Tersesat Masuk Surga

Ruwah dan Nisfu Sya’ban

Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisi-Mu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rejeki, maka hapuskanlah (semua itu). Hapuskanlah, Ya Allah, dengan anugrah-Mu: celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rejeki dan tetapkanlah aku di sisimu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang beruntung, luas rejeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah bersabda dan sabda-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab. Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat segala perkara yang ditetapkan dibedakan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi Rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin. Demikianlah kurang-lebih terjemahan doa Nisfu Sya’ban yang diajarkan Nabi SAW kepada kita, doa yang sudah sangat terkenal, terlebih di kalangan pesantren.

 

Ritus Nisfu Sya’ban yang hukumnya sunat ini, dilaksanakan setelah Solat Maghrib. Bagi yang bisa membaca Al Qur’an, diperintahkan membaca surat Yaa Siin 3 x. Setelah membaca Yaa Siin sekali, diteruskan berdoa: mohon panjang umur untuk beribadah dan taat kepada Allah. Setelah membaca Yaa Siin yang kedua, berdoa: mohon rejeki yang halalbarokah-mudah-banyak untuk bekal beribadah kepada Allah. Adapun setelah membaca surat Yaa Siin yang ketiga, berdoa: mohon dikuatkan iman dan diberi khusnul khotimah. Setelah selesai, barulah membaca doa Nisfu Sya’ban yang terjemahannya telah dituliskan diatas.

 

Jika kita renungkan, dengan ritus Nisfu Sya’ban itu Nabi Tercinta SAW mengajari kita cara memperbaiki perjanjian nasib (garis takdir) kita di hadapan Allah. Seperti telah diketahui, di zaman Azali, saat kita masih berupa ruh, kita telah menyepakati perjanjian nasib kita di hadapan Allah. Di saat kita berupa janin empat bulan, Allah kembali menegaskan garis nasib kita. Nasib, takdir, sebuah misteri yang tak terjangkau akal. Tapi, yang penting: Allah memberi kita nasib dan takdir yang baik. Mari kita nikmati fasilitas Nisfu Sya’ban tersebut. Walloohu a’lam

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Ruwah dan Nisfu Sya’ban"

Back To Top