Tersesat Masuk Surga

Mengagungkan Syi’ar – Syi’ar Agama


Mengagungkan syi’ar-syi’ar atau ikon-ikon atau simbol-simbol agama Islam, ditempatkan pada urutan ke sepuluh dalam urut-urutan cabang keimanan yang jumlahnya 77 oleh Syeikh Nawawi Al Bantani. Merasakan kemegahan tatkala memakainya, adalah salah satu perwujudannya. Termasuk pula di sini adalah mengagungkan mushaf Al Qur’an dan kitab-kitab atau buku-buku agama dalam cara membawa, memakai (membaca), dan meletakkan serta menempatkannya. 

 

Di pondok pesantren, seorang santri terlebih dulu berwudlu bila hendak mengambil mushaf atau kitab. Mereka membawa mushaf atau kitab dengan tangan kanan dan didekapkan ke dada, menaruhnya di atas dingklik/meja, membuka halaman-halamannya (saat hendak membaca) dengan pelan tanpa berisik. Bila ada sobekan kertas bertuliskan ilmu agama, lebih-lebih Asma Allah dan Rasul-Nya, dimusnahkan dengan dibakar dan abunya ditaburkan di sumur. Semua ini didorong perasaan mengagungkan kepada ikon-ikon agama semata. Sekarang ini, banyak orang dengan entengnya mencantumkan kutipan ayat Al Qur’an dalam undangan pernikahan, buku-buku tulis, baju-baju, dan sebagainya tanpa khawatir bila nantinya tergeletak di tempat-tempat yang tak semestinya. 

 

Suatu hari, KH Muhammad Khatib dari Pesantren Fadlun Minalloh Bantul membeli nasi bungkus di warung angkringan. Bungkusannya dari kertas. Setelah diperhatikan, pada kertas pembungkus nasi itu ada kutipan ayat-ayat Al Qur’an. Mungkin, bekas kertas catatan atau kertas ujian sekolah. Didorong mengagungkan syi’ar agama, semua nasi bungkus di angkringan tersebut diborongnya. Nasinya biar dimakan santri dengan catatan kertasnya harus dibakar. Seorang ulama salaf tak bisa tidur bila di kamarnya ada mushaf atau kitab, terdorong rasa mengagungkannya.

 

 Dikisahkan, seorang santri menemukan sobekan kertas yang bertuliskan kalimat “Bismillaahirrohmaanirrohiim” tergeletak lusuh di dekat tong sampah. Santri tertegun. Diambilnya kertas tersebut, hati-hati dibersihkannya, dimasukkan saku baju. Dibawa pulang, setibanya di rumah, diciuminya kertas tersebut dan disemprotkannya dengan parfum. Seluruh jiwa santri itu dipenuhi perasaan mengagungkan Asma Allah. Hatinya tidak terima: bagaimana mungkin kertas bertuliskan kalimat “Bismillahirrohmanirrohim” tergeletak begitu saja pada tempatyang tak semestinya. “Karena tadi tergeletak di tanah, sekarang akan aku tempatkan di tempat semestinya,” santri bergumam dalam hati. Hati-hati kertas tersebut dimasukkan dalam kotak surat pribadinya, disimpan dalam rak almari paling atas.

 

Sejarah mencatat, kisah di atas adalah salah satu pengalaman pribadi dari seorang ulama besar pada zamannya. Membersihkan, merapikan, meng-asri-kan seluruh bagian masjid, musholla dan pondok pesantren termasuk juga di sini. Walloohu a’lam.


(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Tag : Fatwa Kyai
0 Komentar untuk "Mengagungkan Syi’ar – Syi’ar Agama"

Back To Top