|
Insya Allah sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan 1430 H atau 2009. Kemungkinan besar Ramadhan akan jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009. Kalau menurut hisab memang jatuh pada tanggal tersebut, namun rukyatul hillal akan dilaksanakan Kamis, 20 Agustus 2009 karena saat itu tanggal 29 Sya’ban. Memang kemungkinan besar rukyatul hilal tidak terlihat akan terlihat bulan karena dalam hitungan hisab selisihnya hanya satu derajat. Sehingga 99 persen puasa Ramadhan 2009 ini akan jatuh pada hari Sabtu (22/8). Namun kapan kita akan memulai puasa Ramadhan 2009 ini sebaiknya kita tunggu saja. “Kalau Kamis sore nanti ada yang melihat bulan ya puasanya Jumat, 21 Agustus. Tapi kalau dalam rukyat nanti tidak melihat bulan, ya digenapkan. Jadi hari Sabtu,” ujar Kiai Haji Fuad Riyadi dalam majelis taklim, Selasa (18/8).
Dalam pandangan Kiai Fuad, penentuan puasa Ramadhan dilakukan dengan metode penggabungan antara Hilal (penghitungan matematik) dan rukyatul hillal (melihat bulan secara langsung dengan mata telanjang). “Kalau hanya di Hisab saja, kok rasanya tidak menjalankan Sabda Rasulullah SAW: Mulailah berpuasa karena melihat bulan berhentilah puasa karena melihat bulan. Jadi dihisab, dihitung secara matematik kemudian dibuktikan hitungan itu dengan mata telanjang,” terang Kiai Fuad. Menurut Kiai Fuad sebagaimana disampaikan dalam majelis ngaji di Pondok Pesantren Raudlotul Fatihah, Kampung Santri, Kaki Gunung Sentono, Tambalan, Pleret, Bantul, melihat bulan untuk menentukan datangnya puasa dilakukan dengan mata telanjang tanpa menggunakan alat teropong atau kamera. “Kalau memang dilihat kelihatan ya besuk puasa, kalau nggak ya digenapkan,” tegasnya lagi. Jadi jatuhnya puasa Ramadhan 2009, menurut Kiai, kemungkinan besar hari Sabtu, 22 Agustus 2009. Sambutlah dengan gembira datangnya puasa karena barangsiapa bergembira menyambut bulan ramadhan oleh Allah diharamkan masuk neraka. “Wah, aku gembira banget menyongsong Ramadhan. Menurut kamu mungkin ya, tapi menurut Allah kita nggak tahu.” Karena itu, lanjut Kiai, memohonlah pertolongan selalu kepada Allah agar kita termasuk dalam orang-orang yang hatinya gembira menyongsong bulan ramadhan. Bagaimana wujud kegembiraan menyambut Ramadhan? Caranya gembira menyambut Ramadhan yaitu dengan memperbanyak dan memperbaiki amalan ibadah dan mencegah kemaksiatan. Kata Kiai Fuad, sebuah sabda Rasulullah SAW menerangkan semua amalan ibadah di bulan puasa pahalanya dilipatgandakan disbanding bulan biasa. Begitu juga sebaliknya siapa saja yang berbuat maksiat di bulan puasa, maka dosanya dilipatgandakan. Karena itu, hati-hatilah bermaksiat di bulan puasa. Memperbaiki amalan ibadah misalnya, salat lima waktu dengan baik. Sebaiknya sehabis sahur jangan tidur hingga masuk salat Subuh. Kalau memang terpaksa harus tidur setelah salat Subuh. “Kalau terlambat sahur dan bangunnya waktu subuh, ya terus bangun salat Subuh. Jangan terus tidur karena jengkel terlambat sahur.” Kiai Fuad berkata, jangan pernah tidur setelah sahur karena biasanya akan membuat Salat Subuhnya terlambat. Itulah salah satu wujud kita gembira menghadapi ramadhan. Juga perbanyakan amalan seperti sedekah, menjalankan kesunatan. Dan yang paling penting dan lebih baik adalah mencegah kemaksiatan. Kalau puasa itu jangan mengunjing, berbohong, marah dan lain-lain. Nanti pahalanya hilang. Hanya dapat lapar dan dahaga saja. “Ngrasani (mengunjing), bohong, marah, itu sudah dosa besar. Apalagi di bulan Ramadhan, dosanya dilipatkan lagi walaupun pada malam hari.” Karena itu, Kiai Fuad menyarankan agar selama bulan Ramadhan sebaiknya orang jangan banyak bicara. Biasanya orang mengunjing, bohong atau marah karena banyak bicara. Daripada pada marah, ngrasani, bohong, atau berbuat maksiat, lebih baik tidur. Itulah yang dimaksud tidurnya orang berpuasa menjadi pahala. “Kalau ada kritikan puasa kok tidur terus. Itu bodoh. Karena ada kalanya puasa itu berat. Karena itu puasa dengan tidur, lebih baik daripada tidak. Kalau memang berat puasa dengan aktivitas ya tidurlah. Tidur juga bisa mencegah berbuat maksiat.” *** |