Tersesat Masuk Surga

Menyambut Ramadhan dengan Sukacita



  1. Barang siapa gembira dengan datangnya Bulan Ramadhan, Allah mengharamkan orang tersebut dari neraka,

  2. Andai umatku tahu kandungan Bulan Ramadhan tentulah mereka menginginkan Ramadhan sepanjang tahun,

  3. Ramadhan itu bulan penuh rahmat, ampunan dan anugrah,

  4. Takkan rugi orang yang berdoa di Bulan Ramadhan, demikianlah

 

       Kurang-lebih beberapa sabda Baginda SAW. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah bagi orang yang beriman. Begitu banyak sabda Tuan Kita SAW tentang keistimewaan, kedahsyatan, keindahan beserta peluang ukhrowi di bulan suci ini.

 

   Beberapa ulama mengatakan, puasa sehari di Bulan Ramadhan nilainya lebih tinggi daripada puasa 1.000 (seribu) hari di luar Ramadhan. Bahkan, saking hebatnya Ramadhan, tidurnya orang yang berpuasa saja dihitung sebagai ibadah! Lapar-dahaga sepanjang hari karena puasa, terasa sangat ringan dibandingkan anugrah Allah yang melimpah ruah.

 

   Fasilitas yang disediakan Allah di Bulan Ramadhan ini tak berarti apa-apa bagi orang yang tak mau mengaksesnya (mengambilnya). Bahkan syetan yang telah diikat sehingga tak lagi bisa menggoda pun, tak berarti bagi ahli maksiat sejati. Mestinya syetan yang menggoda orang untuk maksiat, eh, di Bulan Ramadhan, tukang maksiat malah menggoda syetan.

 

  Mesti diingat, di saat-saat pahala dilipatgandakan seperti di Bulan Ramadhan, dosa pun dilipatkan pula. Maksudnya, maksiat di Bulan Ramadhan, tentulah dosanya lebih besar daripada di luar Bulan Suci tersebut. Tentu saja, pahala dan dosa itu manfaat dan akibatnya hanya dapat dilihat dan dirasakan setelah kita mati.

 

      Mengenai pahala dan dosa ini, penulis teringat pangendikan salah seorang guru, Sohibul Fadlillah Almaghfurlah KH Abdul Mukhith Jejeran, Pleret, Bantul: Selagi kita hidup di dunia, kita tak bisa melihat manfaat dan akibat dari pahala dan dosa, tetapi kita bisa menghasilkan keduanya (pahala-dosa). Kalau kita telah mati, kita bisa melihat manfaat dan akibat dari pahala dan dosa, tetapi kita sudah tak bisa menghasilkan keduanya, kecuali yang bersifat jariyah (mengalir terus-menerus, yaitu: doa anak soleh bagi orang tuanya, ilmu/contoh baik yang bermanfaat/terus diamalkan orang dan sodaqoh jariyah). Sungguh beruntung orang yang mati sekaligus berhenti pula jumlah rekening dosanya. Kebanyakan manusia seperti Qobil: sudah mati tapi terus saja dosanya bertambah. Mengapa? Karena semasa hidup, mereka mengajari/memberi contoh orang lain bermaksiat. Setiap ada pembunuhan manusia, rekening dosa Qobil bertambah, karena dialah yang pertama kali mengajari orang untuk membunuh orang lain. Demikianlah, setiap guru bertanggungjawab atas akibat pengajarannya. Memang kebangetan bodohnya orang yang tak mau berpuasa di Bulan Ramadhan itu. Apa beratnya tidak makan + tidak minum + tidak bersetubuh/onani/masturbasi dari Subuh sampai Maghrib? Memang, itu dilakukan sepanjang bulan. Tapi, bukankah di malam hari kita bisa makan + minum + bersetubuh (dengan suami/istri lho) sepuas-puasnya? Lagi pula, bukankah ilmu kedokteran mengatakan(Nabi SAW sejak dahulu juga sudah menjelaskan) bahwa puasa itu bikin badan tambah sehat? Kalau badan tambah sehat, bukankah jiwa pun diharapkan juga makin waras?

 

 Tapi, banyak orang berpuasa hanya dapat lapar dan dahaga, kirakira demikianlah sabda Al Mujtaba SAW. Mengapa? Mereka tak makan tak minum tapi terus saja bergunjing, dusta, adu-domba, memfitnah, iri, takabur, caper (cari perhatian), riya’, korupsi, maling, suap-menyuap, mengganggu orang lain, mengumbar aurat, matanya jalang menatap aurat orang, dll.

 

Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang Engkau berikan keberuntungan dunia-akherat. Jadikan kami orang-orang yang memperoleh anugrah-Mu yang melimpah ruah di Bulan Ramadhan. Amin. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Menyambut Ramadhan dengan Sukacita"

Back To Top