|
Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi
|
|
Wednesday, 09 June 2010 |
Memandang seorang ulama dengan penuh kasih-sayang sekejap mata saja, pahalanya lebih utama daripada beribadah satu tahun: siangnya puasa, malamnya solat terus-menerus. Begitulah kira-kira sabda Al Habib SAW yang begitu popular di kalangan pesantren tradisional kita. Imam Al Ghozali mengatakan, ulama yang dimaksud hadits tersebut adalah ulama akherat –sebagai lawan dari ulama su’/busuk/duniawi. Ciri ulama akherat antara lain: jika kita memandangnya atau duduk dalam majelisnya, kita akan teringat hal-hal ukhrowi: Allah dan Rasulullah SAW beserta segala hal mengenai janji dan ancamanNya, hati diliputi ketenangan dan ketentraman serta penuh kasih-sayang, segala masalah jadi mudah dipecahkan, dsb. Tak heran bila Sayyidina Ali Kw menempatkan “wong kang soleh kumpulana/ orang soleh –yakni ulama akherat—dekatilah” pada urutan ketiga dari resep Tombo Ati. Wajar bila kyai-kyai tradisional itu sampai kini, bahkan insyaallah sampai kapan pun, mesti melayani kunjungan para tamu. |
|
Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 29 June 2010 )
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
TAHAP-TAHAP MEMBANGUN MASJID VERSI NABI |
|
Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi
|
|
Wednesday, 23 December 2009 |
Terorisme, kemunculan nabi-nabi palsu, wacana-wacana eksklusifitas-fundamentalitas-radikalitas yang mengotori citra Islam yang adiluhung, biasanya diproduksi dari masjid-masjid yang dibangun tanpa melalui tahapan-tahapan membangun masjid seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW… |
|
Terakhir Diperbaharui ( Wednesday, 23 December 2009 )
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi
|
|
Thursday, 30 April 2009 |
Sungguh para wali (kekasih) Allah sebagai pewaris para Nabi itu mulia di dunia dan akherat. Barokah Allah melalui mereka pun terus dilimpahkan bagi umat, bahkan ketika mereka telah wafat. Adakalanya sejarah hidup mereka penuh cobaan, namun dijalani bukan hanya dengan sabar, malah bersyukur. Begitu mereka wafat, hampir setiap saat makam mereka dikunjungi banyak orang. Lihatlah makam para Nabi AS beserta sahabat-sahabatnya. Setiap detik tak pernah sepi dari para peziarah. Lihat pula makam para wali. Di manapun dimakamkan, baik di timur tengah maupun di tempat lain, baik di dataran rendah maupun di pucuk gunung, tak henti-henti para peziarah mengunjung |
|
Terakhir Diperbaharui ( Wednesday, 23 December 2009 )
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi
|
|
Tuesday, 28 April 2009 |
Ketahuilah, dengan berdzikir kepada Allah, jiwa-jiwa pun menjadi tenang. Begitulah salah satu terjemahan ayat Al Qur’an yang sering dikutip para khotib. Rasul SAW juga pernah bersabda, lingkaran dzikir itu salah satu taman diantara taman-taman surga. Arti dzikir itu kurang lebih mengingat dalam hati. Hati yang mengingat Allah akan memancing lisan untuk berucap. Bisa juga lisan yang mengucap akan memancing hati untuk mengingat. Bisa pula terjadi, mengingat di dalam hati tanpa disertai mengucapkan. Pun bisa mengucap secara lisan tetapi hatinya mbyang-mbyangan. Gabungan antara hati yang mengingat dan lisan yang mengucap itulah yang paling komplit dalam soal dzikir, paling gede pahalanya. |
|
Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 25 June 2009 )
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi
|
|
Thursday, 02 April 2009 |
Ucapan salam itu maknanya paling sedikit 2 macam: (1) aruh-aruh (tegur-sapa, permisi) sebagai tanda saling kenal atau tanda menghargai, dan (2) doa, maksudnya saling mendoakan yang diucapi dan yang menjawab salam. Assalaamualaikum (semoga keselamatan untukmu), dijawab Wa’alaikumussalam (dan keselamatan semoga juga untukmu) Berkait dengan kedua macam makna itu, maka ucapan salam itu selain “Assalaamualaikum” kadang berbunyi semacam “selamat pagi, Hallo, Hai, Nuwun sewu, monggo, sugeng ndalu,” dan sebagainya. |
|
Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 25 June 2009 )
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 9 dari 59 |