimal, susunannya adalah : Allaahumma solli ‘alaa Muhammad ( huruf “a” dobel dibaca panjang ), yang artinya “Ya Allah, limpahkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW”. Dalam bahasa kita (Indonesia), penyair Taufik Ismail telah menulis “sajak sholawat” yang dinyanyikan grup musik Bimbo: Rindu kami padamu, Ya Rasul// Rindu tiada terperi// Berabad jarak darimu Ya Rasul// Serasa dikau di sini// Cinta Ikhlasmu pada manusia// Bagai cahaya suwarga// Dapatkah kami membalas cintamu// Secara bersahaja. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Mengagungkan Nabi SAW"

Back To Top