Tersesat Masuk Surga

Jenderal Besar Tohari



Beliau saat tulisan ini dibuat kira-kira berusia 70-an tahun. Sudah hampir setahun sakit. Tak jelas sakitnya. Tak mandi, telanjang, selalu di tempat tidur, maksudnya, bale-bale bambu di kamar bambu setengah terbuka. Meracau entah dengan bahasa apa. Wajar, jika 99 % orang Wonokromo, Pleret, Bantul, tempat domisilinya, menganggap beliau “hanya orang gila biasa”. Hanya 1% -bisa kurang bisa lebih- yang tahu beliau “bukan orang gila biasa”.

 



Hapal Al-Qur’an beserta qiro’ah sab’ah-nya. Penguasaan isi kitab kuning dan kitab putih diatas professor Al Azhar University. Independen dari zaman dahulu kala tak pernah mau pakai sabun kimiawi karena merusak bumi, katanya. Itu Cuma beberapa entri point saja. Kalau Kyai Fuad pusing karena ada santri yang bikin masalah berat, mbah Tohari ini dijadikan “obat mujarab”. “Sana, cari Mbah Tohari! Cium tangannya dan minta doanya”, wouw, so pasti banyak orang mengernyitkan kening. Lho? Lha iya, wong Kyai Fuad itu terkenal rasional-objektif-ilmiah anti bid’ah, kok bisa-bisanya begitu. But, itulah kenyatannya. Lha, santri sendiri kagak berani membantah.

 

 Mereka sendiri sudah tahu kebiasaan mbah Tohari, manakala mereka lagi “bagus hatinya”, mbah Tohari membersihkan jalan yang hendak mereka lalui, manakala hati mereka lagi kacau, jalan yang mereka lewati ditaburi sampah oleh beliau dan sekali cium tangan beliau, hapalan ayat Qur’an yang terlupakan jadi bisa ingat lagi. Cuma, sayangnya tak setiap ketemu beliau mau diajak salaman. Busyet! Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

0 Komentar untuk "Jenderal Besar Tohari"

Back To Top