Tersesat Masuk Surga

Mencintai Ulama dan Wali Allah



“Hai Ibnu Mas’ud, dudukmu satu jam di majelis ilmu (agama, akherat) meskipun tak kausentuh pena dan tak kautulis satu huruf saja (pahalanya) lebih baik untukmu daripada membebaskan seribu budak, memandangmu kepada wajah ulama pahalanya lebih baik daripada engkau bersedekah seribu kuda untuk perang membela agama Allah, dan ucapan salammu kepada ulama pahalanya lebih baik daripada ibadah seribu tahun.” Begitulah sabda sahih Al Habib SAW sebagaimana dikutip oleh banyak perawi hadits, termasuk kitab Lubabul Hadits karya Syeikh Jalaluddin As Suyuti.

 


Perlu diingat, yang dimaksud ulama di sini adalah ulama akherat, yang salah satu cirinya menurut Imam Al Ghazali membuat kita teringat Allah hanya dengan memandangnya, yang selalu sibuk dalam ibadahnya, yang banyak mengajak manusia mempersiapkan bekal akheratnya tanpa meminta imbalan sama sekali, yang berwibawa sekaligus penuh kasih, dan sebagainya.

 


 Begitu rumitnya ciri-ciri ulama akherat, sampai-sampai Al Ghazali mengingatkan sungguh tak mudah menemukannya. Berbahagialah kita yang sempat bertemu Almarhum Almaghfurlah Sohibut Taj Abuya Dimyati Banten, Al Arif Billah KH Abdul Muckhit Jejeran, Mbah Mangli Magelang, Almarhum Almaghfurlah Al Habib Anis bin Alwi Alhabsyi Solo, Al Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi Yaman, Almarhum syeikh Maliki Mekah, Almarhum Almaghfurlah Al’alamah Tuan Guru Ahmad Zaini Ghani Martapura, KH Ahmad Abdulhaq Watucongol, dan lain-lain. Sungguh membayangkan wajah mereka saja mengingatkan kita kepada keagungan Allah. Rasulullah SAW juga telah bersabda, “Barangsiapa memuliakan ulama, maka benar-benar dia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, maka benar-benar dia telah memuliakan Allah. Dan barangsiapa memuliakan Allah, tempat tinggalnya adalah surga. ”Juga Nabi Muhammad SAW telah bersabda: Siapa saja yang berziarah (mengunjungi) ulama, laksana dia mengunjungiku. Siapa saja yang menjabat tangan ulama, laksana dia menjabat tanganku. Siapa saja yang menemani ulama, seolah dia menemaniku di dunia. Dan siapa saja yang menemaniku di dunia, kujadikan dia teman di akherat.

 

  Kaitannya dengan penjelasan di atas, ada kebiasaan di kalangan santri bila mengunjungi para ulama sambil memberikan hadiah atau bisyaroh (pemberian yang diharap menyenangkan). Namanya juga hadiah, maka besar-kecil banyak-sedikit itu tak pernah jadi masalah. Memang, ulama akherat itu tak pernah membutuhkan pemberian hadiah. Bahkan, apa yang mereka miliki, termasuk hadiah, semuanya digunakan untuk kepentingan dakwah. Namun begitu, ada hadits Nabi SAW yang berbunyi: Salinglah kalian memberi hadiah, maka kalian akan saling menyayangi. Ada suatu contoh sebagai berikut: Aisyah r.a –salah satu istri Nabi SAW— pernah pagi-pagi diberi hadiah sepuluh ribu onta beserta barang dagangan di tiap-tiap punggung onta tersebut. Aisyah r.a pun segera membagi-bagikan kepada yang berhak. Sore harinya, ketika beliau r.a hendak berbuka, bahkan sepotong roti atau sebiji kurma pun tak punya, yang ada tinggal air putih semata. Begitulah ahli surga! Walloohu a’lam

 


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)



Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Mencintai Ulama dan Wali Allah"

Back To Top