Tersesat Masuk Surga

Kyai Alhamdulillah



Salah satu cerita Mas Akhid yang paling sering teringat, adalah mengenai “Kyai Alhamdulillah”. Entah siapa nama asli Kyai tersebut, tapi orang mengenalnya dan memanggilnya dengan sebutan Kyai Alhamdulillah. Ini karena beliau itu paling sering mengucapkan Alhamdulillah. Apa-apa bilang Alhamdulillah. Sedikit-sedikit mengucapkan Alhamdulillah. Berita baik disahut Alhamdulillah, berita kurang baik tetap diucapi Alhamdulillah, Begitulah kata Mas Akhid, Kyai yang sehari-hari tinggal di Jawa Tengah itu dipenuhi dengan ucapan Alhamdulillah, hingga beliau memperoleh gelar “Kyai Alhamdulillah”.

 

Bahwa orang-orang suka ziarah (istilah untuk kata “mengunjungi” bagi pihak yang dimuliakan) kepada beliau, karena memang penampilan beliau selaras dengan harapan kita mengenai kata “Alhamdulillah”: enakkepenak, tentram-bahagia, senyum-ramah, sukses-jaya, puas-lega,dan seterusnya. Jadi, orang yang merasa belum memperoleh harapanharapannya, merasa perlu “bertawasul” atau memohon doa restu dengan cara menziarahi beliau agar kiranya Alloh berkenan memenuhi harapanharapannya tersebut. Pendek kata, baru bertemu Kyai Alhamdulillah saja, baru melihat senyum beliau saja, baru bersalaman dengan beliau saja, baru menatap wajah cerah beliau saja, baru mendengar tegur-sapa penuh keramahan beliau saja, orang sudah membuncah harapannya. Beruntunglah orang yang sempat menziarahi beliau yang sekarang telah wafat.

 

      Kita jadi ingat wasiat Sayyidina Ali r.a tentang “Tombo Ati”(obat untuk hati yang tengah gundah), bahwa salah satunya adalah”wong  kang soleh kumpulana”(orang soleh pergaulilah). Insya Allah, Kyai Alhamdulillah itu contoh nyata dari orang soleh yang dimaksudkan wasiat tersebut. Sungguh, Kyai Alhamdulillah ini bertolak belakang dengan orang-orang yang berpenampilan saleh yang sekarang ini sering kita lihat: bukannya menyuguhkan harapan, tapi justru memaki, mencela, meremehkan, melaknat, menyalahkan, menteror, memusingkan, dan seterusnya kepada sesama Na’udzubillah (kita berlindung kepada Allah) dari perbuatan seperti itu.

 

Dalam sebuah riwayat yang dikutip banyak kitab kuning kurang-lebih dinyatakan, ada orang yang tekun beribadah, mati. Di akherat, ia merasa yakin akan dimuliakan Alloh. Namun, justru ia dilempar ke neraka. Ia tentu saja protes: “Dimana pahala ibadahku selama ini?” Maka, sebuah suara menjawab, “Pahala ibadahmu seumur hidup itu tidak cukup untuk menebus kesalahanmu”. Karena merasa tak pernah berbuat maksiat, ia kembali protes, “Apa kesalahanku?” Kembali terdengar suara, “Kamu pernah membuat hamba-Ku putus-asa dari Rahmat-Ku!”

 

      Sungguh, Sang Pencipta Harapan sendiri kurang-lebih telah berfirman dalam Al-Qur’an: katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas, janganlah kalian berputus–harapan dari kasih Alloh, sungguh Alloh Maha Mengampuni dan Maha Mengasihi. Pada hakekatnya, agama (Islam) adalah harapan yang dijanjikan Sang Maha Pencipta. Janji yang pasti dipenuhi, karena janji-Nya selalu bersifat pasti. Jika seseorang mewartakan agama tanpa mampu membangkitkan harapan, orang itu telah tersesat di jalan setan. Ya, putus harapan adalah ajaran setan yang paling nyata. Na’udzubillah.

 

Tepat benar (selalu) sabda Nabi Muhammad SAW: “sebaik-baik doa adalah mengucapkan Alhamdulillah. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Alloh. Kita memuji (berterima kasih) kepada Allah yang Maha Baik, maha Kasih, Maha Sayang, Maha Pengampun, Maha Memaafkan, Maha Memberi, Maha Membimbing, dan seterusnya. Keputus-asaan, adalah kebiasaan orang-orang kafir, orang-orang yang tidak mau mengenal-Nya, tidak mau memohon kepada-Nya, tidak tahu betapa dekat Dia.

 

Jika hamba-Ku bertanya mengenai Aku, katakanlah: sungguh aku ini dekat, sungguh akan Aku penuhi setiap doa, maka semestinya mereka berdoa kepada-Ku dan percaya kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran, begitulah kurang-lebih terjemah ayat 186 surah Al Baqarah. Karena Alloh menyuruh kita berdoa kepada-Nya, Insan al-Kamil yang paling kita sayangi yakni Nabi Muhammad SAW menjelaskan: “doa itu tulang sumsumnya ibadah”.

 

Penjelasan mengenai doa itu pasti dipenuhi, dikabulkan, mengingatkan kita pada petuah sohibul fadillah KH Abdul Mukhit Jejeran Wonokromo Pleret Bantul:

  1. Seseorang meminta A, oleh Alloh segera diberi A,

  2. Seseorang minta A, oleh Alloh diberi A tapi jarak waktunya lama, karena itulah yang terbaik bagi dia, dan hanya Alloh yang Maha Tahu yang terbaik untuk dia,

  3. Seseorang minta A tapi oleh Alloh justru diberi B, dan itulah yang terbaik bagi dia,

  4. Seseorang minta A tapi oleh Alloh diberi pahala, karena menurut Alloh itulah yang paling dibutuhkan olehnya.


      Mari memperbanyak ucapan “Alhamdulillah”, agar gundahnestapa-duka-lara sirna, rasakan sendiri betapa Alloh memang Maha Terpuji. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Walloohu a’lam.

 

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Kyai Alhamdulillah"

Back To Top