ZIARAH PARA WALI

Dulu aku melarang kalian menziarahi kubur, sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan tentang kematian. Makam para Nabi dan makam para wali itu mustajab untuk berdoa. Jika melewati sebuah kuburan, ucapkanlah salam (mendoakan keselamatan) kepada para penghuninya, niscaya mereka akan membalas (ganti mendoakan keselamatan) salam kalian. Begitulah kurang-lebih hadits Nabi SAW tentang ziarah. Tentu saja masih banyak hadits lainnya tentang ziarah.

Bagi kalangan pesantren tradisional, ziarah ke makam para wali itu adalah tradisi yang terus dihidup-hidupkan. Di samping untuk menghayati kematian, ziarah bagi santri adalah tabarukan: memohon keberkahan kepada Allah dengan cara ikut mencintai orang yang dicintaiNya, tasyakuran (bersyukur kepada Allah) dengan mengenang jasa dan jejak langkah perjuangan para wali, dan pembangkit semangat untuk melanjutkan perjuangan para wali.

Kisah ziarah para santri ke makam para wali itu sungguh banyak yang seru, tak kalah seru dengan petualangan-petualangan lainnya. Ada yang sampai mondok di kompleks pemakaman (tak heran, di makam para wali pengelola makam acap menyediakan ruang tersendiri bagi peziarah yang ingin mondok) berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Ada yang berziarah di makam 9 wali (wali songo) di Jawa dengan cara berjalan kaki: bayangkan, dari ujung barat pulau Jawa (makam Sunan Gunungjati) sampai ujung timur (makam Sunan Ampel) dengan benar-benar jalan kaki!

Ada yang sengaja menghapal Al Qur’an di makam wali tertentu. Ada yang sekadar menumpahkan gundah setelah lelah mengikuti roda zaman yang terus menggilas. Ada yang menghajatkan sebuah cita-cita, dan sebagainya. Kita masih ingat, pada tahun 2000-an, Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) yang waktu itu menjadi presiden RI, dengan demonstratif mempublikasikan kegemarannya mengunjungi makam para wali.

Entah berapa juta santri tradisional yang wira-wiri tiap hari di makam-makam para wali di tanah air kita ini. Inilah yang menguntungkan ribuan orang yang bekerja di jagad transportasi, pengelola warung (di tiap makam para wali, biasanya ratusan warung buka 24 jam tiap hari), parker, pengemis, pengelola makam, pemerintah daerah, warga sekitar makam, dan sebagainya. Inilah salah satu tanda keberkahan para wali: bahkan, hanya makam mereka saja telah menciptakan jutaan lapangan kerja bagi manusia yang masih hidup di dunia. Setelah wafat pun mereka masih menebar manfaat bagi yang hidup, apalagi ketika para wali itu dulu masih hdiup di dunia. Bandingkan dengan para mentri pekerjaan umum yang kesulitan menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya.

 (KH. Muhammad Fuad Riyadi)