Tersesat Masuk Surga

Puasa Dawud


Nabi Dawud a.s, King David, salah kaprah ditulis dengan tanpa huruf W: Daud, padahal dalam Bahasa Arab penulisannya memakai huruf Wawu dan memakai huruf V dalam Bahasa Inggris. Nabi sekaligus raja ini ditakdirkan Allah tak pernah kalah dalam peperangan. Raja Jalut atau Goliat yang besar-kekar-perkasa pun tewas dalam perang tanding melawan Dawud a.s / David yang mungil. Sampai kini, kalau ada pertarungan si Besar lawan si Kecil, selalu diingatkan mengenai kisah legendaris ini. Nabi Dawud a.s berputra Nabi Sulaiman a.s (King Salomon) yang terkenal sebagai raja paling bijaksana sepanjang masa. Sulaiman a.s juga dapat berbicara dengan hewan dan makhluk lainnya. Demikian Al Qur’an mengabarkan kepada kita.

 

Berbagai riwayat menginformasikan, Nabi Dawud a.s memiliki sekitar 300 istri, sedangkan Nabi Sulaiman a.s memiliki 600 permaisuri dan 400 selir. Riwayat lain mengatakan, jika Nabi Dawud a.s membaca kitab Zabur, semua makhluk Allah terpukau kemerduannya. Bahkan burung yang tengah terbang di udara, air yang hendak menetes, angin yang tengah bertiup seketika berhenti di tempatnya bak terkena sihir kemerduan suara Sang Nabi. Ada pula yang meriwayatkan, ketika beliau beribadah, yakni meniup seruling sambil menari, seketika alam semesta takjub menyaksikannya.

 

     Salah satu warisan Nabi Dawud a.s yang sampai kepada kita ialah kebiasaan beliau dalam berpuasa. Rasulullah Muhammad SAW kurang-lebih telah bersabda: sebaik-baik puasa (sunat) ialah puasanya saudaraku Dawud, yakni sehari puasa sehari berbuka. Demikianlah, di kalangan santri pesantren tradisional, Puasa Dawud ini menjadi salah satu alternatif selain puasa Senin-Kamis, Hari Putih (tg 13-14-15 bulan hijriah), dll. Almaghfurlah KH. Daldiri Lempuyangan Yogya, yang kini diteruskan KH Misbahul Munir (ada yang memanggil Gus Misbah, tapi lebih suka dipanggil Kang Misbah) beserta ratusan barisan santri beliau yang umumnya penghapal Qur’an, punya kebiasaan mengamalkan Puasa Dawud ini. Ada yang menjalankan selama 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, bahkan ada yang seumur hidup. “Puasa Dawud dengan cara pindah jadwal makan, maksudnya kalau pas tidak puasa diperbanyak makannya, masih lebih baik daripada tidak puasa,” begitu kira-kira Kang Misbah pernah berkata.

 

Yang hampir jadi mitos mengenai Puasa Dawud ini, agaknya Almaghfurlah KH Masrukhan Dahlan, salah satu keturunan langsung Sunan Kalijaga, yang pesantrennya di Demak dikenal dengan Pondok Wali. Hampir semua santri tradisional yang hendak menjalani Puasa Dawud merasa perlu memohon ijazah (doa-restu) kepada beliau. Kisah Puasa Dawud di kalangan pesantren tradisional tentu takkan ada habisnya.

 

Di kalangan santri modern, soal ini juga tak kalah serunya. Mungkin, Prof. Dr. M. Amien Rais, tokoh reformasi itu, adalah mitosnya Puasa Dawud di kalangan modernis. Beliau, sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar menjalankan Puasa Dawud, sampai tulisan ini dibuat (2008), artinya usia beliau sudah memasuki 70-an tahun, masih konsisten puasanya. Konsisten pula kabar kesehatannya (rasanya belum pernah kita mendengar beliau masuk rumah sakit). Tentu, sehatnya Pak Amin Rais tersebut, mengingatkan kita kepada sabda Nabi SAW: kalian (banyaklah) berpuasa, maka kalian akan sehat. Jadi, banyak puasa itu kadang memang bikin masuk angin, tapi tidak kena penyakit yang gawat-gawat.

 

Sekarang ini, orang modern sudah banyak yang ikut-ikutan mengamalkan puasa Dawud. Malah, pakar pengobatan Prof.Dr. Hembing Wijaya pernah mengatakan, obat paling mujarab itu ya banyak puasa. Ini tentu sejalan dengan keyakinan yang diwariskan para ulama salaf seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali sampai Imam Al Ghazali.

 

Adapun faedah lain memperbanyak puasa, seperti sudah kita ketahui yaitu: menyempurnakan puasa wajib, menghapus dosa, melatih kesabaran, memperpanjang usia, menarik rejeki, meningkatkan kecerdasan, menambah pesona sekaligus wibawa, mudah teringat akherat, menyulitkan syetan, membuat awet muda, gampang jodoh, banyak keturunan, dan lain-lain. 

 

Perlu diingat, ketika kita hendak menjalani ibadah sunat seperti puasa Dawud ini, seyogyanya lebih dahulu kita konsultasi dengan ulama akherat yang betul-betul paham ilmu dan bijak. Itulah agaknya para santri memohon ijazah seperti kepada KH Masrukhan Dahlan di atas. Syetan itu, tidak hanya mengajak kita berbuat maksiat, tapi kadang juga menyuruh kita rajin beribadah untuk kemudian diagendakan ketersesatannya, na’udzubillah. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Puasa Dawud"

Back To Top