Tersesat Masuk Surga

Riba



Bismillaah, wal hamdu lillaah, wash sholaatu was salaamu ‘alaa Rosuulillaah: Muhammad ibni ‘Abdillaah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wa ba’du: Ada lembaga mencari laba, ada lembaga tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. Lembaga mencari laba adalah perdagangan dalam berbagai bentuk, lembaga tolong-menolong diantaranya adalah zakat, sodaqoh, infak, dan utang-piutang.


>Utang-piutang

Utang-piutang sebagai salah satu lembaga tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa bertujuan mendapat pahala dan ridlo Allah di akherat, dan barokah kemudahan dan kelimpahan rejeki di dunia, dll. Memberi hutang nilainya sama dengan sodaqoh, malah ada pendapat: melebihi sodaqoh. Siapa saja yang suka menolong hamba Allah, Allah pun suka menolongnya, begitu hadits yang sudah sering kita baca.


Aturan utang-piutang yang benar adalah: pemberi hutang tidak memungut/meminta imbalan/tambahan dalam bentuk apapun dan dalam persenen berapapun dari yang hutang. Kebalikannya disebut RIBA. “Siapa yang menolong (meminjami) saudaranya, lalu saudaranya tersebut memberinya hadiah/pemberian, dan hadiah itu dia terima, benar-benar dia telah membuka pintu besar diantara pintu-pintu riba (HR Abu Dawud dan Baihaqi).


>Riba

Riba adalah utang-piutang yang bertujuan mencari laba, secara langsung atau tidak langsung, dengan tambahan (bunga) besar atau kecil, dengan kesepakatan antara yang memberi hutang dan yang hutang. Dengan kata lain, riba itu utang-piutang dengan akad (kesepakatan) bahwa yang hutang akan mengembalikan melebihi yang dihutangnya. Utang-piutang yang mengambil laba, atau manfaat tertentu dari yang hutang, apapun bentuk dan caranya, disebut riba. Ilustrasi: Suatu siang, Imam Hanafi kepanasan di jalan. Dia lantas berteduh di balik tembok pagar rumah orang. Setelah beliau perhatikan, ternyata tembok rumah itu penghuninya berutang kepada beliau. Cepat-cepat beliau temui orang tersebut dan mengatakan: utangnya kepada beliau dianggap sudah lunas. Beliau melakukan hal itu karena khawatir melakukan riba: mengambil manfaat dari tembok rumah orang yang dihutanginya. Memang, seperti sabda Nabi SAW, orang yang taqwa itu sering meninggalkan sesuatu yang mubah karena khawatir terjatuh ke dalam kemaksiatan. Itulah wira’i, hati-hati karena taqwa.


>Hukum Riba

Para ulama sepakat, riba itu hukumnya DOSA BESAR. Dalam kitab Al Kabair yang telah ditashihkan/direkomendasikan ahli-ahli fiqih modern Al Azar University Kairo, Al Imam Al Hafidz Muhammad Syamsiddin Adz Dzahabi menempatkan pada urutan ke 12 diantara 70 dosa besar lainnya. Tidak ada khilafiyah (perbedaan pendapat) para ulama mengenai hukum

riba ini.

  

>Ancaman Riba

Pada Al Baqoroh 275-281 Allah mengecam, mengutuk, memusuhi dan mengancam para pelaku riba. Allah akan memusnahkan (pelaku) riba, memasukkan ke neraka jahanam secara kekal, dsb. Kecuali, orang yang setelah tahu langsung mau bertobat. Kita dengan mudah menemukan banyak hadits yang berisi laknat Allah dan Rasul-Nya kepada para partisipan/pelaku riba: yang memberi utang, yang utang, yang jadi saksi, yang mencatatkan.


Hasil dari riba hukumnya HARAM. Jika barang haram dikonsumsi, bikin sengsara di akherat (neraka) dan celaka di dunia (membuat harta halal yang tercampur mudah binasa, menimbulkan penyakit-penyakit berat (terutama di masa tua), mendorong kemaksiatan, berat menjalani ibadah, jadi orang “ngantuk-an”). Jika disodaqohkan, tidak menghasilkan

pahala sama-sekali, malah dianggap menghina Allah, na’udzubillaah.


>Sejarah Riba

Fenomena riba sudah ada sejak zaman Nabi Musa a.s. Pelakunya kaum Yahudi. Modus dan caranya terus-menerus diganti-ganti, menyesuaikan perkembangan zaman.Riba ini pula yang melahirkan/ mengilhami aliran filsafat dan pemikiran ‘besar’: materialisme, eksistensialisme, kapitalisme, sistem moneter internasional dengan perbank-an modern, dll yang membikin kesenjangan sosial antar manusia semakin lebar. Khusus mengenai bank umum, MUI (Majelis Ulama Indonesia) dengan tegas menyatakan hukumnya riba. 


Para guru (Sohibul Fadlilah KH Abdul Mukhith, Al Alamah Al Arif Billah Tuan Guru Ahmad Zaini Ghani, dll) mengatakan, kita boleh berhubungan/menggunakan jasa bank umum jika hanya sebatas untuk menyimpan uang dan alat transaksi. Bunga bank umum tidak boleh kita gunakan, tidak boleh kita sodaqohkan kepada fakir-miskin yang soleh, tidak boleh kita infakkan untuk membangun sarana ibadah (masjid, musholla, dll), hanya boleh diinfakkan untuk sarana umum (jalan, jembatan, dll), diberikan kepada fakir-miskin yang belum soleh. Ingat, hasil dari riba itu HARAM. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Riba"

Back To Top