Tersesat Masuk Surga

Syukur

Firman Allah berkenaan dengan syukur, sudah sering kita dengar. Misalnya, yang artinya :


  • Sungguh, jika kalian bersyukur (atas nikmat yang telah Kuberikan), akan Aku tambah, tapi jika kalian kufur/mengingkari nikmat, sungguh siksa-Ku amat berat…

  • Siapa saja yang bersyukur, (faedah) syukurnya itu untuk dirinya sendiri…

  • Bersykurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian.


Memang, ayat Al Qur’an yang mengingatkan kita akan pentingnya bersyukur, begitu banyak. Syukur itu sama dengan berterima kasih atas nikmat yang telah diberikan Allah. Sedangkan nikmat Allah, jika kita perhatikan dengan seksama, persis seperti yang telah difirmankan Allah: jika kalian hitung nikmat dari Allah, takkan pernah selesai kalian menghitungnya (karena saking banyaknya). Jadi, seperti menghitung angka yang tak pernah selesai. Nikmat dari Allah itu adakalanya kita pergunakan bersama-sama, misalnya: udara, air, sinar matahari, alam sekitar, dll. Ada pula nikmat dari Allah yang kita pergunakan secara pribadi: panca indra, organ tubuh, organ syaraf, kesehatan, kewarasan, ketentraman, kebahagiaan, makanan, minuman, dll. Jangan lupa: nikmat diciptakannya diri kita. Bayangkan seandainya kita tak diciptakan Allah, lalu bagaimana. Tentu saja, nikmat yang paling akbar ialah iman dan islam. Dengan iman dan islam sajalah, kita boleh berharap Allah memuliakan kita di akherat kelak. Karena akherat itu kehidupan abadi, berarti iman dan islamlah yang memberi kita kesempatan sukses tanpa akhir. Padahal, secara rasional, seseorang itu butuh kecerdasan super disertai ketekunan dan konsentrasi tinggi serta waktu berabad-abad untuk merenung agar bisa menyimpulkan wajibnya setiap orang beriman dan berislam. Hanya atas pertolongan dan petunjuk Allah sajalah kita dengan begitu mudahnya beriman dan berislam. Jadi, kalau sudah beriman dan berislam – berarti diberi nikmat paling agung- masih patutkah kita bersedih hati?


Begitu pentingnya syukur bagi setiap orang yang beriman. Al Mustofa SAW menjelaskan antara lain dengan sabda beliau: Iman itu dibelah menjadi dua: yang separo syukur, yang separo sabar. Syukur atas nikmat, sabar atas cobaan. Adapun mengenai hakekat syukur-sabar dan nikmat-cobaan beserta rincian pelaksanaannya, Hujjatul Islam Imam Al Ghazali telah menjelaskannya dengan sangat menakjubkan dalam kitab Ihya Ulumuddin.


Berkait dengan syukur ini, Syekh Nawawi Al Bantani dalam kitab Futuhul Madaniyyah mengungkapkan, bahwa Al Mujtaba SAW bersabda kurang lebih sebagai berikut: Allah menurunkan wahyu kepada Musa a.s: ”Hai Musa, bersyukurlah kepada-Ku dengan sebenarbenarnya syukur”. Musa a.s menjawab: “Ya Tuhanku, siapakah yang dapat mengerjakannya?” (dalam riwayat lain: bagaimana mungkin aku bisa mengerjakannya, sedangkan syukurku itu pun datangnya atas pertolongan-Mu, berarti ‘syukurku itu’ harus disyukuri juga). Allah menjelaskan: “Hai Musa, jika kau (selalu) melihat /menyadari bahwa nikmat itu dari-Ku, yang demikian itulah syukur yang sebenar-benarnya syukur”. 


Memang, sebagaimana petunjuk Nabi SAW, cara bersyukur kepada Allah itu diantaranya adalah mengucapkan terima kasih/membalas budi kepada seseorang yang berbuat baik kepada kita. Maksudnya, kita harus tetap ingat bahwa kebaikan itu sendiri pada hakekatnya dari Allah. Adapun orang yang berbuat baik kepada kita tersebut hanyalah alat/ lantaran Allah. Karena kedua orang tualah yang secara umum paling banyak berbuat baik kepada manusia, Allah pun berfirman: bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu. Jangankan kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita, terhadap orang yang berbuat jahat pun Nabi SAW menyuruh kita membalas dengan kebaikan. Secara guyon, KH M. Katib pengasuh Pesantren Fadlun Minalloh Wonokromo, Pleret, Bantul, pernah berkata, “kalau pipi kirimu ditampar orang, jangan kau berikan pipi kananmu untuk ditampar lagi, tapi keluarkan dompetmu dan kasih orang itu uang yang banyak”. Sungguh, begitu penting syukur itu. Sedangkan tanpa pertolongan Allah, tak mungkin kita bisa bersyukur. Maka, Nabi SAW baginda kita mengajarkan doa (artinya kurang lebih): “Ya Allah, tolonglah diriku agar senantiasa ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu”. Mari kita wiridkan doa tersebut. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk " Syukur"

Back To Top