Tersesat Masuk Surga

Wolo – Wolo Quwoto


Tiada daya untuk menyingkir dari kemaksiatan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan kecuali atas pertolongan Alloh yang Maha Tinggi dan Agung. Begitulah kira-kira arti dari bacaan “laa khaula wa laa quwwata illaa billaahil’aliyyil ‘adzim”. Orang Jawa suka menyebut bacaan tersebut dengan : wolo-wolo qowoto, opo ono doyo sak liyane soko sing moho kuwoso (wolo-wolo quwoto, adakah daya kecuali dari yang maha kuasa). Kalimat tersebut menyembuhkan 99 penyakit, yang paling ringan diantaranya adalah penyakit bingung (stress), demikian pernah disabdakan Rasulullah SAW.

 

Para muadzin sering melafalkan bacaan tersebut sebelum melantunkan adzan, para kyai/ulama sering pula melafalkan bacaan tersebut sebelum menyampaikan ilmu, Tuan Guru Ahmad Zaini Ghani Martapura, misalnya. Hal ini menunjukan betapa penting dan perlunya kita membaca lafal tersebut. Malah dalam sebuah riwayat, memperbanyak bacaan tersebut mempermudah rejeki.

 

Merujuk maknanya; Pertama, memang pada hakekatnya kita tak dapat terhindar/menyingkir/menjauh dari perbuatan maksiat tanpa pertolongan Allah. Padahal, hal tersebut nilai pahalanya lebih tinggi dari melaksanakan perintah. Begitu banyak riwayat menyampaikan bahwa menjauhi maksiat itu nilainya lebih agung dari melaksanakan perintah, dan bahwa agama itu mula-mula diturunkan Allah dalam bentuk larangan-larangan sebelum adanya perintah-perintah. Yang dimaksud disini adalah meninggalkan setiap larangan atau hal-hal yang diharamkan Allah dengan niat semata karena Alloh (beribadah kepada-Nya) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, jika seseorang tidak mencuri misalnya, tapi bukan karena takut kepada Allah melainkan takut kepada masyarakat, yang begitu itu bukan termasuk ibadah, tidak mengandung pahala. Sekarang diantara kita ada yang rajin bermaksiat sekaligus rajin beramal, para koruptor rajin bersedekah, artis – artis rajin mengumbar aurat sekaligus senang ber-umroh, para penjudi rajin menolong sesama, aktivis masjid rajin bikin onar dan sebagainya. Jika dinilai dari kacamata fiqih, dari pada rajin maksiat sekaligus rajin beramal, masih lebih baik menjauhi maksiat meskipun amal kebaikannya tidak usah banyak-banyak. Logikanya, tiap maksiat itu menghasilkan dosa, sedangkan amal itu belum tentu diterima-Nya.

 

Kedua, kita pun pada hakekatnya tidak akan bisa taat melaksanakan perintah atau beramal ibadah jika tidak diberi pertolongan Allah. Tentu saja ibadah yang benar-benar sesuai dengan kriteria Allah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabiyullah Muhammad SAW : baik dari niatnya, ilmunya, (ilmu sebelum, ketika dan sedang beribadah), sikap (pelaksanaan) lahir dan batinnya, (bersihnya hati dari unsur-unsur sejenis riya, ujub, hazad, takabur, dll). Kalau sekedar beribadah saja sih setan saja suka menolong dan mendorong. Na’udzubillah. Namun begitu jika tak mampu mengerem atau mengurangi aktifitas maksiat sekaligus malas beramal, tak ada yang patut disalahkan kecuali diri kita sendiri. Kesalahan yang di maksud ialah, kita kurang serius dan konsisten dalam memohon pertolongan kepada Allah. Adapun serius dan konsisten ataupun sebaliknya, hanya Allah yang maha menilai. Bukti bahwa kita kurang serius dan konsisten yaitu: Allah kurang berkenan menolong kita sehingga kita masih terus hobi maksiat dan lemah beramal.

  

Begitulah ilmu yang diwariskan Nabi Adam a.s beliau tidak menyalahkan iblis yang telah menggodanya hingga beliau melakukan dosa besar (makan buah terlarang), tapi beliau mengaku salah di depan Tuhannya, sebaliknya ilmu iblis, ketika Allah melaknatnya, dia menyalahkan pihak lain, yakni Adam a.s, yang selanjutnya melahirkan dendam turun-temurun sehingga layak baginya beserta para pengikutnya menghuni kekal di dalam neraka. Mari kita perbanyak membaca bacaan tersebut, mari kita wiridkan wolo-wolo qowoto. Memang, begitulah Rasulullah SAW dan para penerus risalahnya telah mencontohkan. Laa Khaula Wa Laa Quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adzim. Walloohu a’lam



(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Wolo – Wolo Quwoto"

Back To Top