Tersesat Masuk Surga

Karomah Syeikh Abdul Qadir Jailani


Seorang ibu menyerahkan putranya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jilani agar dididik ilmu agama. Beberapa lama kemudian, si ibu itu menjenguk. Sungguh dia kaget: dilihatnya Syekh Abdul Qadir sedang makan dengan lauk daging ayam (mewah) sementara putra si ibu hanya makan roti kering (mengenaskan).


 

Syeikh malah tersenyum melihat si ibu, memberi isyarat agar mendekat. Syeikh mengumpulkan tulang-tulang ayam yang baru saja selesai disantapnya. Lalu, beliau berkata, “Dengan nama Allah, hai tulang kembalilah kamu jadi ayam.” Seketika itu juga tulang-belulang itu kembali jadi seekor ayam hidup. Si ibu takjub. Syeikh kemudian berkata, “Kalau anakmu sudah diberi karomah oleh Alloh seperti yang baru saja kamu lihat, bolehlah dia makan semewah-mewahnya.” Begitulah salah satu kisah nyata mengenai salah satu karomah Syeikh Abdul Qadir Al Jilani. Karomah itu artinya kemuliaan yang diberikan Allah kepada para wali (kekasih)-Nya. Adakalanya karomah diperlihatkan seorang wali dalam rangka dakwah kepada umat. Semacam mukjizat bagi para Nabi. Orang Jawa bilang: keramat, kesannya angker. Wah!

 

Di zaman kita ini, ternyata karomah masih sering kita temui. Almaghfurlah Abuya Dimyati Banten selalu menjawab pertanyaan tamu sebelum si tamu mengatakannya. Para jendral, bahkan presiden sekalipun, tak berani menghadap jika beliau tak berkenan. Seorang jendral bintang 4 malah terkencing-kencing di celana ketika Abuya membentaknya. Sementara, rakyat cekeremis sekalipun pasti kangen kepada beliau kalau sekali saja pernah melihat beliau. Bandingkan dengan barisan kyai palsu yang suka menghiba-hiba plus nyubyonyubyo di hadapan para pejabat dan menolak rakyat jelata yang hendak menghadap! Na’udzubillah. Almaghfurlah Shohibul fadlilah KH Abdul Mukhit Nawawi Jejeran, Bantul selalu sudah siap menemui tamu setiap tamu menghadap: menunggu di ruang tamu beserta menyediakan 2 gelas minuman teh nasgitel. Begitu si tamu datang, langsung ngendika menjelaskan apa yang jadi uneg-uneg di hati tamu tersebut. Padahal, si tamu belum matur apa – apa. Walloohu a’lam

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

0 Komentar untuk "Karomah Syeikh Abdul Qadir Jailani"

Back To Top