Tersesat Masuk Surga

Fiqih Bekicot


Barang najis itu tidak boleh diperjual-belikan. Haram makan barang-barang yang menjijikkan. Demikian tertulis di kitab kuning. Kalo jual pupuk kandang, hukumnya bagaimana? Kalo makan bekicot, boleh tidak? ( dua pertanyaan klise yang sering terdengar ). Pupuk kandang itu najis, bekicot itu menjijikkan, jadi semuanya tidak boleh (jawaban lebih klise lagi dari narator kaku dan maaf, bodoh!).

Kyai Fuad bilang, yang dimaksud barang najis tidak boleh diperjualbelikan itu kalau sekiranya dikonsumsi, dimakan. Jual (daging)
babi, anjing, bangkai (hewan yang tak disembelih atau disembelih tanpa menyebut nama Tuhan), kalau sekiranya untuk keperluan konsumsi, tidak boleh. Sebab, makan barang najis itu haram, memperjualbelikan makanan haram itu juga haram. Lha, pupuk kandang itu mau kamu makan atau tidak? Kalau tidak ya insyaallah boleh diperjualbelikan. Jangankan cuma pupuk kandang. Jual anjing peliharaan pun, sekiranya tidak untuk disantap, insyaallah tidak haram. Barang menjijikkan itu tidak haram dimakan. Menjijikkan itu relatif, di sini, menurut kitab kuning, sesuai persepsi orang Arab. Kenapa begitu? Karena saat kitab itu ditulis, orang Arab mewakili kelompok beradab, terpelajar. Bekicot itu menjijikkan? Siapa bilang? Banyak orang terpelajar karem dengan bekicot, malah di beberapa negara bekicot itu makanan elit. Tapi, ada yang merasa jijik?

       Haramnya makanan, jika sebabnya taste macam bekicot ini, tidak boleh disimpulkan sembrono dengan “asbun”: haram!. Kalau kamu beradab dan terpelajar plus suka bekicot, makan saja, halal! Kalau kamu jijik, siapa suruh makan bekicot? Kalau tidak suka, jangan paksa orang lain untuk juga tidak suka dong! Walloohu a’lam.

0 Komentar untuk "Fiqih Bekicot"

Back To Top