Tersesat Masuk Surga

Nyawal

Berpuasa enam hari di Bulan Syawal, pahalanya sama dengan berpuasa satu tahun, begitulah kira-kira Nabi Muhammad SAW telah bersabda. Muncullah istilah “nyawal”, maksudnya puasa enam hari di Bulan Syawal. Umumnya, pada hari kedua lebaran, “nyawal” langsung dimulai. Setelah selesai “nyawal”, ada “budo kupat”. Di beberapa komunitas santri, khususnya di pesisir utara, “budo kupat” malah lebih meriah daripada hari pertama lebaran.

Sabda Nabi SAW diatas sebetulnya tidak mensyaratkan tentang bagaimana teknis pelaksanaannya. Bisa dimulai tanggal 2 lebaran, bias mulai tanggal berapa saja, yang penting masih di Bulan Syawal. Bisa dilakukan berturut-turut, bisa dengan dicicil. Yang penting, jumlah puasanya 6 hari di Bulan Syawal. Tentu saja, tidak boleh berpuasa (haram hukumnya) berpuasa pada tanggal 1 Syawal.

Dalam kitab-kitab fikih malah dijelaskan, seseorang yang berpuasa di Bulan Syawal dalam rangka menyahur utang puasanya misalnya, otomatis mendapat pahala seperti diterangkan hadits tersebut kalau jumlah puasanya 6 hari atau lebih. Maka, para santriwati biasanya nyahur utang puasa di Bulan Syawal agar dapat pahala dobel: nyahur utangnya sah, dapat pahala puasa “nyawal” pula. Apalagi kalau puasanya jatuh pada hari Senin atau Kamis, berarti pahalanya tiga macam (tree in one): pahala nyahur puasa, pahala puasa “nyawal’, dan pahala puasa di Hari Senin dan Kamis. Allah Maha Pemurah, memang begitulah senantiasa.

Bagi yang mengamalkan sunatnya Puasa Dawud, maksudnya puasa seperti Nabi Dawud a.s, yakni puasa tiap 2 hari sekali (sehari puasa sehari tidak puasa berselang-seling), tentu saja otomatis di Bulan Syawal memperoleh pahala “nyawal”. Kalau kebetulan lagi nyahur utang puasa dan pas Senin atau Kamis, pahalanya jadi 4 macam: pahala nyahur, pahala Puasa Dawud, pahala “nyawal”, dan pahala Puasa Senin-Kamis.
 Yang harus diperhatikan, jika hendak memohon pahala puasa yang bermacam-macam seperti contoh diatas, kalau sambil nyahur utang puasa tentu wajib berniat pada malam harinya. Niat yang diucapkan pun cukup satu: niat nyahur puasa. Dengan satu niat tersebut, otomatis sudah tercakup niat-niat puasa sunat yang lainnya. Sudah kita maklumi bahwa puasa yang sifatnya wajib seperti nyahur utang itu pelakunya harus berniat pada malam harinya sampai sebelum Imsak (10 menit sebelum Subuh). Sedangkan dalam puasa Sunat itu niat boleh dilakukan pada pagi hari sampai sebelum Dzuhur jika pelaku belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak Imsak. Memang, setelah sebulan puasa, kalau tidak “nyawal” kok rasanya ada yang kurang lengkap. Ya, badan barangkali minta penyesuaian keadaan: “nyawal” itulah jawabannya. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Nyawal"

Back To Top