HOME arrow ARTIKEL arrow ARTIKEL RELIGI arrow Antara Seni dan Iman
Tuesday, 07 September 2010
Antara Seni dan Iman
Ditulis oleh administrator   
Sunday, 08 November 2009

Seni itu membebaskan dan sekaligus membangun susunan yang terstruktur dalam bangunan simbol-simbol dan simpul. Layak jika meliputi estetika hingga artistik yang memaparkan sebuah gagasan ide yang tersistem (ideologi), terpetakan dan terbangun. Lumrah jika seni memberikan arah dan peta perjalanan hidup umat manusia dan disebut sebagai sumber ilmu.

 

Istilah ilmu ini disebut dengan kerangka strategi kebudayaan yang selalu mengungkapkan mitologi, kosmologi, teologi hingga menuju wilayah ontologi. Begitulah hingga berlanjut menjelaskan definisi, makna, serta arti yang mengisi segi-segi substansi, fungsional, sekaligus cara operasionalisasinya hingga bagaimana membangun bentuk organisasinya.

 

Kemudian di wilayah into atau mitologi, kosmologi dan teologi yang cenderung membangun ke dalam (into), di ruang hakikat, filsafat dan spiritual. Ruang-ruang into itu membahas hal yang abstrak, tak terjangkau, mitis dengan pengalaman batinnya menjadi terjembatani dengan pola keyakinan interaksi.

Dari sinilah sisi iman dari sebuah seni membangun kehendak “spiritus” yaitu jalinan interaksi kepercayaan. Hingga memasuki wilayah selera. Simpati, kesan, hasrat menuju kehendak estetika dan arteistik dalam mengisi peradaban jaman yaitu kebudayaan manusia.

 

Di wilayah inti dari pada “into” adalah sisi kedekatan dengan fenomena iman terjelaskan secara gamblang dan terbuka. Seperti tawar menawar dalam mitologi, kosmologi dan teologi itu sendiri, karena sisi mitor/ mitis yang telah teretoskan.

Kemudian ada sisi Kosmo yang telah tersusun dan tergugus, sangatlah berbeda pengertian. Chaos yang tidak tersusun dan tergugus. Kemudian sisi Theos yang artinya begitu tak terhingga dan tak terjangkau dan tanpa batas, ruang dan waktu, berupaya untuk dijangkau dalam seni. Sungguh, ternyata seni mampu menjangkau ketiganya. Di ruang hakikat, filsafat, spiritual bahkan mentalitas kejiwaan umat manusia sekalipun.

 

Selanjutnya, dari into dengan sendirinya dengan atau tanpa kesadaran akan melaju kencang menuju wilayah “onto” sebagai seni pembebasan. Dari sinilah iman teruraikan sebagai jalinan kepercayaan antara manusia dengan Hyang tanpa batas, ruang dan waktu. Sangat pantas ketika dijumpai menjadi semacam “ligare” atau bentuk pengikatan dari sebuah pembebasan tersebut sebagai kelahiran epistemologi.

 

Dari sini akan mengenal wilayah re’ligare yang mengisi ruang religiusitas hingga religion (agama), yang mengikat dalam kegiatan ritual atau upacara-upacara sebagai persentuhan interaksi dengan Hyang Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Demikian seni pembebasan yang sekaligus mengikat kembali dalam kolektivitas inilah menjadikan wilayah interaksi itu dengan aktivitas kolektif “Doa” keseharian atau berkomunikasi dengan Hyang Maha Esa. Sepakat sudah seni menjalin hubungan “iman” dari wilayah into yang “spiritus” dalam kebebasan individu manusia di dalam aktifitas hakikat, filsafat dan spiritual menuju “onto”, religiusitas kolektif (bersama-sama dalam ruang yang telah terlembagakan. Menjadi absah di dalam peradaban  kebudayaan manusia ketika wujud akhir fenomena seni dalam “ontologi” itu mengisi substansi iman dalam gerak fungsional, operasional, organisasional  dan organik. Dan peran kolektifitas peradaban manusia sepakat menamai pelembagaan iman itu dengan istilah Agama atau Religion.

 

Nampak sudah pergulatan antara seni dan iman, jika dipandang dalam strategi kebudayaan, terlebih ketika Sang Kyai melukiskan daya cipta, rasa dan karsanya, hingga menjadi perwujudan karya seni yang nyata. Hingga mampu dilihat, dinikmati, disentuk dengan hati maupun dengan pikiran. Semua panca indera menjadi mudah ikut dilibatkan secara kolektif sekalipun. Berbeda ketika di ruang inti yang “INTO” dalam hakekat, filsafat maupun spiritual diungkapkan dalam batas individu (dibatasi hanya diri sendiri yang mengetahui). Sang Kyai setelah memasuki wilayah-wilayah pergulatan diatas, ternyata Sang KYyai mampu masuk di wilayah “Onto”, berhasil dalam misi pembebasan dengan membangun struktur-struktur hingga terbingkai dalam karya seni.(The Real Jogja/joe)

 

Link : http://jogjanews.com/2009/09/16/antara-seni-dan-iman/

 

Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 08 November 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Design by lidahwali.com | Powered by Roudlotul Fatihah |

Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah
Kampung Santri, Kulon Gunung Sentono, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Indonesia 55791
Copyright© 2008 lidahwali.com
Developed By Lidahwali.com