KYAI ALHAMDULILLAH

Salah satu cerita Mas Achid yang paling sering penulis ingat, meskipun cerita itu beliau ungkapkan hampir sepuluh tahun yang lalu, adalah mengenai Kyai Alhamdulillah. Entah siapa nama asli kyai tersebut, tapi orang mengenal dan memanggilnya dengan sebutan Kyai Alhamdulillah. Ini karena beliau itu paling sering mengucapkan “Alhamdulillah”. Apa-apa bilang “Alhamdulillah”. Sedikit-sedikit mengucap “Alhamdulillah”. Berita baik disahut “Alhamdulillah”. Berita kurang baik tetap diucapi “Alhamdulillah”. Begitulah, kata Mas Achid, hari-hari kyai yang tinggal di Jawa Tengah itu dipenuhi dengan ungkapan “Alhamdulillah”, hingga beliau memperoleh gelar “Kyai Alhamdulillah”.

JANGAN SALAH PAHAM, ISLAM=KUALITAS

Kualitas atau yang terbaik di sini sesuai dengan tinjauan semua segi dan zaman, termasuk logika dan estetika. Berangkat dari simpul sederhana inilah seharusnya kita memahami sosok pribadi tokoh-tokoh Islam mulai dari pribadi paling tinggi kualitasnya yakni Nabi Muhammad SAW –sebagaimana difirmankan Allah SWT: dalam diri Beliau itulah suri tauladan terbaik dan ditegaskan para sahabat bahwa Beliau itu berakhlaq Al Qur’an—dan tokoh-tokoh legendaris lainnya, juga teks-teks dalam Islam: Al Qur’an, hadits, dan ijma para salafus solihin. Jika tidak demikian, kemungkinan “salah paham” dalam mengapresiasi tokoh dan membaca arti teks tersebut menjadi sangat terbuka, sebagaimana akhir-akhir ini sering kita melihat gejala-gejalanya.

KISAH MENGHORMATI BULAN SUCI

Seperti pekerjaan apa saja yang lainnya, Mbah Joyo Kandar kadang harus menghadapi tantangan. Kesehatan yang kadang memburuk, misalnya. Termasuk juga Bulan Suci Ramadhan yang panasnya luar-biasa seperti tahun ini. Namanya juga ramadhan, bulan yang asal-usulnya di jazirah arab sana dinamai ramadhan karena bulan yang   panas membakar luar biasa. Bisa kita bayangkan: kerja di tempat terbuka sebagai buruh bangunan diteriki panas membara matahari sepanjang hari, bagaimana keringnya kerongkongan dihajar haus-dahaga luar biasa…

WOLO-WOLO QUWOTO

Laa khaula wa laa quwwata illaa billaahil ngaliyyil ngadziim.

Para muadzin sering melafalkan bacaan tersebut sebelum melantunkan adzan. Para kyai/ulama sering pula melafalkan sebelum menyampaikan ilmu. Tuan Guru Ahmad Zaini Ghani Martapura, misalnya. Hal ini menunjukkan betapa penting dan perlunya kita sering membaca lafal tersebut. Malah dalam sebuah riwayat, memperbanyak bacaan tersebut termasuk mempermudah rejeki.

ISTIQOMAH

Berulang-ulang pula Al Qur’an menyuruh manusia untuk meneliti, memperbandingkan, mengkaji, mempelajari dengan sungguh-sungguh mengenai agama ini. Perkara iman, perkara akherat, adalah soal nasib di kehidupan abadi. Sudah sepantasnya masalah gawat begini dipikirkan, dipertimbangkan, diteliti, dikaji secara sungguh-sungguh. Jangan sampai salah jalan, karena akibatnya sangat fatal: neraka. Na’udzubillah.

Seorang sahabat penulis pernah mengirimi sms: “Ass. Maaf, Gus, mengganggu, aq mau tanya, bgmna agar bisa istqmh, apa ada amalannya?”  Sebuah pertanyaan yang  gampang, tapi menjawabnya sulit. Memang, bertanya itu kadang lebih gampang daripada menjawab, begitu KH Abdul Muchith Jejeran, salah satu guru penulis, pernah guyon. Kalau asal jawab sih, semua orang juga pintar.

SURO

Hukumnya puasa di bulan Suro itu sunat. Lebih diutamakan lagi puasa pada tanggal 9 dan 10. Tapi, jangan hanya puasa tanggal 10 saja. Ini untuk membedakan antara Muslim dan Yahudi. Sebab, orang Yahudi pun pada tanggal 10 Suro juga berpuasa. Pada tanggal tersebut, Allah memberi kemenangan kepada Nabi Musa AS dan menenggelamkan Fir’an. Musa AS berpuasa pada hari tersebut untuk mensyukurinya. Orang Yahudi pun melestarikannya. Tentu saja orang Islam lebih perlu melestarikannya.

HAJI MABRUR

Mengenai adil dan atau tidak dzalim, secara global diartikan dengan tidak merugikan/menjahati/merampas hak-hak orang lain. Hasil korupsi yang dipakai untuk biaya haji misalnya, tak mungkin menghasilkan haji mabrur. Menyakiti dengan kata-kata dan atau tindakan ketika melaksanakan ibadah haji umpamanya, menandai batalnya kemabruran. Menuntut penghormatan lebih setelah pulang dari tanah suci contohnya, menunjukkan gagalnya kemabruran. Berangkat haji berkali-kali yang menyebabkan hak orang lain untuk berhaji terganggu dan kepadatan berlebihan di tanah suci  yang mengurangi rasa nyaman, adalah contoh nyata kedzaliman yang banyak terjadi. Mengenai hal ini usulan Mentri Agama Maftuh Basuni beberapa waktu lalu agar orang Indonesia cukup haji sekali seumur hidup, perlu dipertimbangkan.