Tersesat Masuk Surga

Sowan Ulama


 Memandang seorang ulama dengan penuh kasih-sayang sekejap mata saja, pahalanya lebih utama daripada beribadah satu tahun: dengan siangnya berpuasa, malamnya solat terus-menerus. Begitulah kira-kira sabda Al Habib SAW yang begitu populer di kalangan pesantren tradisional kita. Imam Al Ghozali mengatakan, ulama yang dimaksud hadits tersebut adalah ulama akherat –sebagai lawan dari ulama su’/ busuk/duniawi. Ciri ulama akherat antara lain: jika kita memandangnya atau duduk dalam majelisnya, kita akan teringat hal-hal ukhrowi: Allah dan Rasulullah SAW beserta segala hal mengenai janji dan ancaman-Nya, hati diliputi ketenangan dan ketentraman serta penuh kasih-sayang, segala masalah jadi mudah dipecahkan, dsb. Tak heran bila Sayyidina Ali k.w. menempatkan “wong kang soleh kumpulana/ orang soleh –yakni ulama akherat—dekatilah” pada urutan ketiga dari resep Tombo Ati. Wajar bila kyai-kyai tradisional itu sampai kini, bahkan insyaallah sampai kapan pun, mesti melayani kunjungan para tamu.

 

 Semasa nyantri kepada Yang Mulia KH Abdul Mukhith Nawawi Jejeran –(Pakde Uhit), seorang santri harus sering – sering sowan untuk konsultasi mengenai apa saja. Banyak keajaiban yang bisa ditemukan dalam ritual sowan tersebut. Misalnya, sering sebelum kita mengemukakan persoalan yang hendak kita konsultasikan, beliau langsung memberikan jawaban lengkap, jelas dan memuaskan. Pernah pula beliau memberikan jawaban lisan-spontan beserta catatan kakinya secara rinci:” Insyaallah di dalam kitab anu, terbitan anu, tahun sekian, halaman sekian, baris sekian dari atas dan baris sekian dari bawah, dan insyaallah dalam kitab itu terbitan anu, tahun sekian, dan seterusnya beliau sebutkan beberapa judul kitab (pernah sampai 24 judul!) dengan rincian “gila-gilaan” seperti itu. Dan jawaban beliau yang seperti itu, ketika dikonfirmasikan sesampai di rumah tidak ada satupun yang keliru! Profesor doktor mana yang bisa melakukan hal seperti itu?

 

Ada kejadian kecil terkait soal tradisi sowan kyai yang perlu diceritakan. Malam itu seorang santri kesayangan Kyai Uhit berniat hendak sowan beliau. Karena satu keperluan, ia mampir ke rumah seorang teman, mas Muhaimin namanya. Di rumah mas Muhaimin, ia bertemu dengan adik mas Muhaimin yang bernama Hamdan. Karena Hamdan juga punya hobi sowan Kyai, si santri mengajaknya sekalian untuk ikut sowan pak Kyai Uhit, kemudian terjadilah dialog seperti ini :

 

“ Ikut sowan pakdhe Uhit, yuk!”

“Wah saya gak siap kalo sekarang.”

“Nggak siap gimana maksud Sampean?”

“Lha kalo sowan ulama ‘kan etikanya kita harus memberikan bisyaroh (sesuatu yang menyenangkan seperti memberikan bingkisan, hadiah, sodaqoh, oleh-oleh, dll) kepada beliau. Ini aku nggak bawa apa-apa. Barang bingkisan tidak, uang juga tidak bawa .”

“Sampean itu berlebihan. Pakde Uhit itu tidak pernah mengharapkan bisyaroh dari tamu.Ini saya juga tidak bawa apa-apa.”

 

“Sebentar, Kang. Pakde Uhit memang saya yakin tidak pernah mengharapkan bisyaroh dari orang-orang yang sowan kepada beliau. Mana ada ulama akherat kok mengharap pemberian para tamu. Tapi, bukan berarti kita terus seenaknya sowan ulama seperti beliau itu tanpa menghaturkan bisyaroh. Itu melanggar etika, su’ul adab (tak tahu sopansantun). Ya kalo su’ul adab, mana mungkin kita dapat barokahnya?! Lain soal dengan sampean, Kang. sampean ‘kan santri Pakde Uhit, sering bertemu, malah mungkin tiap hari bertemu beliau. Ya nggak masalah kalo sampean sowan beliau tanpa menghaturkan bisyaroh, karena saya yakin sampean pasti sudah sering menghaturkan bisyaroh kepada beliau di hari-hari lain. Lha kalo saya ini, ‘kan jarang bertemu beliau. Belum tentu bertemu beliau sekali saja dalam satu tahun. Namanya kurangajar dong kalau saya sowan beliau tanpa membawakan bisyaroh. Malah bisa - bisa kualat nanti.”

 

Sampai di sini, ada lagi satu kisah nyata di buku humor santri. Ceritanya lebih kurang begini: Ada seorang kyai yang dahsyat, sebut saja Kyai Zaed. Siapa saja yang sowan kepada beliau, segala hajat dan citacita –konon— dikabulkan Allah. Maka, seorang pebisnis, sebut saja si A, kebetulan ingin ingin bisnisnya yang seret berubah jadi sukses. Dia memutuskan untuk sowan kepada Kyai Zaed. Sampai di pesantren Kyai Zaed, si A baru tahu kalau tiap hari banyak tamu yang juga hendak menghadap beliau. Saking banyaknya, tamu diatur oleh para santri di situ agar bergiliran secara tertib untuk menghadap sang kyai. Tamu yang antri, dipersilakan menunggu di satu ruang/ bangunan yang luas. Di tempat itu, sambil menunggu giliran, para tamu disuguhi berbagai macam snack dan juga makan. Jadi, ruang tunggu para tamu itu bisa dibilang seperti warung makan yang gratis bagi semua orang.

 

Dari obrolan dengan para tamu di ruang tunggu, si A dapat informasi kalau nanti menghadap Kyai Zaed harus bersalam-tempel: berjabatan tangan sambil menyerahkan amplop berisi uang kepada beliau. Itulah bisyaroh-nya. Adapun jumlah uang di dalam amplop, terserah dan seikhlasnya si pemberi. Amplop itu sendiri tidak usah dibubuhi nama si pemberi, meskipun boleh juga dibubuhi nama.

 

Karena si A itu seperti kebanyakan pebisnis lainnya yang suka etung (selalu menghitung) alias pelit, hatinya memutuskan untuk memasukkan uang sepuluh ribu saja ke dalam amplop yang sedianya nanti diberikan kepada sang kyai. Etung-etung (hitung-hitung) membayar makanan gratis suguhan sang kyai, begitu kira-kira otak pelitnya menganalisa.Tapi, hati si A sempat ragu -tepatnya mungkin malu, entah kepada siapa dia tak tahu- dengan hitung-hitungan seperti itu. Dia melihat para tamu semuanya sepertinya sangat bangga kalau bisa memasukkan uang yang besar (banyak) ke dalam amplop: limapuluh ribu, seratus ribu, lima ratus ribu, malah ada yang: sepuluh juta, lima belas juta. Memang, ada tamu yang memasukkan uang lima ribu, tapi penampilannya begitu miskin. Mungkin, lima ribu bagi orang seperti itu adalah uang yang sangat besar. Perang batin itu akhirnya dimenangkan oleh “otak bisnis”. Karena malu kalau sampai ketahuan para tamu lainnya, si A memasukkan uang sepuluh ribu ke dalam amplop dengan bersembunyi di kamar kecil. Pikirnya, beres, tak ada yang tahu!

 

Singkat kisah, tibalah giliran beberapa puluh orang tamu dipersilakan menghadap Kyai Zaed, termasuk si A. Begitu masuk ruang khusus itu, satu-persatu tiap tamu menjabat dan mencium tangan sang kyai sambil menyerahkan amplop. Ketika giliran si A, tiba-tiba sang kyai dengan tersenyum dan nada bergurau menyeletuk: “Sepuluh ribu juga boleh kok Mas…”. Nah!

 

Agaknya pebisnis yang satu ini perlu diingatkan lagi perihal besarnya pahala akherat dan barokah di dunia dari infak, hadiah, sedekah, dan sejenisnya yang ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktornya yaitu: kepada siapa sodaqoh itu diberikan. Mengutip hadits, Imam Al Ghozali dalam maha-karyanya Ihya Ulumuddin menjelaskan:

 

(1) Sodaqoh kepada tetangga/orang lain, pahala dan barokahnya dilipatkan Allah minimal sepuluh kali lipat. Maksudnya, kalau kita sodaqoh kepada tetangga seribu misalnya, Allah memberi kita:

(a) pahala di akherat nanti paling sedikit sama dengan

pahala sodaqohsepuluh ribu,

(b) barokah di dunia senilai minimal sepuluh ribu, adakalanya berupa rejeki uang, kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan,dsb. Makin ikhlas, makin besar kelipatan pahala dan barokahnya.

(2) Sodaqoh kepada orang tua/ keluarga, pahala dan barokahnya dilipatgandakan Allah paling sedikit seratus kali.

(3) Sodaqoh kepada para ulama/kyai, pahala dan barokahnya dilipatgandakan Allah minimal tujuhratus kali.

 

       Pertanyaannya, mengapa batas minimal pahala dan barokah yang dijanjikan Allah bagi orang yang bersodaqoh kepada ulama/kyai melebihi kepada yang lainnya? Jawabnya, ulama/kyai itu akan mendistribusikan/ membagikan sodaqoh tersebut dengan dasar ilmu yang dimilikinya. Jangankan kok hanya harta benda, sedangkan diri sang ulama/kyai itu saja sudah barang tentu disodaqohkan bagi tegak dan lestarinya agamaNya. Kalau ada ulama/kyai –na’udzubillah—memperkaya diri sendiri dan tidak mendistribusikan sodaqoh yang diterimanya? Yang begitu itu namanya – na’udzubillah — ulama/kyai busuk. Tapi, itu bukan urusan si pesodaqoh, biar si ulama/kyai itu mempertanggungjawabkan kepada Tuhannya. Wajarlah kalau ada seorang kyai “aneh” : beliau hanya mau menerima sodaqoh dan sejenisnya dengan syarat si pemberi harus berterima-kasih kepada beliau. “Sampean sodaqoh kepada saya, sampean dapat pahala dan berkah dari Allah. Sedangkan saya, kalau keliru menggunakan sodaqoh dari Sampean, saya kena marah Allah”. Begitu kira-kira beliau menjelaskan. Nah! Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Sowan Ulama"

Back To Top