|
Ya Tuhan, limpahkanlah rahmat ta’zim kepada Kanjeng Nabi saw (Tuan kami) sebanyak bilangan jumlahnya kedermawanan budi baiknya kepada kami –baik yang mulai kami ketahui, yang akan kami ketahui dan tidak mampu kami ketahui– sebagai sahutan kami atas belas budinya yang tidak mungkin kami balaskan
Duhai Kanjeng Nabi saw, Tuan –Junjungan– kami Tuan laksana pusaka yang tersimpan rapi di dalam suatu wadah kokoh yang tertutup rapat. Tak ada anak kunci mampu membuka sepenuhnya pintu keagungan Tuan: bagaimana kata-kata bisa mengungkap keagungan Tuan?
Tuan bukanlah Tuhan ataupun Putera Tuhan, melainkan Insan yang Paling Sempurna. Tuan mempersonifikasi diri dengan Nama-Nama Tuhan sebab Tuan membawa sekaligus semua Nama Illahi dalam satu kesatuan yang menyeluruh. Dan, pada saat yang sama realitas Tuan yang paling dalam –yakni: Realitas Muhammad saw– dan Realitas dari Semua Realitas adalah prinsip yang melahirkan kosmos, terwujudnya dalam Nafas yang Maha Pengasih serta dalam Pena Tertinggi. Maka, bagaimana akal bisa mencapai sepenuhnya dzat yang tiada sesuatupun menyamai dan menyerupai Tuan? Betapapun banyak cara dilakukan orang untuk mencoba mengurai keluhuran Tuan, sampai zaman berakhirpun tiada mungkin orang bisa meliput. Wahai Paduka kami, Adam ‘alaihissalam (bapak jasmani kami) adalah manusia pertama yang Tuhan Ciptakan dengan Tangan-Nya Sendiri. Raga tanah liat itu DIA Tiup dengan Ruh-Nya hingga hidup, lalu Adam ‘alaihissalam mengangkat kepalanya dan melihat di Tiang-Tiang ‘Arasy tertulis lafadz “Laa ilaaha Illallaahu Muhammad Rasululullaah” –Tidak ada Tuhan selain Allah (dan) Muhammad adalah Utusan Allah. Mustahil Tuhan mempersandingkan nama seorang insan dengan Asma-Nya kecuali yang paling DIA Cinta, dia-lah Tuan: insan paling Dicinta Tuhan. Ketika Adam ‘alaihissalam bertobat atas kesalahannya, Tuhan menerima tobatnya berkat ia menyebut haknya Tuan di sisi Tuhan. Lalu Tuhan Berfirman kepada Adam ‘alaihissalam, “...Bila bukan sebab Muhammad (saw), niscaya Aku tidak akan Menciptakan-mu, Adam!” Ampun Paduka, saya mengutip riwayat berikut ini “Telah datang di zamanmu, seorang lelaki dari Bani Hasyim yang digelari Al-Amien. Dia adalah Nabi Akhir Zaman. Jika bukan karena dia, Tuhan tidak sudi Menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Dan jika bukan karena dia, Tuhan tidak akan Menciptakan Adam dan para Nabi dan Rasul. Dialah Baginda-nya para Nabi dan Rasul. Dialah Penutup para Nabi. Akan halnya dirimu, engkau akan mengikutinya. Engkau kelak jadi menjadi khalifah-nya setelah ia wafat. Inilah makna mimpimu (“matahari dan rembulan berada di pangkuan”). Aku menemukan gambaran ciri-ciri dan sifat-sifat Nabi ini dalam Tawrat, Injil dan Mazmur. Sesungguhnya aku membenarkan kerasulannya dan memasuki agamanya. “ Demikian kesaksian terhadap Paduka dari seorang paderi Nasrani di negeri Syam yang setia kepada isi beberapa Al-Kitab dan tanpa menyelisihinya sedikitpun. Sayyidina Abu Bakar ra menganut Islam berkat mendapat hidayah Allah melalui mimpi yang haq dan ditakwilkan dengan murni oleh paderi Nasrani. Paduka mataharinya, khalifah Paduka ini rembulannya. Kanjeng Nabi saw: Junjungan-nya semua Nabi dan Rasul ‘as Musa Kaliimullaah ‘alaihissalam berdo’a, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS Al-Qasas: 24). Yang diminta Musa ‘as adalah sepotong roti untuk dimakan. Sebab, sesungguhnya Musa ‘as biasa hanya memakan daun-daunan yang ditumbuhkan bumi sampai-sampai warna hijaunya tampak membayang di balik perutnya oleh kekurusannya yang sangat dan dagingnya yang hampir luruh. ‘Isa Ruhullaah putera Maryam ‘alaihimussalam biasa menjadikan batu sebagai bantalnya, tanah sebagai tilamnya, mengenakan pakaian yang kasar dan makan makanan yang kasar. Bumbunya adalah lapar. Lampunya di malam hari adalah rembulan. Tempat berteduhnya di musim dingin adalah penjuru dunia. Buah-buahannya dan makanannya adalah apa saja yang ditumbuhkan bumi untuk makanan ternak. ‘Isa ‘alaihissalam tidak memiliki harta yang dapat menarik perhatiannya. ‘Isa ‘alaihisalam tidak dihinggapi ketamakan yang dapat menghinakannya. Kendaraannya adalah dua kakinya. Pelayannya adalah dua tangannya. Bila para Nabi dan Rasul ‘alahimussalam saja zuhudnya menggetarkan demikian, bagaimana lebih dahsyatnya lagi kezuhudan Tuan: Junjungan-nya semua Nabi dan Rasul ‘alahimussalam (mereka menyongsong Tuan pada momentum Mi’raj dengan penghormatan dan berbagai ucapan yang mengabarkan tingginya kedudukan Tuan di sisi Tuhan melebihi siapapun)? Adakah kami pantas mengaku diri umat Paduka sedang hidup kami memperturutkan diri berpaut di dunia? Dimanakah rasa malu kami mengaku umat Paduka, sedang hidup kami menapak pada jejaknya Fir’awn, Hamaan dan Qaaruun yang ingin berlanggeng di dunia? Duhai Kanjeng Nabi saw, Tuan –Junjungan– kami Tuan memandang rendah dunia, mengecilkannya dan menghinakannya. Tuan mengetahui sesungguhnya Tuhan menyingkirkan dunia dari Tuan untuk memuliakan Tuan, dan Tuhan melapangkan dunia bagi selain Tuan untuk menghinakannya. Tuan berpaling dari dunia dengan hati, dan mematikan penyebutannya pada diri Tuan. Tuan menyukai bila perhiasan dunia menjauh dari tatapan mata Tuan dan tak mengambil kekayaan darinya atau berharap tinggal di dalamnya –padahal, sekiranya Tuan menghendaki, Gunung Uhud berubah emas dan menjadi perbendaharaan yang selalu mengikuti ke manapun Tuan pergi. Wahai Penyejuk Mata kami, Tuan kami yang penuh berkah Suatu hari amat terik, Tuan berteduh di teras rumah wanita Yahudi yang membenci Tuan. Saking bencinya, setelah menatap Tuan, ia menutup jendela rumah agar tak melihat Tuan dan menutup telinga agar tidak mendengar suara Tuan. Malaikat Jibril ‘alaihissalam turun menemui Tuan agar menyingkir dari teras rumah itu. Tapi tak berselang kemudian Jibril as turun lagi, “Harap Tuan kembali ke teras rumahnya. Allah memberi hidayah ke Yahudi ini berkat berkah Tuan berteduh di teras rumahnya.” Tuan pun berteduh lagi di sana. Tiba-tiba wanita Yahudi itu menemui Tuan, “Demi Yahwh, engkau tadi orang yang paling kubenci. Kini, demi Allah, tak ada insan yang lebih kucintai daripada engkau.” Ia bersyahadat masuk Islam. Oh, sungguh, Tuhan sangat Mencintai Tuan. Keberkahan melimpahi Tuan. Tuan adalah Pembuka Berkah Tuhan sehingga jadi Penyejuk Mata –qurrota a’yunin– kami. Tuan adalah sebaik-baiknya Berkah, seagung-agungnya Berkah, seindah-indahnya Berkah, seluas-luasnya Berkah, sebersih-bersihnya Berkah, seharum-harumnya Berkah dan Berkah yang paling sempurna. Tuan adalah Berkah yang paling memadai, Berkah yang paling tinggi, Berkah yang paling cukup, Berkah yang paling banyak, Berkah yang paling terhimpun, Berkah yang paling merata, Berkah yang paling kekal dan Berkah yang paling mulia. Paduka adalah Berkah yang paling agung sebagaimana Paduka adalah seagung-agungnya Berkah. Ya Allah Tabaraka wata’ala, Tuhan-nya Tuan kami Aku membenarkan kerasulan Nabi saw, meski aku belum pernah melihat Nabi saw –maka jangan Engkau jadikan itu sebagai sebab terdindingnya aku menatapnya di surga. Tiada nikmat di surga yang membandingi nikmatnya melihat Wajah-Mu, lalu nikmatnya menatap wajah Kekasih-MU, maka karuniailah daku menjadi teman Nabi saw di surga. Wallaahu a’lam bishshawab, Laksamana Hsin Bo |