Tersesat Masuk Surga

Suro

        Orang Jawa menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Suro, diambil dari kata ‘Asyuro (hari ke 10) bulan Muharram. Rasulullah SAW pernah bersabda, jika kalian ingin puasa selain di bulan Ramadhan, puasalah di bulan Muharram (Suro). Nabi SAW menjelaskan, Muharram adalah bulan (yang dikhususkan) Allah, bulan yang banyak diterima taubatnya para hamba (manusia).

Hukumnya puasa di bulan Suro itu sunat. Lebih diutamakan lagi puasa pada tanggal 9 dan 10. Tapi, jangan hanya puasa tanggal 10 saja. Ini untuk membedakan antara Muslim dan Yahudi. Sebab, orang Yahudi pun pada tanggal 10 Suro juga berpuasa. Pada tanggal tersebut, Allah memberi kemenangan kepada Nabi Musa a.s dan menenggelamkan Fir’aun. Musa a.s berpuasa pada hari tersebut untuk mensyukurinya. Orang Yahudi pun melestarikannya. Tentu saja orang Islam lebih perlu melestarikannya. Pahala puasa sehari dan sodaqoh sekali pada tanggal 10 Suro, menurut berbagai riwayat sahih, sama dengan puasa dan sodaqoh setiap hari selama setahun.

Di samping puasa , pada tanggal 10 Suro sangat dianjurkan untuk bersedekah, kepada fakir-miskin pada umumnya, lebih khusus lagi kepada para janda dan anak yatim. Rasulullah SAW telah bersabda, orang yang memelihara anak yatim dengan cara mulia, akan masuk surge bersama beliau. Beliau SAW juga lebih-kurang telah bersabda, mengelus kepala anak yatim (menunjukkan rasa sayang) khususnya pada 10 Suro, pahalanya dihitung sesuai helai rambut yang dielus. Maka, orang sering bilang bahwa 10 Suro itu Hari Pemuliaan Janda dan Anak Yatim.

        Syeikh Zainudin Al Malibari dalam kitab Irsyadul ‘Ibad menuliskan, para ulama punya kebiasaan “memanjakan” keluarga pada tanggal 10 Muharrom. Uang belanja ditambah. Suasana dihangatkan, digembirakan, disenang-senangkan. Harapannya, setahun ke depan Allah memberikan keluasan rejeki, kehangatan, kegembiraan, kesenangan sekeluarga. Suro itu bulan yang diistimewakan-diagungkan Allah, kita pun disunatkan banyak berpuasa-sodaqoh-menggembirakan keluarga, menolong sesama dan lain-lain dalam rangka mengistimewakan – mengagungkan pula. Maka, orang Jawa sejak dulu pantang bikin hajatan semacam pesta pernikahan di bulan Suro: lebih baik fokus dulu untuk beribadah kepada Allah. Tentu pula maksudnya mengagungkan bulan Suro. Lagi pula, kalau banyak yang puasa, apa enaknya bikin pesta. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Suro"

Back To Top