HOME arrow ARTIKEL arrow ARTIKEL RELIGI arrow Cara Cepat Menurunkan Berat Badan
Tuesday, 07 September 2010
Cara Cepat Menurunkan Berat Badan
Ditulis oleh syafii masykur   
Wednesday, 05 August 2009

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang overweight,  atau kelebihan berat badan. Sudah ia coba berbagai obat pengurus namun tidak juga tidak menjadi kurus. Dokter, tabib, dan dukun sudah ia undang namun tidak ada satu pun yang bisa menyelesaikan masalah. Kian lama ia semakin gemuk dan perutnya semakin buncit. Pakaian yang bulan lalu dipakai bulan ini sudah tidak muat lagi. Ia bingung, harus bagaimana? Ada yang menyarankan agar ia diet atau mengurangi makan. Namun ia tidak pernah berhasil karena makanan di istana selalu lezat dan mengundang selera.

 

"Ampun Baginda, hamba dengar ada seorang pemuda yang dikenal keshalihannya dan sering dimintai pendapat dalam berbagai masalah. Konon tidak ada sarannya yang salah. Semuanya tepat sasaran. Pemuda itu bisa mengatasi masalah tanpa masalah," kata salah seorang abdi kerajaan.

"Baik jika demikian, panggil pemuda itu secepatnya.

Para punggawa kerajaan pun memanggil pemuda tersebut untuk dihadapkan kepada raja.

"Wahai Pemuda yang arif dan bijaksana, bisakah kamu membantuku?"

"Insya Allah, Baginda. Jika boleh bertanya, apa gerangan masalah yang sedang Baginda hadapi?" tanya pemuda itu.

"Kau lihat tubuhku ini! Semakin lama aku semakin gendut. Perut semakin buncit. Sudah kucoba sekian banyak obat dan makanan pelangsing tubuh namun gagal juga. Apakah kamu bisa membantuku untuk melangsingkan tubuhku ini?"

"Baginda, jika boleh, perkenankan saya minta waktu satu malam untuk mencari obat apa yang tepat bagi Baginda," jawab pemuda itu.

"Baiklah, kamu kuberi waktu satu malam," jawab raja.

Setelah itu pemuda itu diantar menuju ke kamar yang memang disediakan untuknya. Ia dilayani dengan baik oleh para abdi kerajaan. Keesokan harinya, pemuda itu dipanggil untuk menghadap raja.

"Bagaimana, apakah kau sudah menemukan obatnya?" tanya raja.

"Ampun beribu ampun Baginda. Menurut bintang-bintang yang saya amati semalam, ternyata usia baginda tinggal satu bulan lagi," jawab pemuda shalih itu.

Raja dan semua pengawalnya menjadi kaget bukan kepalang. Seakan-akan mereka tidak percaya apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Benarkah usia raja tinggal sebulan lagi? Dapatkah ia dipercaya? Jika ia berbohong apa untungnya?

"Wahai anak muda? Apa yang kau ucapkan itu benar adanya?" tanya raja dengan wajah pucat.

"Baginda bisa menjadikan saya sebagai jaminan atas perkataan baginda. Silakan baginda menahan saya selama sebulan di sini untuk membuktikan kebenaran ucapan saya. Jika saya salah, baginda boleh memberikan hukuman apapun kepada saya."

Apa yang dikatakan pemuda itu semakin membuat nyali raja menjadi ciut. Ternyata pemuda itu tidak main-main. Ia berani menjadikan dirinya sebagai jaminan atas kebenaran perkataannya.

Setelah itu raja melewati hati-harinya dengan bermuram durja. Setiap hari ia menghitung sisa umurnya. Tiga puluh, dua puluh sembilan, dua puluh delapan, dua puluh tujuh, dan selanjutnya. Ia enggan makan dan minum. Bahkan untuk tidur di malam hari pun ia tidak bisa. Tidak terasa tubuhnya menjadi kurus seakan tak terurus. Rasanya berat meninggalkan dunia ini beserta semua kemewahan yang dimilikinya. Istana yang megah, isteri yang cantik, kekayaan melimpah, dan pengikut yang setia. Ternyata tidak lama lagi semua itu akan ia tinggalkan. Genap dua puluh delapan hari sudah berlalu. Menurut perhitungan tinggal dua hari lagi ia akan didatangi malaikat pencabut nyawa. Ah, betapa menakutkannya.

"Wahai pemuda yang shalih, waktuku tinggal dua hari lagi. Sebelum meninggalkan dunia ini aku ingin bertanya kepadamu, apa yang sebaiknya harus aku lakukan?"

"Baginda, apakah Baginda yakin bahwa usia Baginda tinggal dua hari lagi?" tanya pemuda itu dengan tenang.

"Apakah kamu main-main?" tanya raja tidak mengerti maksud pemuda itu.

"Untuk mengetahui berapa usia hamba saja hamba tidak bisa. Bagaimana mungkin saya bisa mengetahui usia Baginda?"

"Apa maksudmu?" tanya raja itu semakin bingung.

"Saya diundang ke istana ini untuk memberikan jalan keluar agar Baginda tidak semakin gemuk bukan? Saya tidak mempunyai obat dan cara selain ini. Coba Baginda berkaca, apakah Baginda masih segemuk sebelum saya kemari?"

Raja terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Ya, memang ia minta saran agar berat badannya berkurang dan memang saat ini ia sudah tidak segemuk dulu. Berat badannya turun dengan drastis. Dan ini memang yang dari dahulu ia tunggu-tunggu.

"Apakah Baginda mau menghukum saya karena telah mendustai Baginda?"

Raja tersenyum dan berkata, "Tidak. Justru aku akan memberikan hadiah yang besar kepadamu karena kamu telah membantuku menyelesaikan masalahku. Kamu juga telah bisa menyadarkan aku agar memperhatikan nasib rakyat." Akhirnya pemuda itu diberi hadiah yang banyak oleh raja.

  

 

Manusia adalah makhluk yang memiliki keistimewaan, yaitu diberi mandat untuk mengatur alam. Manusia bisa membuat terowongan menembus gunung, bisa membuat pesawat yang bisa digunakan untuk terbang ke angkasa, dan bisa membuat kapal untuk mengarungi samudera. Namun kekuatan manusia itu kalah oleh rasa kantuk. Sehebat apapun orang jika ia sudah mengantuk, maka pudarlah kehebatannya. Namun ternyata rasa mengantuk itu masih kalah oleh rasa takut. Pada malam hari sesudah gempa 27 Mei 2006 yang lalu banyak orang yang tidak bisa tidur. Mereka diliputi kecemasan. Bayang-bayang hadirnya malaikat Izrail untuk mencabut nyawa manusia lewat goncangan bumi tidak pernah pergi dari pikiran. Namun, setelah trauma gempa itu berlalu, orang bisa tidur nyenyak, bahkan sulit untuk dibangunkan.

Begitulah diri kita. Saat kita berada dalam kenikmata, kita lupa bahwa suatu ketika kita pasti mati. Kita lupa bahwa suatu ketika semua yang kita miliki akan dihisab, semua amal yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Saat kita berada dalam kenikmatan dan kesehatan badan, bertakziyah pun tidak mengingatkan kita kepada kematian dan melihat kuburpun tidak mengingatkan kita kepada kefanaan. Dan semua itu bisa menghalang-halangi kita untuk beribadah kepada Allah.

 


Jika doa langsung dikabulkan oleh Allah

Tersebutlah di Bani Israil ada seorang rahib yang sangat tekun beribadah.  Karena ketekunannya itulah maka ia mendapatkan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Ia diberi hak untuk berdoa kepada Allah dan Allah akan segera mengabulkan doanya itu. Namun ia hanya diberi tiga macam permintaan yang bisa langsung dikabulkan oleh Allah.

Sebagai seorang rahib yang senantiasa tekun beribadah dan menjauhi kehidupan duniawi, ia tidak mengajukan satu permohonan pun yang segera dikabulkan di dunia. Ia tahu bahwa kenikmatan dunia ini memang tidak ada ni

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Design by lidahwali.com | Powered by Roudlotul Fatihah |

Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah
Kampung Santri, Kulon Gunung Sentono, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Indonesia 55791
Copyright© 2008 lidahwali.com
Developed By Lidahwali.com