HOME arrow ARTIKEL arrow FATWA KYAI arrow Keep Our Subuh Prayer
Tuesday, 07 September 2010
Keep Our Subuh Prayer
Ditulis oleh laxamana hsin bo   
Friday, 18 December 2009

Dari Jundub bin ‘Abdullah ra berkata, “Rasulullaah saw bersabda,

‘Barangsiapa telah menunaikan shalat subuh, ia berada dalam tanggungan Allah. Maka, engkau janganlah sampai dituntut Allah sebab mengganggu seseorang yang ditanggung-Nya.  Sesungguhnya orang yang dituntut Allah akan bertemu Allah di akhirat dan disungkurkan wajahnya ke dalam neraka Jahanam’.”

(Hadist riwayat Imam Muslim ra,

dikutip Imam an-Nawawi ra dalam Riyadush Shaalihien)

 

 

Maksud mengganggu –kurang lebihnya– tingkah satu pihak ke pihak lainnya, baik ditimpakan maupun tertimpakan, sebagai gangguan yang tidak menyamankan. Gangguan dan ketidak-nyamanan ini kebanyakan ditimbulkan oleh tingkahnya lesan (ucapan pedas, cacian, cercaan, fitnah, gosip dan lainnya). Sayyidina ‘Ali kmj berkata,  “Lidah orang Mukmin berada di belakang hati-nya, sedangkan hati orang munafik berada di belakang lidahnya.”

 

Era salaf (kuna) silam, “gangguan” itu relatif sederhana ketimbang jaman kini yang semakin massif dan destruktif oleh penggunaan media massa, capital-modal, hegemoni politik dan sebagainya. Sekarang, bermacam “gangguan” juga ditimbulkan dari bisnis yang beremisi polusi dengan dampak ketidak-nyamanan bagi pihak lain.

 

Pesantren Roudlotul Fatihah pun mengalami “gangguan” yang ditimbulkan dari pebisnis peternakan ayam potong. Pebisnis tadi mendirikan barak kandang ayam  berisi 10.000-an ekor ayam dengan lokasi sangat dekat Pesantren Roudlotul Fatihah hingga bau busuk tahi ayam menyengat hidung sepanjang waktu disertai ribuan lalat ‘menyerbu’ pondok. Bila bisnis ternak ayam ini berada di belakang hati pebisnisnya, demikian atsar Sayyidina ‘Ali kmj di atas, tentulah kandang ayam ini tidak dibangun di dekat koloni ukhrowi (Pesantren Roudlotul Fatihah). Dan, rupanya hati pebisnis ini  malah berada di belakang bisnisnya. Dampak yang ditimbulkan dari bisnisnya itu  masuk delik “gangguan” bagi kaum Mukmin di pesantren ini yang ditanggung Allah, berkat shalat subuhnya senantiasa terjaga didirikan. “Gangguan” yang ditimbulkan oleh peternakan ayam potong ini niscaya dituntut Allah di akhirat.

 

Saya sendiri ngeri bila dituntut Allah. Saya, semoga tidak ‘ujub menutur ini, beberapa waktu lalu memilih menutup bisnis pengecoran dan rekayasa aluminium (peninggalan mendiang bapak) demi mempertimbangkan emisi asap dan polusi suara yang ditimbulkan industri ini. Emisinya berpotensi mengganggu Mukmin-Mukminat  tetangga saya yang populasinya kini kian padat. Bagaimana bila diantara Mukmin ini ada yang termasuk ditanggung Tuhan, siapa tahu? Mending saya kukut (tutup usaha)  ketimbang dituntut Tuhan di akhirat, atau balasan di dunia berupa azab yang turun justru di saat saya lupa telah berbuat dzalim.

Matan (redaksi) hadist tadi jelas: “mengganggu” (bikin ketidak-nyamanan). Mengganggu itu bentuk lunak dari menyakiti, kiranya belum menyakiti-menyakiti amat. Tarafnya memang segitu, tetapi simak, ‘tarif’ yang Allah berlakukan terhadap pelaku gangguan itu amat dramatik: wajahnya disungkurkan ke dalam api neraka Jahanam. Bila wajah disungkurkan maka seluruh tubuh pun dijungkalkan ke dalam api neraka. Balasan yang amat berat ini menegaskan, Allah Dzat Maha Belas Kasih kepada hamba yang Dia-tanggung sekaligus Dia tak setengah-tengah mengazab orang yang mengusik kenyamanan hamba yang Dia-tanggung. Sabda Nabi saw ini memberi kita pelajaran-pelajaran, sedikitnya dua catatan akan saya tuliskan berikut ini.

 

Pertama, kita hendaknya mentaati sabda nJeng Rasul saw. Kita waspadai diri dari bertingkah sembrono mengganggu orang-orang yang ditanggung Tuhan hingga berakibat kita dituntut Allah. Kewaspadaan diri demikian butuh stamina yang kuat dan panjang. Hanya saja bila kita menjiwai konsekuensinya yang dramatik di akhirat, seraya bersandar pertolongan Allah, niscaya kewaspadaan kita terjaga.

 

Sementara itu, andai saja kita pihak yang diganggu atau terganggu pihak lain, ada baiknya kita menolong pihak pengganggu: mengingatkan bahwa kesembronoan tindakannya akan dituntut Allah di akhirat. Upaya mengingatkan pihak penganggu  hendaknya dengan ungkapan lugas, bukannya demi balas dendam atas gangguannya. Melainkan mencegahkan pihak penganggu dari timpaan azab amat berat di akhirat, bukankah ini ungkapan belas-kasih yang sejati? Membelas-kasihi pihak pengganggu dengan cara itu juga ditempuh Kyai Fuad kepada pebisnis peternakan ayam tadi.    

 

Kedua, diri yang di-tanggung Allah adalah satu privilese yang istimewa –adakah privilese lain yang lebih hebat dari itu? Para mafioso, regime, capo regime dan capo de cepi memiliki privilese ditanggung Godfather di puncak piramid keluarga (organisasi) mafia. Saya membandingkannya dengan keluarga mafia, harap ini jangan disalah-tafsirkan kecuali dalam hal keterkenalan mereka terikat secara solid sebagai sebuah keluarga dengan Don (Tuan) sebagai kepala keluarga yang menanggung. Ada orang memiliki privilese lantaran jadi klien dari patron –dari padrone: tuan– (pejabat, pembesar, bos) yang menanggung. Pun demikian, manusia-mansuia tuan penanggung ini akhirnya juga kekuasaannya terbatas dan tak permanen. Bila demikian, kenapa kita tidak meminati  jadi orang yang ditanggung Allah Tuhan semesta alam (bukan hanya tuannya manusia) dan Maha Pemilik Kerajaan (bukan hanya memiliki keluarga)? Allah Maha Perkasa, Maha Kekal dan Maha Belas Kasih.

 

Imam an-Nawawi rahimahullaah dalam beberapa bab kitab Riyadush Shaalihien menyebutkan jajaran orang-orang yang di-tanggung Allah. Jajaran tadi terutama terdiri para Rasulullaah, Nabiyullaah, Waliyullaah dan Shaalihien (orang-orang shalih). Baiklah, kita mustahil melamarkan diri sebagai rasul ataupun nabi, kerasulan dan kenabian telah ditutup dengan miyos-nya nJeng Nabi saw ke dunia. Menjadi waliy? Wah-wah, kudu ukur baju sendiri: jauh panggang dari api. Tak ada orang menyebut dirinya waliy kecuali waliy setan. Peluangnya, ya, mengangsurkan diri ke keshalihan. Lalu, caranya?       

Kyai Fuad berwasiat saat mengajar ‘ilmu dan ngaji kitab “Riyadush Shaalihien” (Jalan Orang-orang Shaalih), “Hati bergembiralah dapat kabar gembira dari Nabi saw. Beliau bersabda bahwa menunaikan shalat subuh (maksudnya: mendirikan shalat –menunaikannya disertai ‘ilmu, berjamaah dan waktunya tepat) menempatkan hamba berada dalam tanggungan Allah. Penganggit kitab (Imam an-Nawawi rahimahullaah) menisbahkan sabda Nabi saw ini ke Bab : 48 ‘Peringatan Keras bagi Tindakan Menyakiti Orang-orang Shaalih, Orang-orang Lemah dan Orang-orang Miskin’, Imam an-Nawawi ra memaksudkannya sebagai tips bagi kita menuju keshalihan. Dirikanlah shalat subuh dengan sebaik-baik usaha!”

 

Shalat subuh adalah prosesi menghadapnya hamba ke hadlirat Allah Ta’ala saat hari dimulai. Dirikan shalat subuh untuk memulai aktivitas hari, dan dengannya kita mengkaliskan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Bila setiap hari itu kita awali dengan menjauhi tingkah keji-mungkar, kita kiranya berangsur-angsur menuju shalih. Kita berharap Allah berkenan menggolongkan kita bagian dari orang-orang shaalih dan Dia berkenan menanggung diri kita. Pada saat yang sama, kita pun amat gentar bila Dia menggolongkan kita bagian dari orang-orang munafik.

 

Imam Muslim ra pada kesempatan lain menyebutkan bahwa kemunafikan itu seburuk-buruknya tabiat. Kyai Fuad juga mengingatkan bahwa diantara penanda diri yang tercemari sifat munafik itu teledor dalam shalat subuh. Keep our subuh prayer!

Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 29 June 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Design by lidahwali.com | Powered by Roudlotul Fatihah |

Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah
Kampung Santri, Kulon Gunung Sentono, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Indonesia 55791
Copyright© 2008 lidahwali.com
Developed By Lidahwali.com