|
Sebaik-baik dan seindah-indah perbendaharaan adalah ‘ilmu. Ia (‘ilmu) ringan dibawa namun bermaslahat dahsyat. Ia menenangkan di tengah-tengah keramaian dan melipur di saat sendirian. ‘Ilmu itu hiasan bagi orang kaya dan penolong bagi orang fakir, maka pelajarilah ‘ilmu. Sayang umur terlalu pendek untuk mempelajari hal-hal yang baik bagi kehidupan di dunia dan akhirat; karenanya pelajarilah ‘ilmu yang paling penting, lalu ‘ilmu yang penting, dan begitulah seterusnya secara berurutan. Sayyidina ‘Ali kmwj berkata bahwa ‘ilmu terbagi menjadi dua. Pertama, ‘ilmu yang didapat dari mengikuti (mathbuu’). Dua, ‘ilmu yang didapat dari belajar (masmuu’). ‘Ilmu yang didapat dari belajar tidak akan manfa’at bila tidak dilaksanakan, mathbuu’.
Menyimak unggulnya manfa’at yang dicapaikan dari didaktik era salaf, kita untuk menggapaikan ‘ilmu hendaknya mengadopsi disiplin era salaf pula meski kita hidup di era khalaf. Jalannya dengan ngaji, berguru ‘ilmu ke ‘ulama. Jalan ini menempuh sekaligus dua cara pemerolehan ‘ilmu menurut atsar dari Sayyidina ‘Ali kmwj tadi. Jadi, bergurulah ‘ilmu ke ‘ulama, yakni ‘ulama akhirat. Selanjutnya, saya perlu menulis beberapa catatan kecil. Jika menghendaki ‘ilmu dan kebaikannya maka lemparkanlah alat jahil terlebih dulu dari tangan (tukang emas tidak mungkin memulai pekerjaannya, kecuali ia telah melemparkan alat pertanian dari tangannya). Sombong itu kejahilan (kebodohan) bagi para pencari ‘ilmu. Tawadlu’-lah kepada ‘ulama. Sombong itu bagai bukit, yang air hujan tak akan menetap di sana melainkan akan bablas begitu saja. Sebaliknya, tawadlu’ bagaikan lembah yang ke sanalah air hujan dan air-air lainnya akan berhimpun. ‘Ulama memberi kita tetesan ‘ilmu, maka perlakukanlah dengan khusus. Kita janganlah memperlakukan beliau sebagai orang umum. Sesungguhnya, Allah Tabaraka wa Ta’aala memilih orang-orang tertentu, yang kepadanya Dia menitipkan rahasia-rahasia yang tersembunyi dan melarangnya menyebarkan rahasia-rahasia-Nya itu. Ingatlah ucapan seorang laki-laki yang shaalih (Khidlir ‘alaihis salam) pada Musa ‘alaihissalam. Musa ‘alaihissalam sebelum itu berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan padaku ‘ilmu yang benar di antara ‘ilmu-‘ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya, engkau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu, yang kau belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal itu?“ {Al-Qur’an Surat Al-Kahfi (Gua): 66-68}. ‘Ulama akhirat adalah hamba-hamba Allah yang memelihara Ilmu-Nya, menjaga yang dijaga-Nya dan memancarkan mata air ‘Ilmu-Nya. ’Ulama akhirat dan sesamanya saling berhubungan dengan wilaayah (kewalian), saling bertemu dalam kecintaan, minum bersama dengan gelas pemikiran, dan pergi berpisah dengan meninggalkan aroma wangi. Beliau-beliau tidak dicampuri keraguan, tidak pula berkata kotor. Beliau-beliau mengukuhkan pembawaan dan akhlaq, saling mencintai dan saling berhubungan di antara sesamanya. Beliau-beliau adalah keunggulan benih yang telah dipilih, diambil kemudian ditebarkan. ‘Ulama akhirat, dari manusia lainnya, telah dipilahkan oleh penyaringan dan dibersihkan oleh pembersihan. ‘Ulama akhirat adalah Pewaris Risalah Nabi saw. Sungguh, ‘ulama akhirat ke Insan Agung yang mewarisinya itu memiliki majelis khusus dan berhubungan ‘langsung’ meski Nabi saw telah wafat, yang ini tidak mungkin terjangkaukan oleh orang awam. ‘Ulama akhirat adalah lampu Allah di bumi, maka barangsiapa yang Dia Kehendaki kebaikan niscaya akan memperolehkan cahaya (‘ilmu). Kedudukan ‘ulama akhirat laksana pohon yang lebat, kita hendaknya berada di bawahnya dan menantikan dengan setia hingga buahnya jatuh. Sejak kita ngaji ‘ilmu janganlah mengobrolkan dan mengobralkan ‘ilmu dengan orang-orang yang kurang akal. Mereka hanya akan mendustakanmu. Tidak pula ke orang-orang bodoh, karena mereka hanya akan menyusahkan. Bicarakanlah ‘ilmu dengan orang yang bisa menerimanya dengan penerimaan yang baik dan memahaminya. Sesungguhnya, tidak ada kemuliaan seperti ‘ilmu. ‘Ilmu adalah pusaka yang mulia. Cukuplah ‘ilmu sebagai kemuliaan, bahwasanya ia sering diaku oleh orang yang bukan ahli-nya namun senang jika dinisbatkan kepada ‘ilmu. Hai orang-orang khalaf yang khilaf dengan mengaku ahlul ‘ilmu, apakah kalian benar-benar membawanya? Sungguh, ‘ilmu hanyalah bagi yang mengetahuinya, lalu ia mengamalkan dan perbuatan-perbuatannya sesuai dengan ‘ilmu-nya. Kanjeng Nabi saw telah bersabda, akan datang masa ketika sekelompok orang mengaku ahlul ‘ilmu tapi ‘ilmu-nya tak melampaui tulang selangka mereka. Bathiniyah mereka berlawanan dengan dzahiriyah mereka. Perbuatan mereka berlawanan dengan ilmu yang mereka akukan bawa. Akhirnya, Era silam, Allah Tabaraka wa Ta’aala telah mengutus ribuan nabi dan rasul ‘alaihimus salam secara berselang-seling. Masing-masing rasul ‘alaihis salam diutus kepada setiap kaum agar manusia memenuhi janji-janji yang mereka ikrarkan kepada Tuhan. Setiap rasul ‘alaihis salam mengingatkan para manusia akan nikmat-nikmat-Nya yang telah mereka abaikan. Para rasul ‘alaihimus salam ber-hujjah kepada mereka dengan tabligh, membukakan di hadapan mereka kesadaran yang terpendam, dan memperlihatkan Tanda-Tanda Kekuasan-Nya. Kini, Allah Tabaraka wa Ta’aala telah memilih Pewaris Risalah Nabi saw, Bergurulah, ngaji-lah ‘ilmu ke ‘ulama akhirat. Muliakanlah Guru: ‘ulama akhirat. Memuliakan ‘ulama akhirat itu setimpal dengan memuliakan tujuh puluh Nabi ‘alaihimus salam yang di jaman silam Allah turunkan kepada umat manusia. Ya Allah, semoga sebutir debu Cinta-Mu tiba, hingga diriku ini Engkau kumpulkan dengan beliau-beliau di akhirat nanti. Ya Allah, sebutir debu Cinta-Mu kepadaku lebih tinggi daripada cintaku kepada-Mu. (Laksamana Hsin Bo) |