Tersesat Masuk Surga

Siswa Teladan



Di dalam kitab kuning, banyak kisah nyata dituliskan. Salah satunya yang populer kurang-lebih sebagai berikut. Seorang guru punya beberapa siswa. Diantara para siswa tersebut, ada satu siswa yang sangat disayangi. Sebut saja namanya si A. Hal itu membuat siswa-siswa lainnya merasa tidak terima. Sang Guru tahu akan hal itu. Para siswa pun dikumpulkan. Setiap siswa diberi seekor ayam jago dan sebilah pisau. “Carilah tempat yang tak terlihat oleh siapapun. Sembelihlah ayam kalian di tempat itu. Kalau sudah kalian kerjakan, kembalilah berkumpul di sini.” Begitulah perintah sang Guru kepada para siswanya. Para siswa segera melaksanakan perintah tersebut.


 

Beberapa saat kemudian, satu persatu siswa telah kembali. Masing-masing membawa ayam jago yang telah mereka sembelih di tempat yang tak terlihat oleh siapapun menurut mereka masing-masing. Ketika ditanya, ada yang menyembelih di tengah semak-semak. Ada yang di gua. Ada yang di dalam gubuk,dan sebagainya. Semua siswa sudah kembali berkumpul di tempat itu, kecuali si A. Para siswa pun merasa menang. Sang Guru hanya tersenyum kecil. Setelah lama mereka menunggu, akhirnya si A datang. Anehnya, ayam jago yang dibawanya belum disembelih. Siswa-siswa lain pun merasa lebih menang lagi. “Hai Nak, mengapa kau baru datang? Mengapa pula ayam jagomu tidak kamu sembelih?” Sang Guru bertanya kepada si A,

 

“Ampun, Bapak Guru. Saya tidak dapat menemukan tempat yang tak terlihat oleh siapapun.” jawab si A. “Maksudmu?”, tanya sang Guru lagi. “Bukankah di tempat mana saja, Tuhan selalu melihatnya?” jawab si A. “Benar kamu. Hai kalian para siswa. Sudah kalian dengar jawaban si A. Kalian bisa menyimpulkan sendiri, apa sebabnya aku lebih menyayangi si A dibandingkan kalian. Dia selalu merasa dilihat Tuhan, sementara kalian belum bisa begitu. Kelak, si A akan menjadi Guru yang hebat.”

 

Begitulah zaman dulu berlaku. Yang paling disayangi guru, tentulah siswa pilihan, siswa teladan. Tolok ukurnya adalah yang paling ingat kepada Tuhan.

 

 Tapi, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kini, yang disebut siswa teladan, yang disayang-sayang guru, orang tua dan masyarakat, sudah berbeda tolok ukurnya. Siswa teladan zaman sekarang tolok ukurnya adalah kepintaran akalnya, tinggi nilai-nilai ebtanasnya, dan sejenis itu. Tak peduli bagaimana dia mendapat nilai tinggi: apa karena nyontek, apa karena dapat bocoran soal, dsb. Tak digubris sikap dan budi pekertinya, apalagi kesadaran imannya. Tak heran, korupsi dan kecurangan-keculasan ada di mana-mana. Wallohu’alam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Siswa Teladan"

Back To Top