Tersesat Masuk Surga

Tobat



Segeralah kalian bertaubat sebelum kalian meninggal dan segeralah kalian beramal sebelum kalian sibuk, demikian kurang-lebih Nabi SAW pernah bersabda. Taubat ada yang mengartikan “kembali”. Maksudnya, kembali dari perbuatan yang tak semestinya (dosa) ke perbuatan yang seharusnya. Sebab, pada dasarnya manusia itu baik. Bila dia berbuat maksiat, berarti dia “pergi”. Aslinya manusia itu menuju surga (dengan beramal saleh). Kalau dia menuju neraka (dengan berbuat salah), sudah seharusnya dia “kembali”, harus bertaubat. Setiap bayi yang dilahirkan itu fitrahnya Islam, orang tuanyalah yang membuat dia Yahudi atau Nasrani, begitulah lebih-kurangnya Nabi SAW bersabda.


Nabi SAW juga pernah bersabda, orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak pernah berbuat dosa. Maksudnya, dosa-dosanya diampuni Allah. Seberapa pun besar dosanya, karena Allah memang Maha Pengampun. Allah kurang-lebih telah berfirman: “Katakan kepada hamba-hamba-Ku yang telanjur bergelimang dosa, janganlah kalian berputus-asa dari belas-kasih Allah…” karena memang, “…putus asa itu hanya bagi orang-orang kafir (setelah mereka telanjur mati dalam kekafiran)…”


Taubat itu hukumnya wajib segera dilaksanakan. Menunda taubat itu hanya bisikan syetan. Menunda-nunda, akhirnya mati dan putus-asa. Bukankah tak seorang pun tahu kapan dia mati? Memang, seperti sabda Nabi SAW, sikap tergesa-gesa (bersegera) itu asalnya juga bisikan syetan, kecuali: (1) segera bertaubat dari dosa, (2) segera membayar hutang bila telah mampu, dan (3) segera menikahkan anak gadis yang sudah saatnya menikah.


Para ulama, diantaranya Imam Nawawi dalam kitab Riyadlus Salihin memberi petunjuk mengenai tatacara bertaubat. (1) menghentikan jenis dosa yang ditaubati, (2) bertekad kuat untuk tidak mengulangi jenis dosa tersebut, (3) jika jenis dosa itu menyangkut hak orang lain, segera mengembalikan hak tersebut, jika menyangkut kehormatan orang lain misalnya memukul-memfitnah-memaki maka dia harus memohon maaf kepada orang tersebut (4) memohon ampun kepada Allah. Seorang pencuri yang bertaubat, dia harus berhenti dari kebiasaan mencuri, mengembalikan hasil curian kepada pemiliknya (jika tidak mungkin karena hasil curian sudah telanjur habis, dia harus minta kerelaan pemiliknya), bertekad kuat untuk tidak akan mencuri lagi, dan memohon ampunan kepada Allah dengan istighfar.


Bagaimana jika si pencuri ini ternyata setelah bertaubat, beberapa bulan kemudian dia kambuh mencuri lagi? Dia harus bertaubat lagi seperti diatas. Apakah dia berarti mencla-mencle dengan taubatnya? Tentu saja tidak boleh disebut mencla-mencle kalau sewaktu bertaubat dia benar-benar telah bertekad untuk tidak mencuri lagi. Bahwa ternyata tekad kuatnya itu hancur berantakan, berarti dia harus bertaubat kembali. 


Jadi, kuncinya adalah: tekad yang kuat untuk tidak mengulangi lagi dosa yang ditaubati. Hanya kepada Allah kita mohon petunjuk dan pertolongan, Allah-lah Yang Maha Tahu. Walloohu a’lam


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Tobat"

Back To Top