Tersesat Masuk Surga

Riya’



Ketika kiamat kelak, yang mula-mula diperiksa amalnya adalah tiga golongan insan. Pertama, orang yang semasa hidupnya di dunia diberi ilmu (ilmuwan, ulama, cendekiawan, intelektual). Kepada mereka, Allah bertanya, ”apa yang kau perbuat atas ilmumu?” Mereka menjawab, “Ya Tuhanku, aku mengamalkan di tengah malam dan di tepi siang dengan mengharap ridlo-Mu”. Maka, Allah pun berfirman,” bohong kamu”. Para malaikat juga menyahut, “Bohong kamu’, dulu kamu hanya ingin disebut (terkenal, popular) sebagai ulama/ilmuwan/intelektual, dan hal itu sudah terlaksana.


Kedua, orang yang semasa hidupnya dilimpahi harta. Allah bertanya, “apa yang kau perbuat atas hartamu?” Mereka menjawab, “Ya Tuhanku, kusodaqohkan di tengah malam dan di tepi siang karena mengharap ridlo-Mu”. Allah berfirman, demikian pula para malaikat menjawab; “kamu bohong, kamu bersodaqoh agar disebut dermawan, dan itu sudah tercapai”.


Ketiga, orang yang gugur di medan perang. Allah menanyai, apa tujuan mereka berperang hingga gugur. Mereka menjawab, “Ya Robbi, Kau perintahkan kami berjuang, maka kami pun terjun ke medan pertempuran hingga berkalang tanah dengan mengharap ridloMu”. Allah berfirman, “Dusta kamu, kamu hanya ingin disebut pemberani/ pahlawan, dan itu sudah tercapai”. Ketiga golongan insan tersebut, menjadi bahan bakar pertama penyalaan api neraka jahanam, na’udzubillah (kita berlindung kepada Allah) dari hal seperti itu.

 

Demikianlah kurang lebih salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang sangat populer itu. Hadits di atas berkait dengan penyakit hati yang wajib dibersihkan: riya’. Yang dimaksud riya’ yaitu beramal/berbuat tidak semata-mata karena memohon ridlo Allah. Berbuat karena tujuan selain Allah, misalnya mengharapkan pujian/pengakuan/ popularitas itulah riya’ yang nyata. Berbuat karena mengharap pahala sekaligus pujian manusia, itu pula riya’ sejati. Beramal agar di akherat masuk surga dan kaya-raya terhormat mulia di dunia, itu riya’ juga. Berhaji agar masuk surga sekaligus ingin lebih dihormati dan dipanggil “Pak Haji-Bu Haji” juga riya’ yang kentara. Menceritakan ibadah yang pernah dilakukan dengan bangga, pasti didorong keinginan mendapat pujian pendengarnya, so pasti termasuk riya’.


Imam Al Ghazali malah menjelaskan, semua amal/perbuatan/ ibadah yang tujuannya tidak murni ukhrowi/akherat, termasuk riya’. Dalam Mahakarya Ihya Ulumuddin, Beliau memberi ilustrasi yang sangat terkenal mengenai rumit dan njlimetnya: riya’ itu seperti semut hitam yang merangkak di batu hitam di malam gelap gulita. Hanya insan yang mendapat pertolongan Allah saja yang selamat dari penyakit hati yang sangat membahayakan ini. Mengenai bahaya riya’, Rasulullah SAW telah bersabda: riya’ itu syirik/musyrik kecil. Adakah dosa yang lebih dahsyat ketimbang syirik (menyekutukan, menduakan Allah)? Biarpun kecil, karena menyangkut syirik, dosa riya’ itu besarnya “sak hohah”. Pantaslah kalau pelakunya dijadikan bahan bakar pertama untuk menyalakan neraka jahanam, na’udzubillah.

 

 Demikianlah, memang manusia diciptakan tidak untuk menyembah selain Allah, karena memang Allah menghendaki manusia itu merdeka/ independent di dunia maupun di akherat, dan hal itu hanya terjadi jika dia hanya menyembah Allah semata, laa ilaaha illaallaah (tiada Tuhan selain Tuhan), Muhammad rasulullah (sesuai dengan yang diajarkan Muhammad SAW Rasul/Utusan Allah) Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Riya’"

Back To Top